RSS

Sepeda

15 Nov

Oleh Farid

Sebelum berangkat ke Jerman saya tidak membayangkan akan bersepeda. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya memilih menggunakan alat transportasi kebanggan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan di sini, rupanya takdir saya lain. Nyatanya 15 menit lalu, saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah terpakai 10 KM untuk Jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Artinya saya nyepeda terus.

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis J.S Bach, filsof W.Leibniz, F.Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja tapi sesepi Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman yang Desember nanti merayakan ultah ke 600nya. Juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Bethoven, Wagner, Bach dan menjadi baromater musik klasik Eropa hingga sekarang.

Memang tradisi Leipzig kental dengan seni, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang berarsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance dan Baroque.

Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tak tergerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet. Puncaknya 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun jalan meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan sampai 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam sekala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu digelar di sini. Tahun 2009 ini target telah tercapai 80 persen. Konon pemanjaan ini memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya ini, saya mulai mengakrabi sepeda..

Awalnya saya ditakjubkan oleh sistem transportasi di sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern. Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil –sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa dan sebagian kecil Jepang atau Korea—dan sepeda motor yang rata-rata 750cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini. Hingga saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewat: ternyata banyak orang bersepeda! Pikiran langsung melesat ke Jogja, ke Potorono, ke Mas Noor, sahabat tercinta yang menjadi sahabatnya sepeda.

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.
Hal pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti…

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.

Pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti.

Selain ngebut, menurut ukuran Jawa, mereka juga kurang sopan, misal belok atau nyabrang tidak tengok kanan-kiri. Anehnya belum pernah tabrakan. Saya menduga style nyepeda demikian terkait dengan serba teraturnya lalu lintas di sini, yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda yang pernah saya lihat di Leiden dan Amsterdam, orang Jerman tidak bersepeda dengan bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Juga tidak berboncengan. Anak-anak memakai sepeda tanpa kayuh dekat ayah mereka, yang lebih kecil lagi masuk kereta sepeda. Sampai bagian famili bersepeda ini saya teringat kawan di masjid. Ali namanya, orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Ali lagi gencar persiapan pulang ke Indonesia dengan istri dan 2 balitanya. Persiapan serius, karena mereka akan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan istri dan 2 anak. Meski tidak juga paham keganjilan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengagumi. Ceritanya tentang pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, mendesir-desir adrenalin dan mengalirkan kegairahan meski berpuluh kali dia ulangi.

Orang jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya mereka efektif dan efisien. Tapi untuk saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, kurang nyaman dengan ini. Sering kali saya terkaget-kaget disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal perasaan sudah ngebut, presneleng mentok dan ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menentramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawat dan tidak biasa bersepeda. Tapi sebenarnya ini juga alasan yang dicari-cari.

Ketiga, [ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut dan tidak jejer dan jagongan] jalan untuk sepeda sudah ditentukan. Warnanya merah, kira-kira lebar 2 meter, dan haluus. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalan untuk kursi roda desabled person, dan pejalan kaki. Juga punya lampu bang jo sendiri, bentuknya mungil menggemaskan. Karuan saja tidak pernah tabrakan…

Selain itu mobil, bus, bahkan trem suka mendahulukan para pengonthel. Dalam rangka mengejar lampu hijau, saya pernah ngebut di belakang mobil yang akan belok. Perhitungan saya, begitu dia selesai belok, jalan di depan saya terbuka, dan saya akan lewat. Pas pokoknya. Ternyata dia malah berhenti, memberi kesempatan saya lewat dulu…

Begitu pula kalau kita hoby potong jalan, ngebut waton, atau agak ugal-ugalan, mereka akan memberikan jalannya. Nanti polisi yang akan menangani. Ditilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, berkisar 20-30euro (450ribu rupiah). Itu harga sepeda bekas saiya…

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi kala ke Belanda kemarin baru sadar kalau ini berbeda. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini ) modelnya relatif modern dan kental sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya bentuknya tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang mribawani, eksotik, dan ngangeni, yang pernah dipunyai Kakek saya, atau kawan-kawan penggiat sepeda tua.

Sepeda Jerman kesan saya canggih, simple, kuat dan sedikit congkak. Kebayakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak pakai kayuh tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal.

Ibu-ibu dan orang tua beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung atau berbentuk jengki, tapi dari stang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gerigi depan. Dengan begitu ruang antara sadel dan setang terkesan lebar.

Ada pula sepeda untuk orang cacat yang dikayuh pakai tangan. Agak aneh juga adalah sepeda roda empat yang naiknya sambil tiduran. Malah ada jenis yang dinaiki orang tua hampir renta, yang jalannya pakai baterei. Saya tidak tahu yang ini masih sepeda atau bukan.Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikan dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannyanya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan lembut, ini jelas sepeda balap atau gunung. Tapi… kok bentuknya jengki. Kali sepeda wandu, atau entahlah.

Tentang kostum. Meski tidak semua, orang di sini bersepeda dengan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Pemandangan yang hanya sekali saya saksikan di Amsterdam. Di Jalan Kaliurang kadang saya lihat penyepeda seperti ini. Rupanya atlit DIY lagi melatih tanjakan Kaliurang.

Model pakaian resmi begini juga berlaku untuk para pengendara sepeda motor, yang rata-rata motor besar. Jadi baik yang naik sepeda onthel maupun sepeda motor wujudnya seperti pembalap semua. Sudah begitu naiknya kencang tidak karuan. Sampai saya berpikir mereka ini pejalan jauh, pembalap sedang latihan, atau orang biasa yang keluar untuk bersepeda, keburu kondangan, atau apa… Kalau orang biasa dan mau ke kantor atau ke rumah teman, seragam begitu cukup merepotkan.Demikian kesan seadanya tentang sepeda disini. Mohon maklum pemirsa.
Selamat bersepeda.

Leipzig, 10 November 2009

Farid Mustofa adalah kandidat doktor di bidang Sosiologi Agama, Universitas Leipzig
 
1 Comment

Posted by on November 15, 2009 in Pengalaman

 

One response to “Sepeda

  1. warani

    February 3, 2010 at 7:17 pm

    salam kenal

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: