RSS

Kesan Idul Adha di Leipzig

11 Jun

oleh Dinaroe

1 malam sebelumnya…

Sesaat setelah selesai mengerjakan draft presentasi pukul 23.00 malam, segera kulakukan hal-hal yg perlu dipersiapkan menjelang tidurku. Ya benar kawan, PERSIAPAN TIDUR. Terasa aneh memang, bahkan untuk tidur saja harus ada persiapannya. Teringat dulu semasa masih di rumah mungilku nan asri di Aceh sana, hanya merebahkan badan dengan segala posisi yang ku inginkan, cukup sudah untuk memulai ritual suci itu. But, tidak disini kawan, apalagi dimusim yang katanya pepohonan kokoh perkasa saja tertunduk lemah dengan meluruhkan mahkota keindahan daunnya yang berharga, akan menjadi fatal jika aku tak mempersiapkannya dengan baik. Yup, inilah musim gugur kawan.

Segera kukenakan dalaman thermo yang sering disebut orang-orang dengan Long John, tak mengerti mengapa disebut demikian. Kurasa, karena sang pria macho berperawakan bule yang menempel indah di plastik pembungkusnya membuat orang berpikir bahwa John adalah nama yg tepat tuk disandangkan dibanding Mamat, Usop atau Encup. Tak tahulah, yang penting bagiku, aku hanya bisa bersyukur karena si John atau siapapun juga yg telah menciptakan pakaian ini, membuatku mampu untuk bertahan di benua yg menurut ku hanya mengenal 2 musim ini: Musim dingin dan musim sangat dingin.

Tak cukup sampai disitu, celana training berlapis wol dan baju sweater berlengan panjang pun kukenakan diatas dalaman tersebut, diikuti dengan kaus kaki panjang berstandar pemain sepak bola internasional menempel ketat di betisku. Tak cukup puas, kuputar pula tombol pemanas ruangan hingga melewati angka maksimal 5 serta kututup rapat semua jendela serta celah-celah yang memungkinkan udara dapat berlalu lalang dengan bebasnya laksana jalan tol di kota-kota besar sana.

Akhirnya kubentangkan sebuah kain tenunan panjang seukuran karpet kecil pemberian ibuku diatas tempat tidur mungil berukuran 120 x 200 cm tempat biasa ku beristirahat dan merebahkan diri, dengan harapan dapat menambah kehangatan serta mengurangi kerinduanku akan dirinya nun jauh disana. Selimut tipis berbahan wol pun tak lupa kupersiapkan, ditambah sebuah selimut tebal berbahan sintetis bermotif nuansa biru langit. Yeah, kurasa cukup sudah persiapan ku untuk menutup hari dimalam yang Agung ini.

Kau benar kawan, ini adalah malam yg agung, malam 10 Djulhijjah. Malam dimana pada pagi harinya umat muslim yg menunaikan ibadah hajj melakukan Wukuf di padang arafah guna mengingat kembali peristiwa pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi atas sebab mengingkari Allah dan terpedaya bujukan Syetan. Di Jabar Rahmah inilah mereka selama bertahun-tahun memohon ampun kepada Allah hingga akhirnya tobat mereka pun diterima.

Tak salah jika Padang Arafah ini menjadi salah satu rukun haji. Berada disini didalam suasana hangat dan panas terik yg membakar, memberkan sedikit peringatan dan gambaran kepada kita mengenai bagimana nantinya padang Mahsyar. Saat kita semua tanpa membeda bangsa, pangkat atau kedudukan dihimpun untuk menerima pengadilan berdasarkan amalan semasa kita di dunia. Malam ini juga, malam dimana esok harinya seluruh umat muslim dari berbagai belahan dunia akan berkumpul, bersatu dan berjamaah melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat diikuti setelahnya dengan ritual penyembelihan hewan qurban.

Tak terasa hampir 2 lebaran kulalui di perantauan. Tanpa segala tradisi meugang (membeli dan memasak daging beberapa hari sebelum Lebaran), kemeriahan malam lebaran, gema takbir membahana dan tentunya kedua orang tuaku tercinta. 2 lebaran pula kulalui di negara berpenduduk lebih dari 81 juta jiwa dengan hampir 62% nya beragama kristen diikuti oleh Islam, Atheis,Yahudi dan Budha.

Tak perlu lah kuceritakan suka dukanya, karena itu semua adalah pembelajaran dan hikmah yang akan tersimpan dalam sebuah kata yg disebut pengalaman. Tak akan ku temui lagi kesempatan seperti ini, disaat segala latar belakang mayoritas berubah menjadi minoritas baik dari sisi religi maupun asal. Satu hal yg dapat kukatan pada dirimu wahai kawan, syukurilah nikmat iman dan islam yg telah kita miliki selagi kita masih memiliki waktu dan kesempatan untuk menikmatinya. Bersyukurlah kau kawan karena kau mungkin masih bisa dengan begitu mudahnya melaksanakan segala ibadah tanpa ada tekanan atau hambatan, dan jangan sia-siakan kesempatan ini sebagaimana mungkin aku yang tidak begitu mudah melakukannya disini.

———–******—————–

Sebelum tidur ku-cross check kembali jadwal kuliah untuk esok hari. Besar harapan bahwa selama ini aku salah melihat jadwal. Jika bukan aku yang salah melihat jadwal, kuharap jadwalnya lah yang salah memberi informasi kepadaku. Tapi, kenyataan tetap tak berubah. Tetap saja nama profesor itu bertengger dengan indah nya di deretan angka 09.15 pagi.

Hampa sudah harapan untuk melaksanakan ibadah sunnat setahun sekali itu. Apakah tak cukup penderitaan berlebaran dirantau saja yang aku terima, hingga harus kau tambah lagi dengan tidak memberiku kesempatan tuk melaksanakan ibadah sunnat ini wahai kau pemimpin negeri, teriakku miris dalam hati. Tapi apalah daya, Istana negara di Berlin sana tentunya tak kan mampu mendengar lengkingan suara 180Hz ku yang kian parau karna menahan kesedihan.

Namun benarlah bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Salah seorang sahabat sekaligus teman kelasku asal Bangladesh,tak lama kemudian memberitahukan bahwa shalat ied akan dilaksanakan pukul 08.15 pagi. Dipercepat 1 jam dari jadwal sebenarnya, mengingat banyak jamaah lain yang juga harus bekerja dan melakukan aktivitas lainnya di hari tersebut. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kau memberikan kesempatan indah ini kepada hamba-Mu.

Tanpa menunggu lama, kusetel alarm di handphone ku untuk bangun lebih awal esok pagi. Ingin ku membersihkan diri dan berdandan dengan sempurna tuk menyambut hari yg agung itu. Kurencanakan juga sedikit waktu untuk memasak makanan sederhana, sebagai bentuk perayaan hari Ied mubarak ini. Tentu bukan sebuah makanan lengkap berbumbu sebagaimana yang kurasakan saat dikampung halaman dulu. Hanya roti wafel ditambah sedkit gorengan kentang dan telur mata sapi sudahlah cukup sebagai simbol. Tak lupa pula “sop” sayur dan nasi putih ku persiapkan sebagai menu pendamping guna menghadapi beban pelajaran yang harus kuterima sesaat setelah ritual ibadah ini selesai. Dan untuk melepas dahaga, cukuplah air keran sebagai simbol pengganti timun kerok + sirup Marjan. Alhamdulillah…!!

Sebelum melangkah menuju tempat tidur, kuhitung-hitung kembali rencana perjalanan yang akan kutempuh esok hari, agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Waktu adalah hal yang paling krusial di negara berbangsa Aria ini. 1 menit keterlambatan berarti mempersiapkan diri untuk merubah seluruh rencana 15 menit lebih lama. Transportasi disini sangat terpaku pada waktu. Jangan berharap bahwa Tram atau Bus disini seperti angkutan kota yang berseliweran setiap menitnya. Sebaliknya, yang kau dapati tak lebih hanya jalanan/rel kosong sembari duduk termangu di halte sambil menahan dingin yang menusuk tulang menunggu kedatangan mereka pada jadwal berikutnya. Kusarankan agar kau jangan mencobanya kawan, karena aku pernah dan penderitaan hanyalah hadiah yg kau terima.

30 menit waktu yang harus kutempuh dari kediamanku di Kiewerstrasse menuju Hauptbahnhof. Kemudian 15 menit tambahan waktu kubutuhkan untuk menuju Masjid yang terletak di kawasan Leipzig Zentrum Nord itu. Setelahnya, 20 menit adalah waktu minimal yang harus kutempuh untuk menuju gedung perkuliahanku di Bethoovenstrasse dari mesjid Ar-Rahman tersebut. Berarti setidaknya, aku harus berangkat paling telat pukul 07.23 dari wohnung ku dan segera meninggalkan mesjid paling tidak pukul 08.50 pagi. Semoga saja dalam waktu yg singkat ini dapat kulaksanakan ibadah sunnah ini dengan sempurna dan segala amal ibadah ku diterima di sisi Allah SWT.

Segalanya telah dipersiapkan. Tak ada lagi yg mampu keperbuat selain berserah diri kepada Allah. Dengan langkah mantap kututup hari sembari memenjamkan mata dan membaca doa dalam hati. Berharap esok hari akan lebih baik dari hari-hari yg telah terlampaui. Amin…!!

Leipzig, 16/11/10 22:38

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2011 in Renungan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: