RSS

Monthly Archives: July 2011

Jerman Barat vs Jerman Timur

Oleh Anang

 

Tahun 1990 adalah tahun dimana rasa haru dan nafas lega para penduduk jerman timur pecah diseluruh penjuru daerahDeutsche Demokratische Republik (DDR) atau yang lebih dikenal dengan istilah Jerman Timur ini. Rasa sedih karena harus berpisah dengan sanak saudara yang berada di belahan bumi Jerman barat sana, terobati sudah. Kekhawatiran akan keselamatan mereka yang selama ini terbelenggu oleh kokohnya tembok pemisah sepanjang 1378 kilometer-pun lunas seketika.

Ya, tembok yang dibangun oleh pemerintah DDR pada tahun 1961 ini seolah-olah merenggut paksa semua hak asazi manusia yang berada di wilayah Jerman Timur itu. Dilengkapi dengan puluhan senjata otomatis mematikan, kamera dan alat deteksi disepanjang perbatasan yang sewaktu-waktu siap “menyalak” ganas sepersekian detik bersama puluhan butir peluru mematikan setelah menangkap sinyal bagi para penduduk jerman timur yang mencoba melarikan diri ke wilayah barat. Lebih dari 2700 penduduk Jerman Timur, 28 polisi perbatasan dan tentara Jerman Barat serta penduduk jerman barat-pun menjadi korban keganasannya.

Itulah gambaran menyedihkan dimana sebuah negara harus terbagi oleh simbol egoisme seorang

“Der Führer”. Terbagi tidak hanya akan kebebasannya, tetapi juga semua hak-hak dasar kehidupan mereka. Sungguh ironis sekali, tatkala melihat sebuah negara yang hanya tergarisi oleh sebuah tembok kemudian ditakdirkan harus memiliki taraf kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Di wilayah barat orang dengan leluasa berkendara dengan mobil, bisa memakai pakaian yang serba indah dan menyantap makanan dan minuman buatan “Paman SAM”. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Sedangkan melalui lubang kecil dari tembok durjanaitu mereka bisa melihat saudara mereka yang tidak memiliki pilihan lain untuk bisa bertahan hidup selain harus menuruti aturan DDR.

Mereka makan seadanya, tinggal dengan tempat seadanya dan terbelanggu oleh aturan hidup mati yang diterapkan bagi para pembangkang perintah DDR. Disisi lain, sebagian dari mereka merasa nyaman dan senang karena semuanya sudah diatur oleh kota.

Mereka tidak perlu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan begitu juga dengan masa depan sekolah anak-anak mereka sudah diatur oleh pihak kota. Dengan kata lain, semua mendapatkan dengan nilai yang sama. Tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin. Punya uang banyak-pun tetap tidak bisa dipergunakan karena toko-toko didaerah timur hanya memperjual belikan barang-barang itu-itu saja.

Tatkala penduduk jerman barat bisa dengan mudah membeli cat tembok untuk mewarnai rumahnya, saudaranya di jerman timur harus mau bertahan dan hidup dengan rumah yang ala kadarnya. Bukan karena tidak punya uang, tetapi mereka harus mau menunggu puluhan tahun untuk bisa mendapatkan cat tembok pesenan mereka. Mungkin toko-toko saat itu mempunyai Motto yang tidak kalah heboh dengan makanan siap saji sekarang ini. “Pesan sekarang, biarpan anak cucu anda yang menikmatinya”.

Dimulai dengan pergerakan dari warga didaerah Bundesland Sachen dan Sachen-Anhalt. Jumlah penduduk Jerman Timur yang hampir mendekati ratusan ribu itu mulai membuat titk-titik konstentrasi pertemuan. Mereka mulai melangkahkan kaki pertamanya untuk melakukan demonstrasi di kota Leipzig. Dengan semangat seperti nama supermarket terkenal di seluruh jerman, “REWE-REWE RANTAS, MALANG-MALANG PUTUNG”, mereka memberanikan diri melakukan penentangan besar-besaran melawan “Pak Kumis”.

Dengan nada tegas dan amarah yang meluap-luap, saya yakin Hitler akan berusaha keras melawan para demonstran itu persis seperti ekspresi dia saat marah besar tatkala mendengar bahwa Nurdin Halid tidak mau turun dari PSSI.  

http://www.youtube.com/watch?v=FKVCguPwOis

______________________________ ***   _______________________________

Selain tembok pemisah yang terkenal ke penjuru dunia itu, ada beberapa tempat sejarah yang menjadi saksi bisu akan peristiwa itu. Terletak didaerah Eisenachkota kecil didekat Erfurt, Sachen-Anhalt, adalah salah satu tempat perbatasan wilayah barat dan timur saat itu. Tempat ini merupakan lokasi pemeriksaan oleh petugas perbatasan bagi mereka yang menggunakan transportasi darat untuk masuk dan keluar wilayah perbatasan.

Bekas-bekas menara pengawas tinggi menjulang, dan beberapa bangunan tua nan kokoh disertai dengan beton-beton besar semakin menceritakan betapa ketat dan angkernya tempat ini.  Kota ini akan sering dilewati bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Leipzig menuju Frankfurt atau dari Utara ke Selatan. Karena selama ini saya selalu memilih menggunakan transportasi kereta api ICE,maka nama kota Eisenach hanya sepintas mengingatkan saya sebagai stasiun pemberhentian ketiga kereta api tercepat di Jerman tersebut, sebelum masuk ke Stasiun Frankfurt.   

Bermula dari sudah penuhnya tempat duduk kereta api ICE dari Frankfurt menuju Leipzig, maka saya putuskan untuk mencari alternatif transportasi lainnya yang tak kalah cepat, nyaman dengan harga yang ralatif murah melalui fasilitasmitfahrgelegenheit. Sebuah situs online dimana kita bisa menawarkan sekaligus mencari alternatif transportasi dari dan menuju kota diseluruh jerman baik yang menggunakan mobil pribadi ataupun kereta api.

Kita hanya tinggal menghubungi pihak yang menawarkan tempat duduk kosong untuk perjalanan kota tertentu, maka kita bisa ikut dengan menggunakan tiket kereta ataupun mobil pribadi mereka seperti layaknya tuan rumah yang diantar oleh sopirnya.  

Sore itu saya beruntung mendapatkan seseorang yang akan melakukan perjalan dari Frankfurt menuju Berlin. Segera saya hubungi dan melakukan tawar menawar sekaligus penentuan lokasi pertemuan. Kami akhrinya bertemu agak keluar dari stasiun kota, tepat dibawah pohon yang rindang dengan bunga yang masih bermekaran disaksikan oleh kicauan burung-burung yang saling bersautan. Meskipun sopirnya sudah tua, saya putuskan untuk tetap berangkat dari Frankfurt menuju Leipzig dengan menggunakan mobil mercedes benz-nya yang juga sudah relatif tua.

Dengan interior mobil yang masih original buatan tahun 1987 itu, Kamipun mulai berjalan perlahan meninggalkan kota padat penuh dengan bangunan Bank dan industri yang merupakan simbol keuangan dan perekonomian bekas negara “Barbar” itu. Agar perjalanan serasa indah dan tidak membosankan saya mulai membayangkan istri dan anak-anak saya ikut duduk disamping saya. Lamunan saya buyar seketika, tatkala sang driver mulai bertanya sesuatu kepada saya.

Apakah anda tau kearah jalan mana agar bisa masuk ke *Autobahn ?

Autobahn adalah Jalan Tol berisi penuh dengan kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi yang menghubungkan semua kota-kota di negara Uni Eropa.

Nah loe,…

Pertanyaannya sederhana, tetapi menimbulkan sejuta keraguan “akankah perjalanan ini berakhir dengan indah?”. Keringat dinginpun mulai menetes membuat suasana semakin tak menentu tatkala saya tidak menemukan Alat GPS penunjuk arah perjalanan/Tomtom didalam mobilnya. Seketika itu saya langsung memanjatkan doa mudah2an lagunya rif “salah jurusan” tidak menyambangi saya.

Hanya ditemani oleh sang sopir dan beberapa lalat yang beterbangan di dalam mobil, kamipun berusaha mencari jalan untuk bisa masuk ke Autobahn. Tak lama kemudian, Lalat-lalat itu seketika hilang terbawa oleh angin berkecepatan tinggi yang berhembus melalui jendela kaca sang sopir yang sengaja ia buka saat kami sudah berhasil bergabung dengan kendaraan cepat lainnya di Autobahn menuju Leipzig.

Hal-hal aneh mulai saya rasakan dengan laju kendaraan itu. Tak seperti layaknya kendaraan yang berumur 24 tahun lainnya, mobil itu terlihat melaju sangat kencang bahkan nyaris bersaing dengan kendaraan muda lainnya. Saya pun terperanjat tatkala melihat jarum speedometer yang stabil berada dikisaran angka 140-160 Km/jam. Jok mobil yang masih original terbuat dari bahan tekstilBludru itu membuat posisi duduk saya mulai tidak nyaman.

Meskipun demikian, karena kelelahan yang sangadd ditambah dengan alunan musik khas jerman yang kadang diselingi dengan informasi tentang kemacetan lalu lintas-pun berhasil membuat saya sulit mempertahankan kesadaran. Seketika juga, sayapun terbawa masuk ke dalam dunia mimpi dengan posisi duduk menyandar di kursi belakang yang juga memiliki tingkat suspensi kepegasan diatas rata-rata Jok mobil lainnya.

Dengan keadaan tertidur lelap bersama seorang pengemudi yang umurnya sudah mendekati kisaran 70an, saya dibawa melaju kencang dengan mobil tuanya tanpa menggunakan alat penunjuk arah perjalanan. Arah perjalanan yang tidak jelas, jarak pandang yang sudah mulai menurun dan tingkat konsentrasi yang mungkin sudah tidak prima lagi adalah hal yang seyogyanya dihindari oleh setiap pengemudi yang akan bepergian jauh dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba saya terbangun oleh suara yang cukup keras mengganggu tidur saya. Dengan pandangan mata yang masih kabur, saya mendapati keempat kaca jendela di seluruh penjuru pintu mobil terbuka. Angin super kencang-pun masuk dari segala penjuru arah memporak-porandakan kami yang berada didalam. Keadaan kami didalam mobil seketika itu juga berubah menjadi hiruk pikuk…. 

bersambung….

Moh. Nanang HK adalah master student pada fakultas sportmedizin Universitas leipzig, dan atlet nasional cabor atletik 

 

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on July 26, 2011 in Pengalaman

 

Perjuangan Tim PPI Leipzig di Sportfest Berlin

Oleh Arli

Walaupun PPI Leipzig baru terbentuk 2 bulan, namun ternyata tim olahraganya sudah mencetak prestasi. Sportfest Berlin adalah saksinya. Semua ini tak lepas dari perjuangan atlet-atletnya. Bagaimana ceritanya?

Sepintas Sportfest Berlin

Sportfest Berlin adalah event olahraga yang diadakan oleh PPI Berlin. Event ini dilaksanakan antara tanggal 23-24 Juli 2011. Cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan sangatlah bervariasi, diantaranya bulutangkis, mini sepakbola, voli, basket, atletik 4×1100, dan tarik tambang. Kita semua sudah memahami, bahwa tim unggulan seperti PPI Goettingen, PPI Berlin, dan Frada sudah dipastikan akan mendominasi semua event pertandingan. Sebagai tuan rumah, Berlin pun dipastikan akan dapat dukungan penuh dari supporter. Namun, justru posisi ‘underdog’ membuat tim PPI Leipzig berjuang tanpa beban sedikitpun. Justru dengan bertanding tanpa beban inilah, maka prestasi dapat dicetak.

Cabang olah raga yang diikuti

Adapun, dengan keterbatasan SDM yang ada, kami memutuskan untuk mengikuti beberapa cabor. Yaitu Mini sepakbola, Voli, Atletik, dan Tarik tambang. Keterbatasan SDM memang memaksa kami untuk mengambil keputusan ‘overlapping’ atlet cabor, yaitu adanya beberapa atlet yang mengikuti beberapa cabor sekaligus. Hal ini yang harus dievaluasi lebih lanjut, karena atlet yang ‘overlaping’ jelas akan perform kurang maksimal.
Sebagai ‘bayi’ yang baru berumur 2 bulan, jelas tim olahraga PPI Leipzig harus lebih optimum dalam lakukan pemetaan keunggulannya. Alhasil, ada beberapa atlet cabor atletik, yaitu Anang, Dicky, Rafa, dan Ariel, yang mau tidak mau juga mengikuti cabor lain. Sebelum cabor atletik dimulai, mereka berempat sudah bermain mini soccer terlebih dahulu. Walaupun Anang dan Dicky, karena sudah sangat berpengalaman, sama sekali tidak terpengaruh dengan ‘overlapping’ yang sangat menguras stamina ini, namun tidak demikian dengan Rafa dan Ariel. Kondisinya, Rafa dan Ariel harus mengikuti perlombaan atletik, walaupun sudah sangat kecapaian setelah mengikuti cabor mini sepakbola.

PPI Leipzig membawa pulang medali atletik

Alhasil, beberapa saat setelah tim PPI Leipzig ‘kandas’ di cabor mini sepakbola, perlombaan atletik 4×1100 meter dimulai. Seperti apa sih perlombaan atletik ini? Lengkapnya, atletik 4×1100 meter adalah lari estafet dengan menggunakan 4 atlet. Lintasan yang harus dilalui bukalah lintasan yang biasa digunakan pada pertandingan atletik, namun lintasan taman. ‘Landscape’ dari lintasan tersebut sangatlah bervariasi, ada naik turunnya. Memang, dari perpektif atletik, lintasan tersebut sangatlah menantang. Harus sangat memahami medan untuk menaklukkannya.
Alhasil, perlombaan atletik dimulai dengan lari satu-satu. Jadi tidak semua pelari akan melintasi lintasan, tapi dilepas satu persatu. Di tim leipzig, Dicky memulai sebagai pelari pertama, dan mencetak waktu 3 menit 48 detik. Sementara Anang menjadi pelari kedua, dan mencetak waktu 4 menit 11 detik. Secara kumulatif, apa yang dicapai kedua pelari awal ini sudah sangatlah luar biasa, seperti apa yang pernah mereka capai di event PON dan SEAGAMES. Namun, tibalah waktu bagi pelari ketiga, yaitu Rafa. Sewaktu Rafa lari, kamipun menunggu dia mencapai finish. Namun, 3 menit berlalu, dan 4 menit berlalu, dan tidak sampai-sampai juga. Akhirnya Dicky inisiatif untuk mengecek posisi Rafa, dan ternyata dia sudah mengalami kecapaian yang amat sangat. Akhirnya, setelah berjuang tertatih-tatih, Rafa dapat mencapai garis finish pada menit ke 5. Hal yang sama juga terjadi pada Ariel, dan dia juga tertatih-tatih sebagai pelari terakhir. Dengan perjuangan keras, akhirnya Ariel dapat mencapai finish pada waktu 4 menit 40 detik. Sewaktu tim leipzig selesai berlari, dan mengamati tim lawan, awalnya kami sudah pesimis akan mendapatkan medali. Namun, ternyata tim leipzig tetaplah mendapatkan medali perak. Bagi kami, ini adalah hal yang harus sangat disyukuri, sebab sebagai ‘underdog’ tidak memasang target muluk-muluk. Medali perak ini bisa didapat, tidak lepas dari perjuangan keempat atlet kita, dan juga persiapan latihan yang cukup.

Pemetaan di cabor lain

Selesai dengan Atletik, tim leipzig mengikuti perlombaan voli. Pada hari pertama, Leipzig dapat menumbangkan tim brandenburg. Namun di hari kedua, terjadi kekurangan pemain. Alhasil Pertandingan voli antara PPI Leipzig versus Berlin dan kemudian Zittau, dibantu oleh Bli Made dari Thurigen. Kita menang voli melawan brandenburg dan zittau, dan kalah melawan Berlin 1. Namun secara kumulatif poin tidak mencukupi untuk memasuki babak utama.
Namun, tim leipzig tetap mendapatkan kehormatan dalam bentuk lain. Anang dan Dicky menjadi wasit pertandingan final voli putera antara PPI Goettingen versus Frada. Mereka berdua pun sudah diminta untuk menjadi wasit di event sportfest mendatang. Permintaan ini datang langsung dari panitia sendiri.
Kami juga memutuskan mundur dari tarik tambang, karena tim sudah sangat kecapaian.

Optimasi cabor kedepan

Perlu optimalisasi sdm, agar tidak terjadi overlapping cabor. Tumpang-tindih inilah yang sebabkan cabor yang diikuti sama sekali tidak dapat tampil secara optimum.
Meningkatkan kekompakan secara internal (ke dalam leipzig) dan eksternal (ke seluruh wilayah Sachsen dan Sachsen-Anhalt). Kekurangan sdm atlet harus secara dibenahi, dengan tingkatkan kekompakan. Harus diupayakan latihan secara reguler terhadap cabor dimana kita punya potensi (voli dan atletik), dan dilakukan pemetaan dan pembinaan lebih lanjut terhadap cabor lain.
Perlu ada tim supporter yang baik. Keberhasilan Goettingen, Berlin, dan Frada juga dikarenakan mereka memiliki basis supporter. Leipzig harus bekerja keras untuk optimalisasi tim supporternya.

Ucapan Terima Kasih

Kepada Akang Dicky, yang khusus mendatangi Leipzig untuk membela tim kami.
Kepada Bli Made (Thuringen) atas bantuannya di Voli Putera.

Penulis adalah Penggemar Olah Raga

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2011 in Pengalaman

 

Tags:

Surat dari Ibunda

Oleh Dinaroe

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi hari waktu Jerman. Namun suasana masih terasa gelap dan kelabu layaknya subuh hari di Indonesia. Mentari pagi masih bersembunyi malu memancarkan sinar jingganya diantara celah awan-awan mendung yang bergantung pilu. Menandakan musim gugur telah tiba tuk mengisi waktu.

Hanya 10 menit lagi waktu yg tersisa bagiku untuk men-shut down komputer, mematikan lampu-lampu kamar, memakai sepatu dan mengejar Bus Linie 2 yg selalu dengan gagahnya menunggu di tiap menit ke-10 di setiap jamnya. Tak ada waktu bagiku tuk bersantai dan berleha, jika tak ingin melihat kepulan asapnya yg melambai dan berlalu dengan ponggahnya dalam hitungan detik. Yaah typisch Deutsch teman-temanku menyebutnya.

Rutinitas standar yg kulakukan; meng-log out Facebook, mematikan Yahoo messenger dan menutup account email -ku. Semua serba terurut, teratur dan tertib. Tak ada alasan pasti mengapa aku harus menguruti seperti itu, tapi entahlah, mungkin hanya kebiasaan saja. Namun, aku baru merasakan bahwa kebiasaan ini mendatangkan pengaruh besar bagi kehidupanku, pagi ini misalnya.

1 ungelesen email (1 email belum dibaca) tercetak tebal di halaman yahoo ku. Aahh.., palingan hanya sebuah spam atau iklan-iklan yg ngga jelas juntrunganya yg hanya menghambat kepergianku menuju tempat les pagi ini. Sempat tak kuperdulikan dan segera ku arahkan cursor laptop ku ke tulisan Abmelden (Log out) di pojok kanan atas.

Namun benar kata orang, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu penasaran. Tanpa memindahkan tangan dari Pointing Device, kugeser kursor itu ke arah Posteingang (kotak masuk) di bagian kiri tengah dan meng-klik dua kali disana.

Von Bunda Nahrasiah, Betreff ANAKKU DINAROE tercantum disana. Sempat kutertegun sejenak, sebelum sempat melihat isi email itu. Bukan sekali dua kali sih sebenarnya ibundaku mengirim email kepadaku, namun tidak pernah dengan judul yang mengandung sarat makna seperti ini.

Jalan-jalan, makan-makan, tingkah polah ayahku di rumah, tetangga, dan teman-teman kantor bundaku serta masih banyak tema-tema ringan lainnya adalah “sarapan” email yang sering kami sajikan tuk melepas rasa rindu dan kesepian yang membuncah di dada. Bukan tidak ada tema-tema serius yang kami perbincangkan, namun biasanya pasti berhubungan dengan tema-tema yg telah kusebutkan sebelumnya. Itulah bundaku, yg selalu menganggap

semua tema adalah “ringan”, bahkan untuk “beban” hidup yang ada didirinya sendiri.

Tanpa menunggu lama, tanpa memperdulikan bus yang sudah menunggu di Halte, tanpa
mengingat teman-teman lain yg mungkin sedang bercanda ria sembari bergerak menuju
Bus, kubuka email itu:

ANAKKU…………
Bila bunda boleh memilih Apakah bunda berbadan langsing atau berbadan besar karena
mengandungmu;
Maka bunda akan memilih mengandungmu. ..
Karena dalam mengandungmu bunda merasakan keajaiban dan kebesaran Allah.

Engkau hidup di perut bunda. Engkau ikut kemanapun bunda pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung bunda berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim bunda ketika engkau merasa tidak nyaman, karena kecewa dan
berurai air mata…

ANAKKU…
Bila boleh memilih apakah harus operasi caesar, atau bunda harus berjuang melahirkanmu;
Maka bunda memilih berjuang melahirkanmu.
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat bunda
rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum diantara
peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa bunda ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia .Saat itulah…
Saat paling membahagiakan. Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, berat
badanmu 4 ½ kg, tubuhmu yg sempurna.

Mendengarkan Abahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di
telinga mungilmu

ANAKKU…
Bila bunda boleh memilih apakah bunda berdada indah, atau harus Bangun tengah malam
untuk menyusuimu;
Maka bunda memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu bunda telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan
tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada bunda dalam kantuk bunda
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa merasakan….

ANAKKU… Bila bunda boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka bunda memilih bermain puzzle denganmu…..

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan bunda, engkau merasa sepi dan merana .Maka maafkanlah nak…
Maafkan bunda…Maafkan bunda… Percayalah nak, bunda sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak… Sepi dan ranamu adalah sebagian duka bunda
Percayalah nak… Engkau akan selalu menjadi belahan nyawa BUNDA…dan PAPA

Banda Aceh, 22 September 2010
LOVE U so much

18 menit waktu telah berlalu dari pukul 7 dipagi itu; 8 menit pula waktu telah berlalu
semenjak Bus linie 2 itu merayap pergi meninggalkan halte, selama itu pula aku menitiskan
buliran kecil air mata di kedua belah pipiku. Tak ada kata yg terucap, tak ada bagian tubuh
yg bergerak, hanya pandangan kosong menghampar keluar jendela.
“Love u so much too, Bun…” lirihku lembut bersahaja dan tersenyum bahagia.

Sambil menyeka buliran air mata yang mengalir manja dipipiku, kupersiapkan kembali
peralatan belajarku. Terlihat bahwa hari ini lebih indah dan cerah dari pada biasanya. Tak
tahu mengapa, mungkin karena keyakinan bahwa bunda-ku kan selalu ada dibelakangku dan
selalu mengiringi setiap langkahku.

May Allah always bless u and get healthy soon Bun..!!

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
1 Comment

Posted by on July 13, 2011 in Pengalaman

 

Nostalgia Cinta Monyet Sang Kopral

oleh Lena

*Tidak seorangpun yang menghitung hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Namanya Maria, gadis cilik anak kumpeni Belanda yang tinggal di Jawa pada masa sebelum perang dunia dua. Gadis berambut blonde yang merasa memiliki tanah ini, ‘Indonesia’ yang dahulu bernama Hindia Belanda. Gadis cilik yang merasa tanah ini adalah tanah airnya.

Waktu itu kira-kira tahun 1930 saat Maria sudah bersekolah di gimnasium, Malang, Jawa Timur. Pada tengah malam yang mencekam di rumahnya di Onderneming gula, Sempalwadak, orang tuanya kedatangan tamu yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa di klampok JawaTengah. Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang disamarkan dan dengan suara lirih, sebuah tanda bagi Maria bahwa dia tidak boleh mengerti maksud dari percakapan itu.

Sebelumnya Maria sudah pernah mendengar tentang PID ‘Politieke Inlichtingen Dienst’ dalam struktur Hindia Belanda waktu itu. Pertanyaan tentang fungsi dan wewenang PID dan semua istilah yang pernah didengarnya tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas. Di umurnya saat itu Maria hanya bisa menyimpan semua pertanyaan  itu di benaknya sampai ia tertidur di sebuah ranjang besi khas Eropa berkelambu putih.

Seperti masa kecil pada umumnya,hari-hari Maria diisi dengan belajar dan bermain. Walau sering dirinya terganggu karena harus berpindah dari Onderneming gula yang satu ke Onderneming gula yang lain. Masa-masa adaptasi dengan lingkungan dan kawan lah yang dianggapnya cukup sulit.

Seperti pagi itu, hari pertamanya sejak ia naik kelas empat. Hari pertamanya belajar di Tulungagung, Jawa Timur.Bersama dengan beberapa anak kumpeni yang lain ia menaiki lori dari  Onderneming Mojopanggung menuju kesekolahnya. Tatapan-tatapan asing yang sudah biasa ia terima dari kawan-kawan barunya membuatnya agak canggung, tapi ia selalu berhasil menutupinya. Bibirnya  selalu menyunggingkan senyuman. Senyuman persahabatan.

Tak banyak yang bisa ia lakukan di dalam lori yang sempit itu. Hanya sesekali menggeser tubuh kekanan dan kekiri atau menekuk kaki barang sesaat. Sebenarnya lori ini dipergunakan untuk mengangkut timbunan batang tebu, tapi karena anak-anak kumpeni dan antek-anteknya sangat membutuhkan alat transportasi maka ada beberapa lori yang dipagari dengan kawat dan seng sebagai atapnya. Hal itulah yang membuat suasana lori saat pulang sekolah panas tak terkira. Jaman itu ternyata adakalanya menjadi anak seorang kumpeni sangatlah sengsara. Bisa dibayangkan jika kehidupan anak kumpeni dan antek-anteknya pada jaman itu lumayan sengsara. Lalu bagaimana dengan masyarakat pribumi?. Orang-orang yang tidak bisa mengelak dari takdir, orang-orang haknya dirampas, diinjak-injak dan tidak dihargai. Tapi mereka memilih untuk setia pada negeri ini atau bisa jadi karena mereka tak punya peluang, karena sebenarnya bangsa ini menyimpan bibit-bibit penjilat.

Maria sering kali berhayal bisa bermain dan bercakap-cakap dengan anak-anak pribumi, yang menurutnya tidak mempunyai beda. Tapi entah kenapa hal itu tidak pernah terjadi selama hidupnya.Bahkan pada waktu itu ia tidak berpikiran untuk menanyakan mengapa ada sekolah dasar Belanda, sekolah pribumi atau sekolah desa dan sekolah pribumi berbahasa Belanda atau sering disebut HIS.

Lori terus melaju melewati sawah,perkampungan dan kebun tebu. Maria memeluk tas rajut buatan ibunya, mematuk-matukkan sepatunya ke lantai lori dan matanya berkeliaran liar mencari sesuatuyang menarik. Di hamparan sawah yang sepi sesosok lelaki kecil yang mungkin sebaya dengannya, terlihat sedang mencari-cari sesuatu di tanah. Kulitnya agak gelap, bertelanjang dada dan memakai ikat kepala. Bunyi lori yang ditumpangi Maria dan kawan-kawannya menyita perhatiannya. Matanya tepat memandang mata biru Maria. Wajahnya lugu, takjub seperti melihat sesuatu jatuh dari langit.Entah kenapa Maria mendadak melambaikan tangan dan tersenyum pada bocah kampung itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bocah itu pun melambaikan tanyannya ke arah Maria, bukan hanya dengan senyum, tapi bahkan dengan tawa riang seolah ia mendapatkan sesuatu yang berharga.

Beberapa orang akan datang untuk sekedar mewarnai, mengaduk-aduk hidup kita, meninggalkan kenangan dan pergi dan bahkan banyak yang tak kembali. Itu lah hidup. Orang yang paling bertanggungjawab atas hidup kita adalah kita sendiri. Kalau dalam film merekalah figurannya dan kita adalah pemeran utamanya. Mereka tidak mungkin menyelesaikan semua skenario, karena mereka bukan pemeran utamanya, tapi kita. Karena ituadalah skenario kita. Begitu pula dengan mereka, kita lah figurannya dan merekalah pemeran utamanya, merekalah yang harus menyelesaikan semuanya sampai akhir,karena itu adalah skenario mereka. Begitulah kita, seperti cerita. Tiap-tiap kita adalah kisah.

Lalu bagaimana dengan Kopral joko?,Bocah kampung yang dahulu bertemu dengan Maria anak si kumpeni Belanda.Ternyata Maria hanya datang untuk mengaduk-aduk hidupnya dan pergi, tak pernahkembali. Maria mungkin sudah lupa dengan kejadian puluhan tahun itu. Dia tidak pernah tau lambaian tangan dan senyumnya meninggalkan kenangan mendalam bagiJoko. Bagi Joko tatapan mata birunya ‘sesaat untuk selamanya’. Maria tidakpernah tau bahwa, bocah kampung itu menjadi sulit tidur gara-gara selaludibayang-bayangi senyum manisnya, Maria tidak pernah tau bahwa bocah kampungitu sering melamun dan tersenyum sendiri jika teringat pertemuan dengannya danMaria tidak pernah tau jika sampai sekarang pun bocah kampung itu masih dapatmengingat wajahnya yang elok dengan jelas. Bocah kampung itu telah jatuh cintapada Maria…, cinta monyetnya…

“Ini Pak nasinya…”, seorangmahasiswa dengan jas almamater berwarna coklat muda yang mungkin adalah salahsatu panitia menghampirinya.

Kopral Joko terhenyak darilamunannya. Wajahnya terlihat sangat lelah sesaat setelah upacara kemerdekaan,tapi semangat darah juangnya masih tetap mengalir di balik kulitnya yang makinkusut dan keriput.

“Maturnuwun nak…”, si Kopralmenerima sebuah bungkusan nasi dan segelas air mineral yang diberikan mahasiswaitu. Wajahnya tersenyum tulus ikhlas, wajah surga…, dan seperti biasa sesaatsetelah itu dia terlupakan oleh kita, anak-anak jaman.

Kawan… mengapa kita selalumemusatkan perhatian pada mereka, orang-orang super, tokoh-tokoh politisi dansosok-sosok yang disorot ramai karena prestasi mereka?, oke saya setuju denganprestasi, tapi bagaimana dengan mereka???, mereka yang memberikan yang terbaikyang mereka punya untuk kita, tapi tidak pernah menuntut pengakuan, hadiah ataupenghargaan, apa lagi ketenaran. Kawan….,

bagaimana dengan mereka?????????????!!!!!!!!!!.

*Tidak seorangpun yang menghitunghitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Lena Citra Manggalasari adalah mahasiswa master pada technische universitaet dresden. Jurusan vocational education and personnel capacity building. Berada di leipzig untuk mengikuti program INTERDAF Deutsch Kurs

 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2011 in Renungan