RSS

Nostalgia Cinta Monyet Sang Kopral

03 Jul

oleh Lena

*Tidak seorangpun yang menghitung hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Namanya Maria, gadis cilik anak kumpeni Belanda yang tinggal di Jawa pada masa sebelum perang dunia dua. Gadis berambut blonde yang merasa memiliki tanah ini, ‘Indonesia’ yang dahulu bernama Hindia Belanda. Gadis cilik yang merasa tanah ini adalah tanah airnya.

Waktu itu kira-kira tahun 1930 saat Maria sudah bersekolah di gimnasium, Malang, Jawa Timur. Pada tengah malam yang mencekam di rumahnya di Onderneming gula, Sempalwadak, orang tuanya kedatangan tamu yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa di klampok JawaTengah. Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang disamarkan dan dengan suara lirih, sebuah tanda bagi Maria bahwa dia tidak boleh mengerti maksud dari percakapan itu.

Sebelumnya Maria sudah pernah mendengar tentang PID ‘Politieke Inlichtingen Dienst’ dalam struktur Hindia Belanda waktu itu. Pertanyaan tentang fungsi dan wewenang PID dan semua istilah yang pernah didengarnya tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas. Di umurnya saat itu Maria hanya bisa menyimpan semua pertanyaan  itu di benaknya sampai ia tertidur di sebuah ranjang besi khas Eropa berkelambu putih.

Seperti masa kecil pada umumnya,hari-hari Maria diisi dengan belajar dan bermain. Walau sering dirinya terganggu karena harus berpindah dari Onderneming gula yang satu ke Onderneming gula yang lain. Masa-masa adaptasi dengan lingkungan dan kawan lah yang dianggapnya cukup sulit.

Seperti pagi itu, hari pertamanya sejak ia naik kelas empat. Hari pertamanya belajar di Tulungagung, Jawa Timur.Bersama dengan beberapa anak kumpeni yang lain ia menaiki lori dari  Onderneming Mojopanggung menuju kesekolahnya. Tatapan-tatapan asing yang sudah biasa ia terima dari kawan-kawan barunya membuatnya agak canggung, tapi ia selalu berhasil menutupinya. Bibirnya  selalu menyunggingkan senyuman. Senyuman persahabatan.

Tak banyak yang bisa ia lakukan di dalam lori yang sempit itu. Hanya sesekali menggeser tubuh kekanan dan kekiri atau menekuk kaki barang sesaat. Sebenarnya lori ini dipergunakan untuk mengangkut timbunan batang tebu, tapi karena anak-anak kumpeni dan antek-anteknya sangat membutuhkan alat transportasi maka ada beberapa lori yang dipagari dengan kawat dan seng sebagai atapnya. Hal itulah yang membuat suasana lori saat pulang sekolah panas tak terkira. Jaman itu ternyata adakalanya menjadi anak seorang kumpeni sangatlah sengsara. Bisa dibayangkan jika kehidupan anak kumpeni dan antek-anteknya pada jaman itu lumayan sengsara. Lalu bagaimana dengan masyarakat pribumi?. Orang-orang yang tidak bisa mengelak dari takdir, orang-orang haknya dirampas, diinjak-injak dan tidak dihargai. Tapi mereka memilih untuk setia pada negeri ini atau bisa jadi karena mereka tak punya peluang, karena sebenarnya bangsa ini menyimpan bibit-bibit penjilat.

Maria sering kali berhayal bisa bermain dan bercakap-cakap dengan anak-anak pribumi, yang menurutnya tidak mempunyai beda. Tapi entah kenapa hal itu tidak pernah terjadi selama hidupnya.Bahkan pada waktu itu ia tidak berpikiran untuk menanyakan mengapa ada sekolah dasar Belanda, sekolah pribumi atau sekolah desa dan sekolah pribumi berbahasa Belanda atau sering disebut HIS.

Lori terus melaju melewati sawah,perkampungan dan kebun tebu. Maria memeluk tas rajut buatan ibunya, mematuk-matukkan sepatunya ke lantai lori dan matanya berkeliaran liar mencari sesuatuyang menarik. Di hamparan sawah yang sepi sesosok lelaki kecil yang mungkin sebaya dengannya, terlihat sedang mencari-cari sesuatu di tanah. Kulitnya agak gelap, bertelanjang dada dan memakai ikat kepala. Bunyi lori yang ditumpangi Maria dan kawan-kawannya menyita perhatiannya. Matanya tepat memandang mata biru Maria. Wajahnya lugu, takjub seperti melihat sesuatu jatuh dari langit.Entah kenapa Maria mendadak melambaikan tangan dan tersenyum pada bocah kampung itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bocah itu pun melambaikan tanyannya ke arah Maria, bukan hanya dengan senyum, tapi bahkan dengan tawa riang seolah ia mendapatkan sesuatu yang berharga.

Beberapa orang akan datang untuk sekedar mewarnai, mengaduk-aduk hidup kita, meninggalkan kenangan dan pergi dan bahkan banyak yang tak kembali. Itu lah hidup. Orang yang paling bertanggungjawab atas hidup kita adalah kita sendiri. Kalau dalam film merekalah figurannya dan kita adalah pemeran utamanya. Mereka tidak mungkin menyelesaikan semua skenario, karena mereka bukan pemeran utamanya, tapi kita. Karena ituadalah skenario kita. Begitu pula dengan mereka, kita lah figurannya dan merekalah pemeran utamanya, merekalah yang harus menyelesaikan semuanya sampai akhir,karena itu adalah skenario mereka. Begitulah kita, seperti cerita. Tiap-tiap kita adalah kisah.

Lalu bagaimana dengan Kopral joko?,Bocah kampung yang dahulu bertemu dengan Maria anak si kumpeni Belanda.Ternyata Maria hanya datang untuk mengaduk-aduk hidupnya dan pergi, tak pernahkembali. Maria mungkin sudah lupa dengan kejadian puluhan tahun itu. Dia tidak pernah tau lambaian tangan dan senyumnya meninggalkan kenangan mendalam bagiJoko. Bagi Joko tatapan mata birunya ‘sesaat untuk selamanya’. Maria tidakpernah tau bahwa, bocah kampung itu menjadi sulit tidur gara-gara selaludibayang-bayangi senyum manisnya, Maria tidak pernah tau bahwa bocah kampungitu sering melamun dan tersenyum sendiri jika teringat pertemuan dengannya danMaria tidak pernah tau jika sampai sekarang pun bocah kampung itu masih dapatmengingat wajahnya yang elok dengan jelas. Bocah kampung itu telah jatuh cintapada Maria…, cinta monyetnya…

“Ini Pak nasinya…”, seorangmahasiswa dengan jas almamater berwarna coklat muda yang mungkin adalah salahsatu panitia menghampirinya.

Kopral Joko terhenyak darilamunannya. Wajahnya terlihat sangat lelah sesaat setelah upacara kemerdekaan,tapi semangat darah juangnya masih tetap mengalir di balik kulitnya yang makinkusut dan keriput.

“Maturnuwun nak…”, si Kopralmenerima sebuah bungkusan nasi dan segelas air mineral yang diberikan mahasiswaitu. Wajahnya tersenyum tulus ikhlas, wajah surga…, dan seperti biasa sesaatsetelah itu dia terlupakan oleh kita, anak-anak jaman.

Kawan… mengapa kita selalumemusatkan perhatian pada mereka, orang-orang super, tokoh-tokoh politisi dansosok-sosok yang disorot ramai karena prestasi mereka?, oke saya setuju denganprestasi, tapi bagaimana dengan mereka???, mereka yang memberikan yang terbaikyang mereka punya untuk kita, tapi tidak pernah menuntut pengakuan, hadiah ataupenghargaan, apa lagi ketenaran. Kawan….,

bagaimana dengan mereka?????????????!!!!!!!!!!.

*Tidak seorangpun yang menghitunghitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Lena Citra Manggalasari adalah mahasiswa master pada technische universitaet dresden. Jurusan vocational education and personnel capacity building. Berada di leipzig untuk mengikuti program INTERDAF Deutsch Kurs

 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2011 in Renungan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: