RSS

Surat dari Ibunda

13 Jul

Oleh Dinaroe

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi hari waktu Jerman. Namun suasana masih terasa gelap dan kelabu layaknya subuh hari di Indonesia. Mentari pagi masih bersembunyi malu memancarkan sinar jingganya diantara celah awan-awan mendung yang bergantung pilu. Menandakan musim gugur telah tiba tuk mengisi waktu.

Hanya 10 menit lagi waktu yg tersisa bagiku untuk men-shut down komputer, mematikan lampu-lampu kamar, memakai sepatu dan mengejar Bus Linie 2 yg selalu dengan gagahnya menunggu di tiap menit ke-10 di setiap jamnya. Tak ada waktu bagiku tuk bersantai dan berleha, jika tak ingin melihat kepulan asapnya yg melambai dan berlalu dengan ponggahnya dalam hitungan detik. Yaah typisch Deutsch teman-temanku menyebutnya.

Rutinitas standar yg kulakukan; meng-log out Facebook, mematikan Yahoo messenger dan menutup account email -ku. Semua serba terurut, teratur dan tertib. Tak ada alasan pasti mengapa aku harus menguruti seperti itu, tapi entahlah, mungkin hanya kebiasaan saja. Namun, aku baru merasakan bahwa kebiasaan ini mendatangkan pengaruh besar bagi kehidupanku, pagi ini misalnya.

1 ungelesen email (1 email belum dibaca) tercetak tebal di halaman yahoo ku. Aahh.., palingan hanya sebuah spam atau iklan-iklan yg ngga jelas juntrunganya yg hanya menghambat kepergianku menuju tempat les pagi ini. Sempat tak kuperdulikan dan segera ku arahkan cursor laptop ku ke tulisan Abmelden (Log out) di pojok kanan atas.

Namun benar kata orang, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu penasaran. Tanpa memindahkan tangan dari Pointing Device, kugeser kursor itu ke arah Posteingang (kotak masuk) di bagian kiri tengah dan meng-klik dua kali disana.

Von Bunda Nahrasiah, Betreff ANAKKU DINAROE tercantum disana. Sempat kutertegun sejenak, sebelum sempat melihat isi email itu. Bukan sekali dua kali sih sebenarnya ibundaku mengirim email kepadaku, namun tidak pernah dengan judul yang mengandung sarat makna seperti ini.

Jalan-jalan, makan-makan, tingkah polah ayahku di rumah, tetangga, dan teman-teman kantor bundaku serta masih banyak tema-tema ringan lainnya adalah “sarapan” email yang sering kami sajikan tuk melepas rasa rindu dan kesepian yang membuncah di dada. Bukan tidak ada tema-tema serius yang kami perbincangkan, namun biasanya pasti berhubungan dengan tema-tema yg telah kusebutkan sebelumnya. Itulah bundaku, yg selalu menganggap

semua tema adalah “ringan”, bahkan untuk “beban” hidup yang ada didirinya sendiri.

Tanpa menunggu lama, tanpa memperdulikan bus yang sudah menunggu di Halte, tanpa
mengingat teman-teman lain yg mungkin sedang bercanda ria sembari bergerak menuju
Bus, kubuka email itu:

ANAKKU…………
Bila bunda boleh memilih Apakah bunda berbadan langsing atau berbadan besar karena
mengandungmu;
Maka bunda akan memilih mengandungmu. ..
Karena dalam mengandungmu bunda merasakan keajaiban dan kebesaran Allah.

Engkau hidup di perut bunda. Engkau ikut kemanapun bunda pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung bunda berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim bunda ketika engkau merasa tidak nyaman, karena kecewa dan
berurai air mata…

ANAKKU…
Bila boleh memilih apakah harus operasi caesar, atau bunda harus berjuang melahirkanmu;
Maka bunda memilih berjuang melahirkanmu.
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat bunda
rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum diantara
peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa bunda ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia .Saat itulah…
Saat paling membahagiakan. Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, berat
badanmu 4 ½ kg, tubuhmu yg sempurna.

Mendengarkan Abahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di
telinga mungilmu

ANAKKU…
Bila bunda boleh memilih apakah bunda berdada indah, atau harus Bangun tengah malam
untuk menyusuimu;
Maka bunda memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu bunda telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan
tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada bunda dalam kantuk bunda
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa merasakan….

ANAKKU… Bila bunda boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka bunda memilih bermain puzzle denganmu…..

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan bunda, engkau merasa sepi dan merana .Maka maafkanlah nak…
Maafkan bunda…Maafkan bunda… Percayalah nak, bunda sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak… Sepi dan ranamu adalah sebagian duka bunda
Percayalah nak… Engkau akan selalu menjadi belahan nyawa BUNDA…dan PAPA

Banda Aceh, 22 September 2010
LOVE U so much

18 menit waktu telah berlalu dari pukul 7 dipagi itu; 8 menit pula waktu telah berlalu
semenjak Bus linie 2 itu merayap pergi meninggalkan halte, selama itu pula aku menitiskan
buliran kecil air mata di kedua belah pipiku. Tak ada kata yg terucap, tak ada bagian tubuh
yg bergerak, hanya pandangan kosong menghampar keluar jendela.
“Love u so much too, Bun…” lirihku lembut bersahaja dan tersenyum bahagia.

Sambil menyeka buliran air mata yang mengalir manja dipipiku, kupersiapkan kembali
peralatan belajarku. Terlihat bahwa hari ini lebih indah dan cerah dari pada biasanya. Tak
tahu mengapa, mungkin karena keyakinan bahwa bunda-ku kan selalu ada dibelakangku dan
selalu mengiringi setiap langkahku.

May Allah always bless u and get healthy soon Bun..!!

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
1 Comment

Posted by on July 13, 2011 in Pengalaman

 

One response to “Surat dari Ibunda

  1. Cyntia Kaulitz

    December 9, 2011 at 10:12 am

    menyentuhh….^^
    saiia jadi mau ke Jerman juga…^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: