RSS

Jerman Barat vs Jerman Timur

26 Jul

Oleh Anang

 

Tahun 1990 adalah tahun dimana rasa haru dan nafas lega para penduduk jerman timur pecah diseluruh penjuru daerahDeutsche Demokratische Republik (DDR) atau yang lebih dikenal dengan istilah Jerman Timur ini. Rasa sedih karena harus berpisah dengan sanak saudara yang berada di belahan bumi Jerman barat sana, terobati sudah. Kekhawatiran akan keselamatan mereka yang selama ini terbelenggu oleh kokohnya tembok pemisah sepanjang 1378 kilometer-pun lunas seketika.

Ya, tembok yang dibangun oleh pemerintah DDR pada tahun 1961 ini seolah-olah merenggut paksa semua hak asazi manusia yang berada di wilayah Jerman Timur itu. Dilengkapi dengan puluhan senjata otomatis mematikan, kamera dan alat deteksi disepanjang perbatasan yang sewaktu-waktu siap “menyalak” ganas sepersekian detik bersama puluhan butir peluru mematikan setelah menangkap sinyal bagi para penduduk jerman timur yang mencoba melarikan diri ke wilayah barat. Lebih dari 2700 penduduk Jerman Timur, 28 polisi perbatasan dan tentara Jerman Barat serta penduduk jerman barat-pun menjadi korban keganasannya.

Itulah gambaran menyedihkan dimana sebuah negara harus terbagi oleh simbol egoisme seorang

“Der Führer”. Terbagi tidak hanya akan kebebasannya, tetapi juga semua hak-hak dasar kehidupan mereka. Sungguh ironis sekali, tatkala melihat sebuah negara yang hanya tergarisi oleh sebuah tembok kemudian ditakdirkan harus memiliki taraf kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Di wilayah barat orang dengan leluasa berkendara dengan mobil, bisa memakai pakaian yang serba indah dan menyantap makanan dan minuman buatan “Paman SAM”. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Sedangkan melalui lubang kecil dari tembok durjanaitu mereka bisa melihat saudara mereka yang tidak memiliki pilihan lain untuk bisa bertahan hidup selain harus menuruti aturan DDR.

Mereka makan seadanya, tinggal dengan tempat seadanya dan terbelanggu oleh aturan hidup mati yang diterapkan bagi para pembangkang perintah DDR. Disisi lain, sebagian dari mereka merasa nyaman dan senang karena semuanya sudah diatur oleh kota.

Mereka tidak perlu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan begitu juga dengan masa depan sekolah anak-anak mereka sudah diatur oleh pihak kota. Dengan kata lain, semua mendapatkan dengan nilai yang sama. Tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin. Punya uang banyak-pun tetap tidak bisa dipergunakan karena toko-toko didaerah timur hanya memperjual belikan barang-barang itu-itu saja.

Tatkala penduduk jerman barat bisa dengan mudah membeli cat tembok untuk mewarnai rumahnya, saudaranya di jerman timur harus mau bertahan dan hidup dengan rumah yang ala kadarnya. Bukan karena tidak punya uang, tetapi mereka harus mau menunggu puluhan tahun untuk bisa mendapatkan cat tembok pesenan mereka. Mungkin toko-toko saat itu mempunyai Motto yang tidak kalah heboh dengan makanan siap saji sekarang ini. “Pesan sekarang, biarpan anak cucu anda yang menikmatinya”.

Dimulai dengan pergerakan dari warga didaerah Bundesland Sachen dan Sachen-Anhalt. Jumlah penduduk Jerman Timur yang hampir mendekati ratusan ribu itu mulai membuat titk-titik konstentrasi pertemuan. Mereka mulai melangkahkan kaki pertamanya untuk melakukan demonstrasi di kota Leipzig. Dengan semangat seperti nama supermarket terkenal di seluruh jerman, “REWE-REWE RANTAS, MALANG-MALANG PUTUNG”, mereka memberanikan diri melakukan penentangan besar-besaran melawan “Pak Kumis”.

Dengan nada tegas dan amarah yang meluap-luap, saya yakin Hitler akan berusaha keras melawan para demonstran itu persis seperti ekspresi dia saat marah besar tatkala mendengar bahwa Nurdin Halid tidak mau turun dari PSSI.  

http://www.youtube.com/watch?v=FKVCguPwOis

______________________________ ***   _______________________________

Selain tembok pemisah yang terkenal ke penjuru dunia itu, ada beberapa tempat sejarah yang menjadi saksi bisu akan peristiwa itu. Terletak didaerah Eisenachkota kecil didekat Erfurt, Sachen-Anhalt, adalah salah satu tempat perbatasan wilayah barat dan timur saat itu. Tempat ini merupakan lokasi pemeriksaan oleh petugas perbatasan bagi mereka yang menggunakan transportasi darat untuk masuk dan keluar wilayah perbatasan.

Bekas-bekas menara pengawas tinggi menjulang, dan beberapa bangunan tua nan kokoh disertai dengan beton-beton besar semakin menceritakan betapa ketat dan angkernya tempat ini.  Kota ini akan sering dilewati bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Leipzig menuju Frankfurt atau dari Utara ke Selatan. Karena selama ini saya selalu memilih menggunakan transportasi kereta api ICE,maka nama kota Eisenach hanya sepintas mengingatkan saya sebagai stasiun pemberhentian ketiga kereta api tercepat di Jerman tersebut, sebelum masuk ke Stasiun Frankfurt.   

Bermula dari sudah penuhnya tempat duduk kereta api ICE dari Frankfurt menuju Leipzig, maka saya putuskan untuk mencari alternatif transportasi lainnya yang tak kalah cepat, nyaman dengan harga yang ralatif murah melalui fasilitasmitfahrgelegenheit. Sebuah situs online dimana kita bisa menawarkan sekaligus mencari alternatif transportasi dari dan menuju kota diseluruh jerman baik yang menggunakan mobil pribadi ataupun kereta api.

Kita hanya tinggal menghubungi pihak yang menawarkan tempat duduk kosong untuk perjalanan kota tertentu, maka kita bisa ikut dengan menggunakan tiket kereta ataupun mobil pribadi mereka seperti layaknya tuan rumah yang diantar oleh sopirnya.  

Sore itu saya beruntung mendapatkan seseorang yang akan melakukan perjalan dari Frankfurt menuju Berlin. Segera saya hubungi dan melakukan tawar menawar sekaligus penentuan lokasi pertemuan. Kami akhrinya bertemu agak keluar dari stasiun kota, tepat dibawah pohon yang rindang dengan bunga yang masih bermekaran disaksikan oleh kicauan burung-burung yang saling bersautan. Meskipun sopirnya sudah tua, saya putuskan untuk tetap berangkat dari Frankfurt menuju Leipzig dengan menggunakan mobil mercedes benz-nya yang juga sudah relatif tua.

Dengan interior mobil yang masih original buatan tahun 1987 itu, Kamipun mulai berjalan perlahan meninggalkan kota padat penuh dengan bangunan Bank dan industri yang merupakan simbol keuangan dan perekonomian bekas negara “Barbar” itu. Agar perjalanan serasa indah dan tidak membosankan saya mulai membayangkan istri dan anak-anak saya ikut duduk disamping saya. Lamunan saya buyar seketika, tatkala sang driver mulai bertanya sesuatu kepada saya.

Apakah anda tau kearah jalan mana agar bisa masuk ke *Autobahn ?

Autobahn adalah Jalan Tol berisi penuh dengan kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi yang menghubungkan semua kota-kota di negara Uni Eropa.

Nah loe,…

Pertanyaannya sederhana, tetapi menimbulkan sejuta keraguan “akankah perjalanan ini berakhir dengan indah?”. Keringat dinginpun mulai menetes membuat suasana semakin tak menentu tatkala saya tidak menemukan Alat GPS penunjuk arah perjalanan/Tomtom didalam mobilnya. Seketika itu saya langsung memanjatkan doa mudah2an lagunya rif “salah jurusan” tidak menyambangi saya.

Hanya ditemani oleh sang sopir dan beberapa lalat yang beterbangan di dalam mobil, kamipun berusaha mencari jalan untuk bisa masuk ke Autobahn. Tak lama kemudian, Lalat-lalat itu seketika hilang terbawa oleh angin berkecepatan tinggi yang berhembus melalui jendela kaca sang sopir yang sengaja ia buka saat kami sudah berhasil bergabung dengan kendaraan cepat lainnya di Autobahn menuju Leipzig.

Hal-hal aneh mulai saya rasakan dengan laju kendaraan itu. Tak seperti layaknya kendaraan yang berumur 24 tahun lainnya, mobil itu terlihat melaju sangat kencang bahkan nyaris bersaing dengan kendaraan muda lainnya. Saya pun terperanjat tatkala melihat jarum speedometer yang stabil berada dikisaran angka 140-160 Km/jam. Jok mobil yang masih original terbuat dari bahan tekstilBludru itu membuat posisi duduk saya mulai tidak nyaman.

Meskipun demikian, karena kelelahan yang sangadd ditambah dengan alunan musik khas jerman yang kadang diselingi dengan informasi tentang kemacetan lalu lintas-pun berhasil membuat saya sulit mempertahankan kesadaran. Seketika juga, sayapun terbawa masuk ke dalam dunia mimpi dengan posisi duduk menyandar di kursi belakang yang juga memiliki tingkat suspensi kepegasan diatas rata-rata Jok mobil lainnya.

Dengan keadaan tertidur lelap bersama seorang pengemudi yang umurnya sudah mendekati kisaran 70an, saya dibawa melaju kencang dengan mobil tuanya tanpa menggunakan alat penunjuk arah perjalanan. Arah perjalanan yang tidak jelas, jarak pandang yang sudah mulai menurun dan tingkat konsentrasi yang mungkin sudah tidak prima lagi adalah hal yang seyogyanya dihindari oleh setiap pengemudi yang akan bepergian jauh dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba saya terbangun oleh suara yang cukup keras mengganggu tidur saya. Dengan pandangan mata yang masih kabur, saya mendapati keempat kaca jendela di seluruh penjuru pintu mobil terbuka. Angin super kencang-pun masuk dari segala penjuru arah memporak-porandakan kami yang berada didalam. Keadaan kami didalam mobil seketika itu juga berubah menjadi hiruk pikuk…. 

bersambung….

Moh. Nanang HK adalah master student pada fakultas sportmedizin Universitas leipzig, dan atlet nasional cabor atletik 

 

 
1 Comment

Posted by on July 26, 2011 in Pengalaman

 

One response to “Jerman Barat vs Jerman Timur

  1. Dinar Roe

    October 28, 2011 at 5:16 am

    menunggu kelanjutannya😀
    jadi ngga sabaran, hehhee

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: