RSS

Category Archives: Pengalaman

Ini adalah kategori mengenai pengalaman hidup di kota leipzig

Monumen Kejatuhan Sang Kaisar Eropa

Oleh Dinaroe

Tak terbantahkan lagi eropa merupakan benua yang tepat untuk dijadikan destinasi pelancongan bagi para wisatawan yang menyukai latar belakang cerita sejarah dan kerajaan-kerajaan kuno. Apalagi benua yang hampir didominasi oleh ribuan kastil dan monumen ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan kisah menarik di setiap jengkal sudut kotanya. Kisah Napoleon Bonaparte sebagai contohnya. Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak anda untuk bercerita sedikit mengenai sang Kaisar Eropa yang termahsyur ini.

Siapapun pasti mengenal Napoleon, sang kaisar Perancis yang mengaklamasikan dirinya sebagai Kaisar Eropa pada abad ke XIX. Pria kelahiran Corsica ini pada awalnya hanyalah seorang perwira militer Perancis biasa yang kemudian menjelma menjadi seorang pemimpin politik yang melahirkan Revolusi Perancis, hingga akhirnya menjadi sang Kaisar Perancis ternama.

Meskipun banyak cerita sejarah yang menceritakan tentang keberhasilan Napoleon yang mampu mendominasi beberapa daerah di benua Eropa, namun mungkin belum banyak pihak yang mengetahui mengenai peristiwa kekalahan telak sang kaisar dikarenakan pembelotan pasukannya sendiri, di sebuah kota di timur Jerman pada tahun 1813 yang dikenal dengan sebutan Battle of Leipzig atau Battle of Nation.

Benar, di kota Leipzig yang terletak dalam negara federal saxony inilah sang kaisar Eropa harus meletakkan tahta kekuasaanya dan harus menyerah kalah pada pasukan koalisi yang dimotori oleh Prussia (Kerajaan Jerman masa lalu), Austria, Rusia dan Swedia. Peristiwa ini pula yang mengakibatkan Napoleon harus mengasingkan diri ke Elba, sebuah pulau di Tuscany, Italia yang berjarak 50 km di sebelah timur Corsica dan akhirnya menyebabkan negara Perancis diinvasi oleh pasukan sekutu pada tahun berikutnya.

Monument to the Battle of the Nations atau dalam bahasa Jermannya disebut Völkerschlachtdenkmal merupakan monumen peringatan untuk mengenang pertempuran antara lebih dari 500.000 prajurit yang berujung kepada gugurnya lebih dari 120.000 prajurit dari 6 bangsa yang ikut berperang. Pembangunan monumen terbesar di Jerman dan ketiga terbesar di Eropa ini mulai direncanakan semenjak tahun 1814 dan baru dapat diselesaikan pada tahun 1913 atau tepat 100 tahun setelah peperangan terjadi.

Bangunan yang hampir menyerupai bentuk candi di Indonesia ini memiliki ketinggian hampir 100 meter dengan luas dan lebar mencapai 125 meter, serta memiliki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Pembangunan monumen ini sendiri berada tepat pada posisi dimana Napoleon Bonaparte pada saat itu memberikan perintah mundur kepada pasukannya dan menyatakan diri kalah perang terhadap Rusia dan Jerman serta pasukan koalisi lainnya yang disebut The Sixth Coalition.

Secara umum, kesan yang ditampilkan oleh monumen ini sangatlah unik dan berkesan mistis. Bukanlah keindahan yang ingin ditawarkan oleh bangunan ini, namun lebih kepada suatu bentuk yang mencerminkan kebesaran dan kedigdayaan. Monumen ini terlihat layaknya sebuah batu hitam besar yang menjulang tinggi diantara bangunan-bangunan di pusat perkotaan Leipzig, yang semakin menambah kesan megah dan mengangumkan dari monumen tersebut. Semakin mendekati bangunan ini, kita akan dapat melihat dan menemukan aspek-aspek estetika dan keindahan yang tersembunyi yang coba ditawarkan oleh tempat ini. Di sekitar monumen misalnya, kita dapat menemukan taman dan danau buatan yang dibangun tepat berada didepan pintu masuk utama bangunan dan dibentuk secara simetris dan bernilai estetis sekali.

Selain itu, Ruhmeshalle atau balai kuil dewa mencoba menawarkan tampilan ukiran dinding layaknya kuil para dewa yang memberikan kesan mengagumkan. Ruangan yang hampir tidak diterangi cahaya ini dipenuhi dengan batu-batu berukiran besar yang menampilkan figur yang melambangkan keberanian, kekuatan dan kesiapan rakyat Jerman untuk berkorban dan memiliki keyakinan teguh. Ditambah dengan atmosfir ruangannya yang suram dengan sedikit cahaya matahari yg dapat menerobos masuk, memberikan kesan efek radiasi yang sangat kuat yang terpancar dari sosok figur tersebut. Di sudut lain yang tidak kalah menariknya, berada tepat di puncak monumen yang hampir mencapai 100 m ini. Disini pengunjung dapat menikmati indahnya suasana kota Leipzig dan lingkungan sub urban disekitarnya, yang menampilkan nuansa keteraturan layaknya kota-kota di eropa pada umumnya.

Bukan hanya Napoleon saja yang memiliki kaitan dengan monumen ini, Adolf Hitler pada masa kepemimpinannya (Third Reich) juga memanfaatkan kemegahan bangunan ini untuk menunjukkan kekuatannya dan juga menjadikan tempat ini sebagai salah satu markas tempat pertemuannya bersama para perwira militer tinggi SS di Leipzig, yang dulunya merupakan kota penting setelah Berlin pada masa pendudukan Nazi. Saat ini, bangunan ini lebih dikenal sebagai monumen Jerman bersatu (German Union) dan monumen persahabatan Jerman – Rusia (Russo -German Brotherhood in arms atau Deutsch-Russische Waffenbrüderschaft).

Tentu bagi seorang pecinta sejarah, ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk dikunjungi dan layak untuk dimasukkan kedalam „list to do“ selain beberapa tempat bersejarah di bekas Jerman timur lainnya. Ditambah lagi dengan murahnya biaya kunjungan ke monumen ini yang hanya sebesar 2 Euro (Rp. 25.000) saja dan lokasinya yang berada tepat di sebelah timur pusat kota Leipzig, semakin membuat perjalanan wisata sejarah ini semakin menarik dan menyenangkan.

Sumber gambar: http://leipzigst.de/post/3379850880/voelkerschlachtdenkmal-leipzig

Dinaroe adalah mahasiswa master SEPT program Universitas Leipzig

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Pengalaman

 

Tags:

Lebaran Warga PPI Leipzig 2011

Hari ini, 30 Agustus 2011, Masjid Ar-Rahman Leipzig merayakan Idul Fitri/Id-mubarak. Warga PPI Leipzig, yang biasa bersembahyang disana, tentu ikut merayakan kegembiraan idul Fitri. Bersamaan dengan itu, maka kami atas nama pengurus PPI leipzig dan warga Indonesia di Leipzig mengucapkan kepada segenap pembaca: ‘Minal Adzin walfaizin. Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.’ Semoga silaturahmi diantara kita bisa selalu terjaga.

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2011 in Pengalaman

 

Jerman Barat vs Jerman Timur

Oleh Anang

 

Tahun 1990 adalah tahun dimana rasa haru dan nafas lega para penduduk jerman timur pecah diseluruh penjuru daerahDeutsche Demokratische Republik (DDR) atau yang lebih dikenal dengan istilah Jerman Timur ini. Rasa sedih karena harus berpisah dengan sanak saudara yang berada di belahan bumi Jerman barat sana, terobati sudah. Kekhawatiran akan keselamatan mereka yang selama ini terbelenggu oleh kokohnya tembok pemisah sepanjang 1378 kilometer-pun lunas seketika.

Ya, tembok yang dibangun oleh pemerintah DDR pada tahun 1961 ini seolah-olah merenggut paksa semua hak asazi manusia yang berada di wilayah Jerman Timur itu. Dilengkapi dengan puluhan senjata otomatis mematikan, kamera dan alat deteksi disepanjang perbatasan yang sewaktu-waktu siap “menyalak” ganas sepersekian detik bersama puluhan butir peluru mematikan setelah menangkap sinyal bagi para penduduk jerman timur yang mencoba melarikan diri ke wilayah barat. Lebih dari 2700 penduduk Jerman Timur, 28 polisi perbatasan dan tentara Jerman Barat serta penduduk jerman barat-pun menjadi korban keganasannya.

Itulah gambaran menyedihkan dimana sebuah negara harus terbagi oleh simbol egoisme seorang

“Der Führer”. Terbagi tidak hanya akan kebebasannya, tetapi juga semua hak-hak dasar kehidupan mereka. Sungguh ironis sekali, tatkala melihat sebuah negara yang hanya tergarisi oleh sebuah tembok kemudian ditakdirkan harus memiliki taraf kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Di wilayah barat orang dengan leluasa berkendara dengan mobil, bisa memakai pakaian yang serba indah dan menyantap makanan dan minuman buatan “Paman SAM”. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Sedangkan melalui lubang kecil dari tembok durjanaitu mereka bisa melihat saudara mereka yang tidak memiliki pilihan lain untuk bisa bertahan hidup selain harus menuruti aturan DDR.

Mereka makan seadanya, tinggal dengan tempat seadanya dan terbelanggu oleh aturan hidup mati yang diterapkan bagi para pembangkang perintah DDR. Disisi lain, sebagian dari mereka merasa nyaman dan senang karena semuanya sudah diatur oleh kota.

Mereka tidak perlu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan begitu juga dengan masa depan sekolah anak-anak mereka sudah diatur oleh pihak kota. Dengan kata lain, semua mendapatkan dengan nilai yang sama. Tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin. Punya uang banyak-pun tetap tidak bisa dipergunakan karena toko-toko didaerah timur hanya memperjual belikan barang-barang itu-itu saja.

Tatkala penduduk jerman barat bisa dengan mudah membeli cat tembok untuk mewarnai rumahnya, saudaranya di jerman timur harus mau bertahan dan hidup dengan rumah yang ala kadarnya. Bukan karena tidak punya uang, tetapi mereka harus mau menunggu puluhan tahun untuk bisa mendapatkan cat tembok pesenan mereka. Mungkin toko-toko saat itu mempunyai Motto yang tidak kalah heboh dengan makanan siap saji sekarang ini. “Pesan sekarang, biarpan anak cucu anda yang menikmatinya”.

Dimulai dengan pergerakan dari warga didaerah Bundesland Sachen dan Sachen-Anhalt. Jumlah penduduk Jerman Timur yang hampir mendekati ratusan ribu itu mulai membuat titk-titik konstentrasi pertemuan. Mereka mulai melangkahkan kaki pertamanya untuk melakukan demonstrasi di kota Leipzig. Dengan semangat seperti nama supermarket terkenal di seluruh jerman, “REWE-REWE RANTAS, MALANG-MALANG PUTUNG”, mereka memberanikan diri melakukan penentangan besar-besaran melawan “Pak Kumis”.

Dengan nada tegas dan amarah yang meluap-luap, saya yakin Hitler akan berusaha keras melawan para demonstran itu persis seperti ekspresi dia saat marah besar tatkala mendengar bahwa Nurdin Halid tidak mau turun dari PSSI.  

http://www.youtube.com/watch?v=FKVCguPwOis

______________________________ ***   _______________________________

Selain tembok pemisah yang terkenal ke penjuru dunia itu, ada beberapa tempat sejarah yang menjadi saksi bisu akan peristiwa itu. Terletak didaerah Eisenachkota kecil didekat Erfurt, Sachen-Anhalt, adalah salah satu tempat perbatasan wilayah barat dan timur saat itu. Tempat ini merupakan lokasi pemeriksaan oleh petugas perbatasan bagi mereka yang menggunakan transportasi darat untuk masuk dan keluar wilayah perbatasan.

Bekas-bekas menara pengawas tinggi menjulang, dan beberapa bangunan tua nan kokoh disertai dengan beton-beton besar semakin menceritakan betapa ketat dan angkernya tempat ini.  Kota ini akan sering dilewati bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Leipzig menuju Frankfurt atau dari Utara ke Selatan. Karena selama ini saya selalu memilih menggunakan transportasi kereta api ICE,maka nama kota Eisenach hanya sepintas mengingatkan saya sebagai stasiun pemberhentian ketiga kereta api tercepat di Jerman tersebut, sebelum masuk ke Stasiun Frankfurt.   

Bermula dari sudah penuhnya tempat duduk kereta api ICE dari Frankfurt menuju Leipzig, maka saya putuskan untuk mencari alternatif transportasi lainnya yang tak kalah cepat, nyaman dengan harga yang ralatif murah melalui fasilitasmitfahrgelegenheit. Sebuah situs online dimana kita bisa menawarkan sekaligus mencari alternatif transportasi dari dan menuju kota diseluruh jerman baik yang menggunakan mobil pribadi ataupun kereta api.

Kita hanya tinggal menghubungi pihak yang menawarkan tempat duduk kosong untuk perjalanan kota tertentu, maka kita bisa ikut dengan menggunakan tiket kereta ataupun mobil pribadi mereka seperti layaknya tuan rumah yang diantar oleh sopirnya.  

Sore itu saya beruntung mendapatkan seseorang yang akan melakukan perjalan dari Frankfurt menuju Berlin. Segera saya hubungi dan melakukan tawar menawar sekaligus penentuan lokasi pertemuan. Kami akhrinya bertemu agak keluar dari stasiun kota, tepat dibawah pohon yang rindang dengan bunga yang masih bermekaran disaksikan oleh kicauan burung-burung yang saling bersautan. Meskipun sopirnya sudah tua, saya putuskan untuk tetap berangkat dari Frankfurt menuju Leipzig dengan menggunakan mobil mercedes benz-nya yang juga sudah relatif tua.

Dengan interior mobil yang masih original buatan tahun 1987 itu, Kamipun mulai berjalan perlahan meninggalkan kota padat penuh dengan bangunan Bank dan industri yang merupakan simbol keuangan dan perekonomian bekas negara “Barbar” itu. Agar perjalanan serasa indah dan tidak membosankan saya mulai membayangkan istri dan anak-anak saya ikut duduk disamping saya. Lamunan saya buyar seketika, tatkala sang driver mulai bertanya sesuatu kepada saya.

Apakah anda tau kearah jalan mana agar bisa masuk ke *Autobahn ?

Autobahn adalah Jalan Tol berisi penuh dengan kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi yang menghubungkan semua kota-kota di negara Uni Eropa.

Nah loe,…

Pertanyaannya sederhana, tetapi menimbulkan sejuta keraguan “akankah perjalanan ini berakhir dengan indah?”. Keringat dinginpun mulai menetes membuat suasana semakin tak menentu tatkala saya tidak menemukan Alat GPS penunjuk arah perjalanan/Tomtom didalam mobilnya. Seketika itu saya langsung memanjatkan doa mudah2an lagunya rif “salah jurusan” tidak menyambangi saya.

Hanya ditemani oleh sang sopir dan beberapa lalat yang beterbangan di dalam mobil, kamipun berusaha mencari jalan untuk bisa masuk ke Autobahn. Tak lama kemudian, Lalat-lalat itu seketika hilang terbawa oleh angin berkecepatan tinggi yang berhembus melalui jendela kaca sang sopir yang sengaja ia buka saat kami sudah berhasil bergabung dengan kendaraan cepat lainnya di Autobahn menuju Leipzig.

Hal-hal aneh mulai saya rasakan dengan laju kendaraan itu. Tak seperti layaknya kendaraan yang berumur 24 tahun lainnya, mobil itu terlihat melaju sangat kencang bahkan nyaris bersaing dengan kendaraan muda lainnya. Saya pun terperanjat tatkala melihat jarum speedometer yang stabil berada dikisaran angka 140-160 Km/jam. Jok mobil yang masih original terbuat dari bahan tekstilBludru itu membuat posisi duduk saya mulai tidak nyaman.

Meskipun demikian, karena kelelahan yang sangadd ditambah dengan alunan musik khas jerman yang kadang diselingi dengan informasi tentang kemacetan lalu lintas-pun berhasil membuat saya sulit mempertahankan kesadaran. Seketika juga, sayapun terbawa masuk ke dalam dunia mimpi dengan posisi duduk menyandar di kursi belakang yang juga memiliki tingkat suspensi kepegasan diatas rata-rata Jok mobil lainnya.

Dengan keadaan tertidur lelap bersama seorang pengemudi yang umurnya sudah mendekati kisaran 70an, saya dibawa melaju kencang dengan mobil tuanya tanpa menggunakan alat penunjuk arah perjalanan. Arah perjalanan yang tidak jelas, jarak pandang yang sudah mulai menurun dan tingkat konsentrasi yang mungkin sudah tidak prima lagi adalah hal yang seyogyanya dihindari oleh setiap pengemudi yang akan bepergian jauh dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba saya terbangun oleh suara yang cukup keras mengganggu tidur saya. Dengan pandangan mata yang masih kabur, saya mendapati keempat kaca jendela di seluruh penjuru pintu mobil terbuka. Angin super kencang-pun masuk dari segala penjuru arah memporak-porandakan kami yang berada didalam. Keadaan kami didalam mobil seketika itu juga berubah menjadi hiruk pikuk…. 

bersambung….

Moh. Nanang HK adalah master student pada fakultas sportmedizin Universitas leipzig, dan atlet nasional cabor atletik 

 

 
1 Comment

Posted by on July 26, 2011 in Pengalaman

 

Perjuangan Tim PPI Leipzig di Sportfest Berlin

Oleh Arli

Walaupun PPI Leipzig baru terbentuk 2 bulan, namun ternyata tim olahraganya sudah mencetak prestasi. Sportfest Berlin adalah saksinya. Semua ini tak lepas dari perjuangan atlet-atletnya. Bagaimana ceritanya?

Sepintas Sportfest Berlin

Sportfest Berlin adalah event olahraga yang diadakan oleh PPI Berlin. Event ini dilaksanakan antara tanggal 23-24 Juli 2011. Cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan sangatlah bervariasi, diantaranya bulutangkis, mini sepakbola, voli, basket, atletik 4×1100, dan tarik tambang. Kita semua sudah memahami, bahwa tim unggulan seperti PPI Goettingen, PPI Berlin, dan Frada sudah dipastikan akan mendominasi semua event pertandingan. Sebagai tuan rumah, Berlin pun dipastikan akan dapat dukungan penuh dari supporter. Namun, justru posisi ‘underdog’ membuat tim PPI Leipzig berjuang tanpa beban sedikitpun. Justru dengan bertanding tanpa beban inilah, maka prestasi dapat dicetak.

Cabang olah raga yang diikuti

Adapun, dengan keterbatasan SDM yang ada, kami memutuskan untuk mengikuti beberapa cabor. Yaitu Mini sepakbola, Voli, Atletik, dan Tarik tambang. Keterbatasan SDM memang memaksa kami untuk mengambil keputusan ‘overlapping’ atlet cabor, yaitu adanya beberapa atlet yang mengikuti beberapa cabor sekaligus. Hal ini yang harus dievaluasi lebih lanjut, karena atlet yang ‘overlaping’ jelas akan perform kurang maksimal.
Sebagai ‘bayi’ yang baru berumur 2 bulan, jelas tim olahraga PPI Leipzig harus lebih optimum dalam lakukan pemetaan keunggulannya. Alhasil, ada beberapa atlet cabor atletik, yaitu Anang, Dicky, Rafa, dan Ariel, yang mau tidak mau juga mengikuti cabor lain. Sebelum cabor atletik dimulai, mereka berempat sudah bermain mini soccer terlebih dahulu. Walaupun Anang dan Dicky, karena sudah sangat berpengalaman, sama sekali tidak terpengaruh dengan ‘overlapping’ yang sangat menguras stamina ini, namun tidak demikian dengan Rafa dan Ariel. Kondisinya, Rafa dan Ariel harus mengikuti perlombaan atletik, walaupun sudah sangat kecapaian setelah mengikuti cabor mini sepakbola.

PPI Leipzig membawa pulang medali atletik

Alhasil, beberapa saat setelah tim PPI Leipzig ‘kandas’ di cabor mini sepakbola, perlombaan atletik 4×1100 meter dimulai. Seperti apa sih perlombaan atletik ini? Lengkapnya, atletik 4×1100 meter adalah lari estafet dengan menggunakan 4 atlet. Lintasan yang harus dilalui bukalah lintasan yang biasa digunakan pada pertandingan atletik, namun lintasan taman. ‘Landscape’ dari lintasan tersebut sangatlah bervariasi, ada naik turunnya. Memang, dari perpektif atletik, lintasan tersebut sangatlah menantang. Harus sangat memahami medan untuk menaklukkannya.
Alhasil, perlombaan atletik dimulai dengan lari satu-satu. Jadi tidak semua pelari akan melintasi lintasan, tapi dilepas satu persatu. Di tim leipzig, Dicky memulai sebagai pelari pertama, dan mencetak waktu 3 menit 48 detik. Sementara Anang menjadi pelari kedua, dan mencetak waktu 4 menit 11 detik. Secara kumulatif, apa yang dicapai kedua pelari awal ini sudah sangatlah luar biasa, seperti apa yang pernah mereka capai di event PON dan SEAGAMES. Namun, tibalah waktu bagi pelari ketiga, yaitu Rafa. Sewaktu Rafa lari, kamipun menunggu dia mencapai finish. Namun, 3 menit berlalu, dan 4 menit berlalu, dan tidak sampai-sampai juga. Akhirnya Dicky inisiatif untuk mengecek posisi Rafa, dan ternyata dia sudah mengalami kecapaian yang amat sangat. Akhirnya, setelah berjuang tertatih-tatih, Rafa dapat mencapai garis finish pada menit ke 5. Hal yang sama juga terjadi pada Ariel, dan dia juga tertatih-tatih sebagai pelari terakhir. Dengan perjuangan keras, akhirnya Ariel dapat mencapai finish pada waktu 4 menit 40 detik. Sewaktu tim leipzig selesai berlari, dan mengamati tim lawan, awalnya kami sudah pesimis akan mendapatkan medali. Namun, ternyata tim leipzig tetaplah mendapatkan medali perak. Bagi kami, ini adalah hal yang harus sangat disyukuri, sebab sebagai ‘underdog’ tidak memasang target muluk-muluk. Medali perak ini bisa didapat, tidak lepas dari perjuangan keempat atlet kita, dan juga persiapan latihan yang cukup.

Pemetaan di cabor lain

Selesai dengan Atletik, tim leipzig mengikuti perlombaan voli. Pada hari pertama, Leipzig dapat menumbangkan tim brandenburg. Namun di hari kedua, terjadi kekurangan pemain. Alhasil Pertandingan voli antara PPI Leipzig versus Berlin dan kemudian Zittau, dibantu oleh Bli Made dari Thurigen. Kita menang voli melawan brandenburg dan zittau, dan kalah melawan Berlin 1. Namun secara kumulatif poin tidak mencukupi untuk memasuki babak utama.
Namun, tim leipzig tetap mendapatkan kehormatan dalam bentuk lain. Anang dan Dicky menjadi wasit pertandingan final voli putera antara PPI Goettingen versus Frada. Mereka berdua pun sudah diminta untuk menjadi wasit di event sportfest mendatang. Permintaan ini datang langsung dari panitia sendiri.
Kami juga memutuskan mundur dari tarik tambang, karena tim sudah sangat kecapaian.

Optimasi cabor kedepan

Perlu optimalisasi sdm, agar tidak terjadi overlapping cabor. Tumpang-tindih inilah yang sebabkan cabor yang diikuti sama sekali tidak dapat tampil secara optimum.
Meningkatkan kekompakan secara internal (ke dalam leipzig) dan eksternal (ke seluruh wilayah Sachsen dan Sachsen-Anhalt). Kekurangan sdm atlet harus secara dibenahi, dengan tingkatkan kekompakan. Harus diupayakan latihan secara reguler terhadap cabor dimana kita punya potensi (voli dan atletik), dan dilakukan pemetaan dan pembinaan lebih lanjut terhadap cabor lain.
Perlu ada tim supporter yang baik. Keberhasilan Goettingen, Berlin, dan Frada juga dikarenakan mereka memiliki basis supporter. Leipzig harus bekerja keras untuk optimalisasi tim supporternya.

Ucapan Terima Kasih

Kepada Akang Dicky, yang khusus mendatangi Leipzig untuk membela tim kami.
Kepada Bli Made (Thuringen) atas bantuannya di Voli Putera.

Penulis adalah Penggemar Olah Raga

 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2011 in Pengalaman

 

Tags:

Surat dari Ibunda

Oleh Dinaroe

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi hari waktu Jerman. Namun suasana masih terasa gelap dan kelabu layaknya subuh hari di Indonesia. Mentari pagi masih bersembunyi malu memancarkan sinar jingganya diantara celah awan-awan mendung yang bergantung pilu. Menandakan musim gugur telah tiba tuk mengisi waktu.

Hanya 10 menit lagi waktu yg tersisa bagiku untuk men-shut down komputer, mematikan lampu-lampu kamar, memakai sepatu dan mengejar Bus Linie 2 yg selalu dengan gagahnya menunggu di tiap menit ke-10 di setiap jamnya. Tak ada waktu bagiku tuk bersantai dan berleha, jika tak ingin melihat kepulan asapnya yg melambai dan berlalu dengan ponggahnya dalam hitungan detik. Yaah typisch Deutsch teman-temanku menyebutnya.

Rutinitas standar yg kulakukan; meng-log out Facebook, mematikan Yahoo messenger dan menutup account email -ku. Semua serba terurut, teratur dan tertib. Tak ada alasan pasti mengapa aku harus menguruti seperti itu, tapi entahlah, mungkin hanya kebiasaan saja. Namun, aku baru merasakan bahwa kebiasaan ini mendatangkan pengaruh besar bagi kehidupanku, pagi ini misalnya.

1 ungelesen email (1 email belum dibaca) tercetak tebal di halaman yahoo ku. Aahh.., palingan hanya sebuah spam atau iklan-iklan yg ngga jelas juntrunganya yg hanya menghambat kepergianku menuju tempat les pagi ini. Sempat tak kuperdulikan dan segera ku arahkan cursor laptop ku ke tulisan Abmelden (Log out) di pojok kanan atas.

Namun benar kata orang, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu penasaran. Tanpa memindahkan tangan dari Pointing Device, kugeser kursor itu ke arah Posteingang (kotak masuk) di bagian kiri tengah dan meng-klik dua kali disana.

Von Bunda Nahrasiah, Betreff ANAKKU DINAROE tercantum disana. Sempat kutertegun sejenak, sebelum sempat melihat isi email itu. Bukan sekali dua kali sih sebenarnya ibundaku mengirim email kepadaku, namun tidak pernah dengan judul yang mengandung sarat makna seperti ini.

Jalan-jalan, makan-makan, tingkah polah ayahku di rumah, tetangga, dan teman-teman kantor bundaku serta masih banyak tema-tema ringan lainnya adalah “sarapan” email yang sering kami sajikan tuk melepas rasa rindu dan kesepian yang membuncah di dada. Bukan tidak ada tema-tema serius yang kami perbincangkan, namun biasanya pasti berhubungan dengan tema-tema yg telah kusebutkan sebelumnya. Itulah bundaku, yg selalu menganggap

semua tema adalah “ringan”, bahkan untuk “beban” hidup yang ada didirinya sendiri.

Tanpa menunggu lama, tanpa memperdulikan bus yang sudah menunggu di Halte, tanpa
mengingat teman-teman lain yg mungkin sedang bercanda ria sembari bergerak menuju
Bus, kubuka email itu:

ANAKKU…………
Bila bunda boleh memilih Apakah bunda berbadan langsing atau berbadan besar karena
mengandungmu;
Maka bunda akan memilih mengandungmu. ..
Karena dalam mengandungmu bunda merasakan keajaiban dan kebesaran Allah.

Engkau hidup di perut bunda. Engkau ikut kemanapun bunda pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung bunda berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim bunda ketika engkau merasa tidak nyaman, karena kecewa dan
berurai air mata…

ANAKKU…
Bila boleh memilih apakah harus operasi caesar, atau bunda harus berjuang melahirkanmu;
Maka bunda memilih berjuang melahirkanmu.
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat bunda
rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum diantara
peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa bunda ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia .Saat itulah…
Saat paling membahagiakan. Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, berat
badanmu 4 ½ kg, tubuhmu yg sempurna.

Mendengarkan Abahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di
telinga mungilmu

ANAKKU…
Bila bunda boleh memilih apakah bunda berdada indah, atau harus Bangun tengah malam
untuk menyusuimu;
Maka bunda memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu bunda telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan
tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada bunda dalam kantuk bunda
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa merasakan….

ANAKKU… Bila bunda boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka bunda memilih bermain puzzle denganmu…..

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan bunda, engkau merasa sepi dan merana .Maka maafkanlah nak…
Maafkan bunda…Maafkan bunda… Percayalah nak, bunda sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak… Sepi dan ranamu adalah sebagian duka bunda
Percayalah nak… Engkau akan selalu menjadi belahan nyawa BUNDA…dan PAPA

Banda Aceh, 22 September 2010
LOVE U so much

18 menit waktu telah berlalu dari pukul 7 dipagi itu; 8 menit pula waktu telah berlalu
semenjak Bus linie 2 itu merayap pergi meninggalkan halte, selama itu pula aku menitiskan
buliran kecil air mata di kedua belah pipiku. Tak ada kata yg terucap, tak ada bagian tubuh
yg bergerak, hanya pandangan kosong menghampar keluar jendela.
“Love u so much too, Bun…” lirihku lembut bersahaja dan tersenyum bahagia.

Sambil menyeka buliran air mata yang mengalir manja dipipiku, kupersiapkan kembali
peralatan belajarku. Terlihat bahwa hari ini lebih indah dan cerah dari pada biasanya. Tak
tahu mengapa, mungkin karena keyakinan bahwa bunda-ku kan selalu ada dibelakangku dan
selalu mengiringi setiap langkahku.

May Allah always bless u and get healthy soon Bun..!!

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
1 Comment

Posted by on July 13, 2011 in Pengalaman

 

Sepeda

Oleh Farid

Sebelum berangkat ke Jerman saya tidak membayangkan akan bersepeda. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya memilih menggunakan alat transportasi kebanggan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan di sini, rupanya takdir saya lain. Nyatanya 15 menit lalu, saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah terpakai 10 KM untuk Jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Artinya saya nyepeda terus.

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis J.S Bach, filsof W.Leibniz, F.Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja tapi sesepi Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman yang Desember nanti merayakan ultah ke 600nya. Juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Bethoven, Wagner, Bach dan menjadi baromater musik klasik Eropa hingga sekarang.

Memang tradisi Leipzig kental dengan seni, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang berarsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance dan Baroque.

Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tak tergerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet. Puncaknya 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun jalan meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan sampai 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam sekala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu digelar di sini. Tahun 2009 ini target telah tercapai 80 persen. Konon pemanjaan ini memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya ini, saya mulai mengakrabi sepeda..

Awalnya saya ditakjubkan oleh sistem transportasi di sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern. Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil –sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa dan sebagian kecil Jepang atau Korea—dan sepeda motor yang rata-rata 750cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini. Hingga saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewat: ternyata banyak orang bersepeda! Pikiran langsung melesat ke Jogja, ke Potorono, ke Mas Noor, sahabat tercinta yang menjadi sahabatnya sepeda.

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.
Hal pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti…

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.

Pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti.

Selain ngebut, menurut ukuran Jawa, mereka juga kurang sopan, misal belok atau nyabrang tidak tengok kanan-kiri. Anehnya belum pernah tabrakan. Saya menduga style nyepeda demikian terkait dengan serba teraturnya lalu lintas di sini, yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda yang pernah saya lihat di Leiden dan Amsterdam, orang Jerman tidak bersepeda dengan bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Juga tidak berboncengan. Anak-anak memakai sepeda tanpa kayuh dekat ayah mereka, yang lebih kecil lagi masuk kereta sepeda. Sampai bagian famili bersepeda ini saya teringat kawan di masjid. Ali namanya, orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Ali lagi gencar persiapan pulang ke Indonesia dengan istri dan 2 balitanya. Persiapan serius, karena mereka akan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan istri dan 2 anak. Meski tidak juga paham keganjilan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengagumi. Ceritanya tentang pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, mendesir-desir adrenalin dan mengalirkan kegairahan meski berpuluh kali dia ulangi.

Orang jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya mereka efektif dan efisien. Tapi untuk saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, kurang nyaman dengan ini. Sering kali saya terkaget-kaget disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal perasaan sudah ngebut, presneleng mentok dan ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menentramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawat dan tidak biasa bersepeda. Tapi sebenarnya ini juga alasan yang dicari-cari.

Ketiga, [ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut dan tidak jejer dan jagongan] jalan untuk sepeda sudah ditentukan. Warnanya merah, kira-kira lebar 2 meter, dan haluus. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalan untuk kursi roda desabled person, dan pejalan kaki. Juga punya lampu bang jo sendiri, bentuknya mungil menggemaskan. Karuan saja tidak pernah tabrakan…

Selain itu mobil, bus, bahkan trem suka mendahulukan para pengonthel. Dalam rangka mengejar lampu hijau, saya pernah ngebut di belakang mobil yang akan belok. Perhitungan saya, begitu dia selesai belok, jalan di depan saya terbuka, dan saya akan lewat. Pas pokoknya. Ternyata dia malah berhenti, memberi kesempatan saya lewat dulu…

Begitu pula kalau kita hoby potong jalan, ngebut waton, atau agak ugal-ugalan, mereka akan memberikan jalannya. Nanti polisi yang akan menangani. Ditilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, berkisar 20-30euro (450ribu rupiah). Itu harga sepeda bekas saiya…

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi kala ke Belanda kemarin baru sadar kalau ini berbeda. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini ) modelnya relatif modern dan kental sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya bentuknya tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang mribawani, eksotik, dan ngangeni, yang pernah dipunyai Kakek saya, atau kawan-kawan penggiat sepeda tua.

Sepeda Jerman kesan saya canggih, simple, kuat dan sedikit congkak. Kebayakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak pakai kayuh tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal.

Ibu-ibu dan orang tua beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung atau berbentuk jengki, tapi dari stang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gerigi depan. Dengan begitu ruang antara sadel dan setang terkesan lebar.

Ada pula sepeda untuk orang cacat yang dikayuh pakai tangan. Agak aneh juga adalah sepeda roda empat yang naiknya sambil tiduran. Malah ada jenis yang dinaiki orang tua hampir renta, yang jalannya pakai baterei. Saya tidak tahu yang ini masih sepeda atau bukan.Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikan dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannyanya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan lembut, ini jelas sepeda balap atau gunung. Tapi… kok bentuknya jengki. Kali sepeda wandu, atau entahlah.

Tentang kostum. Meski tidak semua, orang di sini bersepeda dengan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Pemandangan yang hanya sekali saya saksikan di Amsterdam. Di Jalan Kaliurang kadang saya lihat penyepeda seperti ini. Rupanya atlit DIY lagi melatih tanjakan Kaliurang.

Model pakaian resmi begini juga berlaku untuk para pengendara sepeda motor, yang rata-rata motor besar. Jadi baik yang naik sepeda onthel maupun sepeda motor wujudnya seperti pembalap semua. Sudah begitu naiknya kencang tidak karuan. Sampai saya berpikir mereka ini pejalan jauh, pembalap sedang latihan, atau orang biasa yang keluar untuk bersepeda, keburu kondangan, atau apa… Kalau orang biasa dan mau ke kantor atau ke rumah teman, seragam begitu cukup merepotkan.Demikian kesan seadanya tentang sepeda disini. Mohon maklum pemirsa.
Selamat bersepeda.

Leipzig, 10 November 2009

Farid Mustofa adalah kandidat doktor di bidang Sosiologi Agama, Universitas Leipzig
 
1 Comment

Posted by on November 15, 2009 in Pengalaman

 

Pengalaman seorang pencari ilmu di Leipzig

Oleh Arli

Menginjakkan kaki ke Jerman, untuk studi atau riset, sudah menjadi mimpi saya sejak mahasiswa S1 tingkat satu di Indonesia. Alhasil, mimpi tersebut baru dapat terealisir, setelah DAAD memberikan surat persetujuan bagi saya untuk studi doktorat/PhD/S3 di jerman. Sewaktu saya berkirim surat dengan profesor di Pusat Bioinformatika Universitas Leipzig, belum ada bayangan akan seperti apa kota yang akan saya datangi. Begitu mengetahui bahwa Leipzig terletak di negara bagian Sachsen merupakan eks DDR (Deutsche Demokratische Republic), langsung saya terbayang beberapa film, yang menggambarkan betapa suramnya eropa timur dibawah pendudukan Uni Soviet. Sewaktu melakukan perjalanan ke Leipzig, bayang-bayang ‘pendudukan Soviet’ tersebut masih terasa di benak.
Namun, setelah menginjakkan kaki di stasiun Leipzig, ternyata semua itu hanya persepsi saya belaka. Leipzig ternyata telah menjadi kota besar, yang secara ekonomi dan politik sejajar dengan kota-kota lain di barat. Pembangunan kota Leipzig dilakukan secara ekstensif, sehingga infrastruktur transportasi tersedia dengan lengkap. Bangunan untuk apartemen mahasiswa, dimana saya tinggal, juga merupakan bangunan baru. Leipzig telah menjadi kota besar, dimana sudah semakin banyak dikunjungi orang asing.
Alhasil, dari sejak hari pertama tiba di pusat bioinformatika Uni Leipzig, saya sudah takjub dengan sistim kerja kelompok penelitian disana. Dalam institusi tersebut, sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas, dalam hal penelitian. Sudah ada kelompok penelitian Bioinformatika yang memiliki kualitas diakui di seluruh eropa. Payung penelitian yang ada, pun memberikan pilihan-pilihan menarik bagi saya. Akhirnya saya memilih topik mengenai bioinformatika protein, karena itu yang lebih menarik dan sesuai dengan latar belakang saya di ilmu kimia. Berbeda dengan persepsi banyak orang mengenai Jerman, yang menganggap bahwa mereka tidak mau berbahasa Inggris, semua mahasiswa yang bekerja di pusat bioinformatika dapat berbahasa Inggris dengan baik.  Generasi muda Jerman memang sudah mulai mempelajari bahasa Inggris, karena pengaruh media massa dan internet. Sikap ‘anglophobia’ sudah mulai perlahan-lahan ditinggalkan oleh Jerman, semenjak semakin banyak dibuka kelas internasional dalam bahasa inggris. Hal yang sama juga sudah diterapkan di Uni Leipzig.
Banyak keluhan yang disampaikan kepada penulis, bahwa orang jerman sangat sukar untuk diajak berteman. Dalam kondisi normal, memang hal itu benar. Sebagai bangsa barat, kultur individualisme mereka sangat kuat. Peran keluarga sudah tidak sedominan di asia, sehingga hubungan antara anggota keluarga bahkan cenderung renggang. Bahkan dalam berteman sekalipun, orang jerman cenderung pemilih. Bukan pada faktor karena kita orang asing, namun lebih pada ‘chemistry’ apakah orang ini pantas dijadikan teman atau tidak. Bahkan diantara orang jerman sendiri, cenderung lingkaran pergaulan mereka tidak seluas orang Indonesia atau orang asia lainnya. Namun, ada beberapa tips, yang dapat mempermudah kita untuk menemukan teman orang jerman. Paling tidak, tips ini berfungsi dengan baik di Leipzig. Akan saya jabarkan dibawah.
Universitas Leipzig memiliki Departemen Studi Timur asing (Institut für Orientwissenschaft). Kompetensi utama dari departemen tersebut adalah melakukan kajian terhadap budaya timur atau asia. Di departemen tersebut, Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah, yang juga diminati mahasiswa Jerman. Bahkan ada yang melakukan penelitian mengenai Bahasa Indonesia. Dalam konteks itu, kita bisa menemukan tandem partner dari mahasiswa jerman yang belajar bahasa Indonesia. Pusat bahasa Uni Leipzig memiliki situs internet, yang dapat mempertemukan kita dengan mahasiswa jerman yang sedang mempelajari bahasa Indonesia. Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa tersebut, kita dapat memperbaiki bahasa jerman, sambil mengajari dia bahasa Indonesia. Ini adalah interaksi yang sangat menarik, sebab kita memang bertemu orang jerman yang tertarik untuk berteman  dengan orang Indonesia.  Sampai sekarang, penulis telah mendapatkan sahabat baik orang jerman dari fasilitas tandem partner tersebut. Dia adalah mahasiswa jerman yang pernah tinggal di Indonesia selama setahun.
Kesan saya terhadap Leipzig, adalah, ini merupakan kota yang sangat bagus untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan sangat menarik untuk mempelajari kultur yang berbeda dengan kita.

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2009 in Pengalaman

 

Tags: , , ,