RSS

Category Archives: Persiapan Studi ke Jerman

Impian Menjadi Habibie

Oleh DInaroe

Siapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost (biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitas Studentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internet unlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi.

Dinaroe adalah Mahasiswa Aceh di Jerman dan Sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN)

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 29, 2012 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Doktorat di Jerman: Menjadi Pekerja Ilmu Pengetahuan

Sebelum membaca artikel ini, ada baiknya membaca artikel saya yang sebelumnya mengenai sekolah ke Jerman. Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman saya sendiri, yang sekarang sedang doktorat di Jerman dalam bidang Bioinformatika, di Universitas Leipzig. Adapun, berhubung saya mengambil S1 dan S2 di Indonesia, saya tidak bisa sharing banyak mengenai pengalaman S1 & S2 di jerman, berhubung saya tidak pernah mengikuti sistim perkuliahan Bachelor dan Master Jerman. Saya akan membahas beberapa poin penting mengenai hal ini.

Poin pertama. Latar Belakang pendidikan (S1 & S2) harus sesuai dengan bidang yang ingin dimasuki pada studi S3. Misalnya, jika ingin mengambil doktorat dalam bidang Bioinformatika, maka wajib memiliki dasar yang sangat kuat di bidang Biologi dan IT. Kualifikasi akademis, keilmuan, dan teknis yang kita miliki, harus sesuai dengan apa yang diminta oleh sang Profesor. Lebih jelasnya, bisa langsung hubungi kelompok riset yang kita minati beserta profesornya. Kirimkan CV dan proposal penelitian kita kepada profesor. Jika diminta, berikan juga copy ijazah dan transkrip. Sudah dipastikan, proposal yang kita buat akan dirombak lagi. Namun, inti dari pengiriman proposal ini lebih ditujukan supaya profesor memiliki gambaran yang jelas mengenai latar belakang pendidikan kita.

Poin kedua. Mengenai funding harus jelas dari awal. Apakah kita akan menggunakan beasiswa, atau disponsori oleh Profesor. Mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa, dari sumber Jerman atau Indonesia, sudah dibahas di artikel sebelumnya. Jika kelompok riset tersebut memiliki funding, dan masih ada lowongan untuk funding seorang mahasiswa doktorat, maka kita bisa apply untuk itu.

Poin ketiga. Mengenai status matrikulasi. Syarat untuk lulus dari program doktorat, adalah harus terdaftar sebagai mahasiswa doktorat (Promotion Student). Secara prinsip, matrikulasi bisa dilakukan 6 bulan sebelum ujian akhir (Doktor Prufung). Namun, jika menjadi penerima beasiswa DAAD (DAAD Stipendien), wajib matrikulasi dari sejak semester pertama. Mengenai syarat lengkap matrikulasi, hubungi kantor internasional (Akademisches Auslandsamt) dari Universitas yang bersangkutan. Buka saja situs web dari kantor internasional, biasanya dicantumkan disana. Syarat utama yang dibutuhkan adalah rekomendasi dari profesor, dan beberapa dokumen lain seperti ijazah, toefl, dan lain lain.

Poin keempat. Sistim perkuliahan doktorat di Jerman. Satu hal penting yang harus dicatat, bahwa di tingkat doktorat, perkuliahan sama sekali tidak wajib untuk diikuti. Dalam ‘doktorprufung’, hanya ada satu penilaian, yaitu penilaian mengenai disertasi kita. Tidak ada nilai untuk kuliah. Jika ingin mengikuti kuliah atau praktikum level Bachelor atau Master, bisa saja, namun hubungi kordinator kuliah/praktikum tersebut. Hal itu tidak wajib, dan lebih untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan kita. Sekarang sudah mulai dikembangkan ‘taylor made system’, yaitu doktorat dengan sistim ala US, yang ada kuliahnya. Namun, walau demikian, penekanan utama tetaplah pada riset yang kita lakukan.

Poin kelima. Bekerja secara mandiri. Riset doktorat di Jerman harus dikerjakan secara mandiri, sebab tidak ada seorangpun yang mengawasi secara langsung pekerjaan kita. Memang, kita diwajibkan melaporkan pekerjaan kita secara periodik kepada asisten profesor (Biasanya scientific staff atau Pos doc). Namun, apa yang kita lakukan sehari-hari tidak akan pernah diawasi secara langsung. Setidaknya itu pengalaman saya di laboratorium Bioinformatika. Jika ada yang perlu ditanyakan sehubungan dengan riset kita, bisa langsung segera tanya kepada sesama mahasiswa doktorat, teknis, atau scientific staff secara langsung. Secara umum, kita tidak memberikan laporan atau bertanya mengenai hal-hal teknis kepada profesor. Namun, laporan tetap diberikan pada profesor setiap ada seminar kelompok riset atau departemen.

Sampai disini dulu. Akan saya lanjutkan kemudian. Ciao!.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/doktorat-di-jerman-menjadi-pekerja-ilmu-pengetahuan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags:

Sekolah ke Jerman: Bagaimana caranya dan apa yang harus dipersiapkan?

Oleh Arli

Dalam rangka menjawab pertanyaan beberapa kawan yang berminat studi ke Jerman, maka saya siapkan tulisan ini. Ada beberapa poin yang seyogyanya dipertimbangkan jika ingin studi ke Jerman.

Poin pertama. Selama ini, saya mendapatkan banyak pertanyaan mengenai bagaimana caranya sekolah ke Jerman. Sebenarnya, DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman) sudah memberikan informasi sangat lengkap di situs webnya. Buka saja situs DAAD cabang jakarta di http://jakarta.daad.de/. Situs itu akan memberikan informasi lengkap mengenai prosedur bagaimana cara sekolah ke sana, dan seperti apa sistim pendidikan di Jerman. Mereka juga menyediakan waktu untuk konsultasi pendidikan secara gratis. Jam konsultasinya ada tertera pada situs tersebut. Membuka dan membaca isi situs DAAD, dan kemudian mendatangi atau menghubungi kantor regional mereka di Jakarta adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan informasi studi di Jerman. DAAD juga memberikan beasiswa bagi Dosen, Peneliti, Bisnis/LSM. Informasi lengkap mengenai beasiswa dan cara aplikasinya ada di situs tersebut. Mereka akan dapat memberikan informasi untuk studi tingkat Bachelor (S1), Master (S2), dan PhD (S3).

Poin kedua, adalah menguasai Bahasa Jerman. Walaupun sekarang program Bachelor, Master, dan Phd sudah tersedia dalam bahasa Inggris, menguasai Bahasa jerman tidak ada salahnya. Ini akan berguna jika kita belanja, membaca koran, nonton tv, membaca pengumuman di jalan, dan berkomunikasi sehari-hari. Jika menguasai Bahasa Jerman, maka kita tidak akan merasa terlalu asing dengan suasana negeri Jerman. Hal ini juga akan berguna, untuk berteman dengan orang Jerman. Walau Bahasa Inggris generasi muda Jerman sangat bagus, namun mereka akan lebih senang kalo kita juga menguasai Bahasa Jerman. Jika Bahasa Inggris adalah bahasa resmi untuk riset, akademik, dan bisnis, maka Bahasa Jerman adalah bahasa lobi. Penguasaan Bahasa Jerman adalah salah satu syarat penting, untuk mengurangi efek ‘cultural shock’. Jika akan apply ke beasiswa DAAD, maka mengikuti kursus Jerman adalah syarat mutlak. Ini berlaku, walaupun program studinya sudah dalam bahasa Inggris. DAAD mewajibkan kursus ini, dengan dua pertimbangan. Pertama, untuk keberhasilan integrasi pemegang beasiswa dengan masyarakat Jerman. Kedua, untuk mempromosikan bahasa Jerman. Bagi yang tidak menggunakan jalur DAAD (lihat poin keempat dibawah), bisa hubungi Goethe Institut di Jakarta dan Bandung. Situsnya di  http://www.goethe.de/ins/id/jak/deindex.htm .Jika tidak ada Goethe Institut di kota masing-masing, bisa hubungi Departemen Sastra Jerman dari Universitas di kota masing-masing. Mereka bisa memberikan informasi mengenai kursus Jerman. Paling tidak, tingkat penguasaan bahasa ‘mittelstufe’ (intermediate) adalah syarat minimal untuk bisa berkomunikasi dengan orang Jerman.

Poin ketiga, hubungi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) kota setempat. Walau adalah sangat penting untuk berinteraksi dengan orang Jerman, tidak ada salahnya juga jika kita tetap bersilaturahmi dengan bangsa sendiri. Biasanya, PPI memiliki informasi lengkap mengenai akomodasi, situasi pergaulan, dan juga mengenai studi. Mereka juga dapat banyak sharing mengenai seluk-beluk pengalaman mereka berhubungan dengan orang Jerman. Bahkan, banyak aktivitas bersama yang dapat dilakukan dengan PPI, misalnya olahraga, kesenian, masak bersama, malam indonesia, dan lain-lain. Penting sekali untuk tetap berhubungan dan bersilaturahmi dengan bangsa sendiri, sebab hal itu dapat mengurangi ‘home sick’ secara drastis. Jika tidak terdapat PPI di kota tujuan, bukalah akun facebook atau social networking anda, dan cari orang Indonesia yang satu kota dengan anda. Lalu berkenalanlah secara online. Kemudian copy darat bersama.

Poin keempat. Penting untuk dipertimbangkan, bahwa yang menyediakan beasiswa ke Jerman tidak hanya DAAD ataupun sponsor lain yang berasal dari Jerman (Misal Max-Planck institute, Konrad Adenauer Stiftung, atau Alexander Humbolt Stiftung). Depdiknas (Departemen Pendidikan) RI juga menyediakan beasiswa ke Jerman. Ini berlaku untuk Dosen ataupun Non Dosen. Mereka memiliki kuota yang banyak dan dana yang cukup untuk itu. Keterangan lengkap bisa diklik padahttp://beasiswaunggulan.diknas.go.id/ dan bagi yang Dosen, bisa ditanyakan kepada direktorat kerja sama luar negeri di Universitas masing-masing. Ada perkembangan terbaru terkait beasiswa diknas. Sekarang mereka memiliki program ‘debt swap 5000 doktor’. Silahkan klik http://ds5k.kemdiknas.go.id/untuk informasi lebih lanjut.

Poin kelima. Mengenai masakan. Jika masih setia dengan masakan Indonesia, tidak usah terlalu khawatir. Di Jerman ada banyak asia shop, yang biasanya dimiliki orang Vietnam. Mereka menyediakan bumbu-bumbu dan bahan mentah lainnya, yang dapat diolah menjadi masakan Indonesia. Jika ingin membuat masakan yang halal, bisa pergi ke Toko Turki. Mereka menyediakan bumbu, dan berbagai bahan mentah yang sudah tersertifikasi halal. Restoran Vietnam dan Turki terdapat dimana-mana, sehingga tidak perlu khawatir untuk masalah kuliner.

Poin keenam. Mengenai akomodasi. Ada dua tipe, yaitu apartemen mahasiswa (studentwohnheim) dan privat. Jika berminat untuk apply ke apartemen mahasiswa, harus menghubungi international office dari universitas yang bersangkutan. Namun, jika ingin ke privat, informasinya harus dicari secara mandiri. Bisa ditanyakan ke PPI mengenai hal itu.

Poin ketujuh. Mengenai ibadah. Bagi yang muslim, dan ingin sembahyang ke mesjid, tidak usah khawatir. Sebab mesjid terdapat di seluruh Jerman. Biasanya milik orang Turki dan/atau Arab. Khotbah selain diberikan dalam Bahasa Arab/Turki, juga dalam Bahasa Jerman. Sementara, bagi yang beragama Hindu dan Buddha, juga terdapat komunitas religius dan tempat ibadah (Pura dan Vihara).

Sementara, saya akhiri tulisan ini. Akan saya lanjutkan, setelah mendapatkan feedback dari segenap pembaca. Terima kasih.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/sekolah-ke-jerman-bagaimana-caranya-dan-apa-yang-harus-dipersiapkan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags: