RSS

Category Archives: Renungan

Ini adalah kategori mengenai renungan di kota Leipzig

Nostalgia Cinta Monyet Sang Kopral

oleh Lena

*Tidak seorangpun yang menghitung hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Namanya Maria, gadis cilik anak kumpeni Belanda yang tinggal di Jawa pada masa sebelum perang dunia dua. Gadis berambut blonde yang merasa memiliki tanah ini, ‘Indonesia’ yang dahulu bernama Hindia Belanda. Gadis cilik yang merasa tanah ini adalah tanah airnya.

Waktu itu kira-kira tahun 1930 saat Maria sudah bersekolah di gimnasium, Malang, Jawa Timur. Pada tengah malam yang mencekam di rumahnya di Onderneming gula, Sempalwadak, orang tuanya kedatangan tamu yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa di klampok JawaTengah. Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang disamarkan dan dengan suara lirih, sebuah tanda bagi Maria bahwa dia tidak boleh mengerti maksud dari percakapan itu.

Sebelumnya Maria sudah pernah mendengar tentang PID ‘Politieke Inlichtingen Dienst’ dalam struktur Hindia Belanda waktu itu. Pertanyaan tentang fungsi dan wewenang PID dan semua istilah yang pernah didengarnya tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas. Di umurnya saat itu Maria hanya bisa menyimpan semua pertanyaan  itu di benaknya sampai ia tertidur di sebuah ranjang besi khas Eropa berkelambu putih.

Seperti masa kecil pada umumnya,hari-hari Maria diisi dengan belajar dan bermain. Walau sering dirinya terganggu karena harus berpindah dari Onderneming gula yang satu ke Onderneming gula yang lain. Masa-masa adaptasi dengan lingkungan dan kawan lah yang dianggapnya cukup sulit.

Seperti pagi itu, hari pertamanya sejak ia naik kelas empat. Hari pertamanya belajar di Tulungagung, Jawa Timur.Bersama dengan beberapa anak kumpeni yang lain ia menaiki lori dari  Onderneming Mojopanggung menuju kesekolahnya. Tatapan-tatapan asing yang sudah biasa ia terima dari kawan-kawan barunya membuatnya agak canggung, tapi ia selalu berhasil menutupinya. Bibirnya  selalu menyunggingkan senyuman. Senyuman persahabatan.

Tak banyak yang bisa ia lakukan di dalam lori yang sempit itu. Hanya sesekali menggeser tubuh kekanan dan kekiri atau menekuk kaki barang sesaat. Sebenarnya lori ini dipergunakan untuk mengangkut timbunan batang tebu, tapi karena anak-anak kumpeni dan antek-anteknya sangat membutuhkan alat transportasi maka ada beberapa lori yang dipagari dengan kawat dan seng sebagai atapnya. Hal itulah yang membuat suasana lori saat pulang sekolah panas tak terkira. Jaman itu ternyata adakalanya menjadi anak seorang kumpeni sangatlah sengsara. Bisa dibayangkan jika kehidupan anak kumpeni dan antek-anteknya pada jaman itu lumayan sengsara. Lalu bagaimana dengan masyarakat pribumi?. Orang-orang yang tidak bisa mengelak dari takdir, orang-orang haknya dirampas, diinjak-injak dan tidak dihargai. Tapi mereka memilih untuk setia pada negeri ini atau bisa jadi karena mereka tak punya peluang, karena sebenarnya bangsa ini menyimpan bibit-bibit penjilat.

Maria sering kali berhayal bisa bermain dan bercakap-cakap dengan anak-anak pribumi, yang menurutnya tidak mempunyai beda. Tapi entah kenapa hal itu tidak pernah terjadi selama hidupnya.Bahkan pada waktu itu ia tidak berpikiran untuk menanyakan mengapa ada sekolah dasar Belanda, sekolah pribumi atau sekolah desa dan sekolah pribumi berbahasa Belanda atau sering disebut HIS.

Lori terus melaju melewati sawah,perkampungan dan kebun tebu. Maria memeluk tas rajut buatan ibunya, mematuk-matukkan sepatunya ke lantai lori dan matanya berkeliaran liar mencari sesuatuyang menarik. Di hamparan sawah yang sepi sesosok lelaki kecil yang mungkin sebaya dengannya, terlihat sedang mencari-cari sesuatu di tanah. Kulitnya agak gelap, bertelanjang dada dan memakai ikat kepala. Bunyi lori yang ditumpangi Maria dan kawan-kawannya menyita perhatiannya. Matanya tepat memandang mata biru Maria. Wajahnya lugu, takjub seperti melihat sesuatu jatuh dari langit.Entah kenapa Maria mendadak melambaikan tangan dan tersenyum pada bocah kampung itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bocah itu pun melambaikan tanyannya ke arah Maria, bukan hanya dengan senyum, tapi bahkan dengan tawa riang seolah ia mendapatkan sesuatu yang berharga.

Beberapa orang akan datang untuk sekedar mewarnai, mengaduk-aduk hidup kita, meninggalkan kenangan dan pergi dan bahkan banyak yang tak kembali. Itu lah hidup. Orang yang paling bertanggungjawab atas hidup kita adalah kita sendiri. Kalau dalam film merekalah figurannya dan kita adalah pemeran utamanya. Mereka tidak mungkin menyelesaikan semua skenario, karena mereka bukan pemeran utamanya, tapi kita. Karena ituadalah skenario kita. Begitu pula dengan mereka, kita lah figurannya dan merekalah pemeran utamanya, merekalah yang harus menyelesaikan semuanya sampai akhir,karena itu adalah skenario mereka. Begitulah kita, seperti cerita. Tiap-tiap kita adalah kisah.

Lalu bagaimana dengan Kopral joko?,Bocah kampung yang dahulu bertemu dengan Maria anak si kumpeni Belanda.Ternyata Maria hanya datang untuk mengaduk-aduk hidupnya dan pergi, tak pernahkembali. Maria mungkin sudah lupa dengan kejadian puluhan tahun itu. Dia tidak pernah tau lambaian tangan dan senyumnya meninggalkan kenangan mendalam bagiJoko. Bagi Joko tatapan mata birunya ‘sesaat untuk selamanya’. Maria tidakpernah tau bahwa, bocah kampung itu menjadi sulit tidur gara-gara selaludibayang-bayangi senyum manisnya, Maria tidak pernah tau bahwa bocah kampungitu sering melamun dan tersenyum sendiri jika teringat pertemuan dengannya danMaria tidak pernah tau jika sampai sekarang pun bocah kampung itu masih dapatmengingat wajahnya yang elok dengan jelas. Bocah kampung itu telah jatuh cintapada Maria…, cinta monyetnya…

“Ini Pak nasinya…”, seorangmahasiswa dengan jas almamater berwarna coklat muda yang mungkin adalah salahsatu panitia menghampirinya.

Kopral Joko terhenyak darilamunannya. Wajahnya terlihat sangat lelah sesaat setelah upacara kemerdekaan,tapi semangat darah juangnya masih tetap mengalir di balik kulitnya yang makinkusut dan keriput.

“Maturnuwun nak…”, si Kopralmenerima sebuah bungkusan nasi dan segelas air mineral yang diberikan mahasiswaitu. Wajahnya tersenyum tulus ikhlas, wajah surga…, dan seperti biasa sesaatsetelah itu dia terlupakan oleh kita, anak-anak jaman.

Kawan… mengapa kita selalumemusatkan perhatian pada mereka, orang-orang super, tokoh-tokoh politisi dansosok-sosok yang disorot ramai karena prestasi mereka?, oke saya setuju denganprestasi, tapi bagaimana dengan mereka???, mereka yang memberikan yang terbaikyang mereka punya untuk kita, tapi tidak pernah menuntut pengakuan, hadiah ataupenghargaan, apa lagi ketenaran. Kawan….,

bagaimana dengan mereka?????????????!!!!!!!!!!.

*Tidak seorangpun yang menghitunghitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Lena Citra Manggalasari adalah mahasiswa master pada technische universitaet dresden. Jurusan vocational education and personnel capacity building. Berada di leipzig untuk mengikuti program INTERDAF Deutsch Kurs

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2011 in Renungan

 

Kesan Idul Adha di Leipzig

oleh Dinaroe

1 malam sebelumnya…

Sesaat setelah selesai mengerjakan draft presentasi pukul 23.00 malam, segera kulakukan hal-hal yg perlu dipersiapkan menjelang tidurku. Ya benar kawan, PERSIAPAN TIDUR. Terasa aneh memang, bahkan untuk tidur saja harus ada persiapannya. Teringat dulu semasa masih di rumah mungilku nan asri di Aceh sana, hanya merebahkan badan dengan segala posisi yang ku inginkan, cukup sudah untuk memulai ritual suci itu. But, tidak disini kawan, apalagi dimusim yang katanya pepohonan kokoh perkasa saja tertunduk lemah dengan meluruhkan mahkota keindahan daunnya yang berharga, akan menjadi fatal jika aku tak mempersiapkannya dengan baik. Yup, inilah musim gugur kawan.

Segera kukenakan dalaman thermo yang sering disebut orang-orang dengan Long John, tak mengerti mengapa disebut demikian. Kurasa, karena sang pria macho berperawakan bule yang menempel indah di plastik pembungkusnya membuat orang berpikir bahwa John adalah nama yg tepat tuk disandangkan dibanding Mamat, Usop atau Encup. Tak tahulah, yang penting bagiku, aku hanya bisa bersyukur karena si John atau siapapun juga yg telah menciptakan pakaian ini, membuatku mampu untuk bertahan di benua yg menurut ku hanya mengenal 2 musim ini: Musim dingin dan musim sangat dingin.

Tak cukup sampai disitu, celana training berlapis wol dan baju sweater berlengan panjang pun kukenakan diatas dalaman tersebut, diikuti dengan kaus kaki panjang berstandar pemain sepak bola internasional menempel ketat di betisku. Tak cukup puas, kuputar pula tombol pemanas ruangan hingga melewati angka maksimal 5 serta kututup rapat semua jendela serta celah-celah yang memungkinkan udara dapat berlalu lalang dengan bebasnya laksana jalan tol di kota-kota besar sana.

Akhirnya kubentangkan sebuah kain tenunan panjang seukuran karpet kecil pemberian ibuku diatas tempat tidur mungil berukuran 120 x 200 cm tempat biasa ku beristirahat dan merebahkan diri, dengan harapan dapat menambah kehangatan serta mengurangi kerinduanku akan dirinya nun jauh disana. Selimut tipis berbahan wol pun tak lupa kupersiapkan, ditambah sebuah selimut tebal berbahan sintetis bermotif nuansa biru langit. Yeah, kurasa cukup sudah persiapan ku untuk menutup hari dimalam yang Agung ini.

Kau benar kawan, ini adalah malam yg agung, malam 10 Djulhijjah. Malam dimana pada pagi harinya umat muslim yg menunaikan ibadah hajj melakukan Wukuf di padang arafah guna mengingat kembali peristiwa pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi atas sebab mengingkari Allah dan terpedaya bujukan Syetan. Di Jabar Rahmah inilah mereka selama bertahun-tahun memohon ampun kepada Allah hingga akhirnya tobat mereka pun diterima.

Tak salah jika Padang Arafah ini menjadi salah satu rukun haji. Berada disini didalam suasana hangat dan panas terik yg membakar, memberkan sedikit peringatan dan gambaran kepada kita mengenai bagimana nantinya padang Mahsyar. Saat kita semua tanpa membeda bangsa, pangkat atau kedudukan dihimpun untuk menerima pengadilan berdasarkan amalan semasa kita di dunia. Malam ini juga, malam dimana esok harinya seluruh umat muslim dari berbagai belahan dunia akan berkumpul, bersatu dan berjamaah melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat diikuti setelahnya dengan ritual penyembelihan hewan qurban.

Tak terasa hampir 2 lebaran kulalui di perantauan. Tanpa segala tradisi meugang (membeli dan memasak daging beberapa hari sebelum Lebaran), kemeriahan malam lebaran, gema takbir membahana dan tentunya kedua orang tuaku tercinta. 2 lebaran pula kulalui di negara berpenduduk lebih dari 81 juta jiwa dengan hampir 62% nya beragama kristen diikuti oleh Islam, Atheis,Yahudi dan Budha.

Tak perlu lah kuceritakan suka dukanya, karena itu semua adalah pembelajaran dan hikmah yang akan tersimpan dalam sebuah kata yg disebut pengalaman. Tak akan ku temui lagi kesempatan seperti ini, disaat segala latar belakang mayoritas berubah menjadi minoritas baik dari sisi religi maupun asal. Satu hal yg dapat kukatan pada dirimu wahai kawan, syukurilah nikmat iman dan islam yg telah kita miliki selagi kita masih memiliki waktu dan kesempatan untuk menikmatinya. Bersyukurlah kau kawan karena kau mungkin masih bisa dengan begitu mudahnya melaksanakan segala ibadah tanpa ada tekanan atau hambatan, dan jangan sia-siakan kesempatan ini sebagaimana mungkin aku yang tidak begitu mudah melakukannya disini.

———–******—————–

Sebelum tidur ku-cross check kembali jadwal kuliah untuk esok hari. Besar harapan bahwa selama ini aku salah melihat jadwal. Jika bukan aku yang salah melihat jadwal, kuharap jadwalnya lah yang salah memberi informasi kepadaku. Tapi, kenyataan tetap tak berubah. Tetap saja nama profesor itu bertengger dengan indah nya di deretan angka 09.15 pagi.

Hampa sudah harapan untuk melaksanakan ibadah sunnat setahun sekali itu. Apakah tak cukup penderitaan berlebaran dirantau saja yang aku terima, hingga harus kau tambah lagi dengan tidak memberiku kesempatan tuk melaksanakan ibadah sunnat ini wahai kau pemimpin negeri, teriakku miris dalam hati. Tapi apalah daya, Istana negara di Berlin sana tentunya tak kan mampu mendengar lengkingan suara 180Hz ku yang kian parau karna menahan kesedihan.

Namun benarlah bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Salah seorang sahabat sekaligus teman kelasku asal Bangladesh,tak lama kemudian memberitahukan bahwa shalat ied akan dilaksanakan pukul 08.15 pagi. Dipercepat 1 jam dari jadwal sebenarnya, mengingat banyak jamaah lain yang juga harus bekerja dan melakukan aktivitas lainnya di hari tersebut. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kau memberikan kesempatan indah ini kepada hamba-Mu.

Tanpa menunggu lama, kusetel alarm di handphone ku untuk bangun lebih awal esok pagi. Ingin ku membersihkan diri dan berdandan dengan sempurna tuk menyambut hari yg agung itu. Kurencanakan juga sedikit waktu untuk memasak makanan sederhana, sebagai bentuk perayaan hari Ied mubarak ini. Tentu bukan sebuah makanan lengkap berbumbu sebagaimana yang kurasakan saat dikampung halaman dulu. Hanya roti wafel ditambah sedkit gorengan kentang dan telur mata sapi sudahlah cukup sebagai simbol. Tak lupa pula “sop” sayur dan nasi putih ku persiapkan sebagai menu pendamping guna menghadapi beban pelajaran yang harus kuterima sesaat setelah ritual ibadah ini selesai. Dan untuk melepas dahaga, cukuplah air keran sebagai simbol pengganti timun kerok + sirup Marjan. Alhamdulillah…!!

Sebelum melangkah menuju tempat tidur, kuhitung-hitung kembali rencana perjalanan yang akan kutempuh esok hari, agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Waktu adalah hal yang paling krusial di negara berbangsa Aria ini. 1 menit keterlambatan berarti mempersiapkan diri untuk merubah seluruh rencana 15 menit lebih lama. Transportasi disini sangat terpaku pada waktu. Jangan berharap bahwa Tram atau Bus disini seperti angkutan kota yang berseliweran setiap menitnya. Sebaliknya, yang kau dapati tak lebih hanya jalanan/rel kosong sembari duduk termangu di halte sambil menahan dingin yang menusuk tulang menunggu kedatangan mereka pada jadwal berikutnya. Kusarankan agar kau jangan mencobanya kawan, karena aku pernah dan penderitaan hanyalah hadiah yg kau terima.

30 menit waktu yang harus kutempuh dari kediamanku di Kiewerstrasse menuju Hauptbahnhof. Kemudian 15 menit tambahan waktu kubutuhkan untuk menuju Masjid yang terletak di kawasan Leipzig Zentrum Nord itu. Setelahnya, 20 menit adalah waktu minimal yang harus kutempuh untuk menuju gedung perkuliahanku di Bethoovenstrasse dari mesjid Ar-Rahman tersebut. Berarti setidaknya, aku harus berangkat paling telat pukul 07.23 dari wohnung ku dan segera meninggalkan mesjid paling tidak pukul 08.50 pagi. Semoga saja dalam waktu yg singkat ini dapat kulaksanakan ibadah sunnah ini dengan sempurna dan segala amal ibadah ku diterima di sisi Allah SWT.

Segalanya telah dipersiapkan. Tak ada lagi yg mampu keperbuat selain berserah diri kepada Allah. Dengan langkah mantap kututup hari sembari memenjamkan mata dan membaca doa dalam hati. Berharap esok hari akan lebih baik dari hari-hari yg telah terlampaui. Amin…!!

Leipzig, 16/11/10 22:38

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2011 in Renungan