RSS

Perjuangan Tim PPI Leipzig di Sportfest Berlin

Oleh Arli

Walaupun PPI Leipzig baru terbentuk 2 bulan, namun ternyata tim olahraganya sudah mencetak prestasi. Sportfest Berlin adalah saksinya. Semua ini tak lepas dari perjuangan atlet-atletnya. Bagaimana ceritanya?

Sepintas Sportfest Berlin

Sportfest Berlin adalah event olahraga yang diadakan oleh PPI Berlin. Event ini dilaksanakan antara tanggal 23-24 Juli 2011. Cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan sangatlah bervariasi, diantaranya bulutangkis, mini sepakbola, voli, basket, atletik 4×1100, dan tarik tambang. Kita semua sudah memahami, bahwa tim unggulan seperti PPI Goettingen, PPI Berlin, dan Frada sudah dipastikan akan mendominasi semua event pertandingan. Sebagai tuan rumah, Berlin pun dipastikan akan dapat dukungan penuh dari supporter. Namun, justru posisi ‘underdog’ membuat tim PPI Leipzig berjuang tanpa beban sedikitpun. Justru dengan bertanding tanpa beban inilah, maka prestasi dapat dicetak.

Cabang olah raga yang diikuti

Adapun, dengan keterbatasan SDM yang ada, kami memutuskan untuk mengikuti beberapa cabor. Yaitu Mini sepakbola, Voli, Atletik, dan Tarik tambang. Keterbatasan SDM memang memaksa kami untuk mengambil keputusan ‘overlapping’ atlet cabor, yaitu adanya beberapa atlet yang mengikuti beberapa cabor sekaligus. Hal ini yang harus dievaluasi lebih lanjut, karena atlet yang ‘overlaping’ jelas akan perform kurang maksimal.
Sebagai ‘bayi’ yang baru berumur 2 bulan, jelas tim olahraga PPI Leipzig harus lebih optimum dalam lakukan pemetaan keunggulannya. Alhasil, ada beberapa atlet cabor atletik, yaitu Anang, Dicky, Rafa, dan Ariel, yang mau tidak mau juga mengikuti cabor lain. Sebelum cabor atletik dimulai, mereka berempat sudah bermain mini soccer terlebih dahulu. Walaupun Anang dan Dicky, karena sudah sangat berpengalaman, sama sekali tidak terpengaruh dengan ‘overlapping’ yang sangat menguras stamina ini, namun tidak demikian dengan Rafa dan Ariel. Kondisinya, Rafa dan Ariel harus mengikuti perlombaan atletik, walaupun sudah sangat kecapaian setelah mengikuti cabor mini sepakbola.

PPI Leipzig membawa pulang medali atletik

Alhasil, beberapa saat setelah tim PPI Leipzig ‘kandas’ di cabor mini sepakbola, perlombaan atletik 4×1100 meter dimulai. Seperti apa sih perlombaan atletik ini? Lengkapnya, atletik 4×1100 meter adalah lari estafet dengan menggunakan 4 atlet. Lintasan yang harus dilalui bukalah lintasan yang biasa digunakan pada pertandingan atletik, namun lintasan taman. ‘Landscape’ dari lintasan tersebut sangatlah bervariasi, ada naik turunnya. Memang, dari perpektif atletik, lintasan tersebut sangatlah menantang. Harus sangat memahami medan untuk menaklukkannya.
Alhasil, perlombaan atletik dimulai dengan lari satu-satu. Jadi tidak semua pelari akan melintasi lintasan, tapi dilepas satu persatu. Di tim leipzig, Dicky memulai sebagai pelari pertama, dan mencetak waktu 3 menit 48 detik. Sementara Anang menjadi pelari kedua, dan mencetak waktu 4 menit 11 detik. Secara kumulatif, apa yang dicapai kedua pelari awal ini sudah sangatlah luar biasa, seperti apa yang pernah mereka capai di event PON dan SEAGAMES. Namun, tibalah waktu bagi pelari ketiga, yaitu Rafa. Sewaktu Rafa lari, kamipun menunggu dia mencapai finish. Namun, 3 menit berlalu, dan 4 menit berlalu, dan tidak sampai-sampai juga. Akhirnya Dicky inisiatif untuk mengecek posisi Rafa, dan ternyata dia sudah mengalami kecapaian yang amat sangat. Akhirnya, setelah berjuang tertatih-tatih, Rafa dapat mencapai garis finish pada menit ke 5. Hal yang sama juga terjadi pada Ariel, dan dia juga tertatih-tatih sebagai pelari terakhir. Dengan perjuangan keras, akhirnya Ariel dapat mencapai finish pada waktu 4 menit 40 detik. Sewaktu tim leipzig selesai berlari, dan mengamati tim lawan, awalnya kami sudah pesimis akan mendapatkan medali. Namun, ternyata tim leipzig tetaplah mendapatkan medali perak. Bagi kami, ini adalah hal yang harus sangat disyukuri, sebab sebagai ‘underdog’ tidak memasang target muluk-muluk. Medali perak ini bisa didapat, tidak lepas dari perjuangan keempat atlet kita, dan juga persiapan latihan yang cukup.

Pemetaan di cabor lain

Selesai dengan Atletik, tim leipzig mengikuti perlombaan voli. Pada hari pertama, Leipzig dapat menumbangkan tim brandenburg. Namun di hari kedua, terjadi kekurangan pemain. Alhasil Pertandingan voli antara PPI Leipzig versus Berlin dan kemudian Zittau, dibantu oleh Bli Made dari Thurigen. Kita menang voli melawan brandenburg dan zittau, dan kalah melawan Berlin 1. Namun secara kumulatif poin tidak mencukupi untuk memasuki babak utama.
Namun, tim leipzig tetap mendapatkan kehormatan dalam bentuk lain. Anang dan Dicky menjadi wasit pertandingan final voli putera antara PPI Goettingen versus Frada. Mereka berdua pun sudah diminta untuk menjadi wasit di event sportfest mendatang. Permintaan ini datang langsung dari panitia sendiri.
Kami juga memutuskan mundur dari tarik tambang, karena tim sudah sangat kecapaian.

Optimasi cabor kedepan

Perlu optimalisasi sdm, agar tidak terjadi overlapping cabor. Tumpang-tindih inilah yang sebabkan cabor yang diikuti sama sekali tidak dapat tampil secara optimum.
Meningkatkan kekompakan secara internal (ke dalam leipzig) dan eksternal (ke seluruh wilayah Sachsen dan Sachsen-Anhalt). Kekurangan sdm atlet harus secara dibenahi, dengan tingkatkan kekompakan. Harus diupayakan latihan secara reguler terhadap cabor dimana kita punya potensi (voli dan atletik), dan dilakukan pemetaan dan pembinaan lebih lanjut terhadap cabor lain.
Perlu ada tim supporter yang baik. Keberhasilan Goettingen, Berlin, dan Frada juga dikarenakan mereka memiliki basis supporter. Leipzig harus bekerja keras untuk optimalisasi tim supporternya.

Ucapan Terima Kasih

Kepada Akang Dicky, yang khusus mendatangi Leipzig untuk membela tim kami.
Kepada Bli Made (Thuringen) atas bantuannya di Voli Putera.

Penulis adalah Penggemar Olah Raga

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 24, 2011 in Pengalaman

 

Tags:

Surat dari Ibunda

Oleh Dinaroe

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi hari waktu Jerman. Namun suasana masih terasa gelap dan kelabu layaknya subuh hari di Indonesia. Mentari pagi masih bersembunyi malu memancarkan sinar jingganya diantara celah awan-awan mendung yang bergantung pilu. Menandakan musim gugur telah tiba tuk mengisi waktu.

Hanya 10 menit lagi waktu yg tersisa bagiku untuk men-shut down komputer, mematikan lampu-lampu kamar, memakai sepatu dan mengejar Bus Linie 2 yg selalu dengan gagahnya menunggu di tiap menit ke-10 di setiap jamnya. Tak ada waktu bagiku tuk bersantai dan berleha, jika tak ingin melihat kepulan asapnya yg melambai dan berlalu dengan ponggahnya dalam hitungan detik. Yaah typisch Deutsch teman-temanku menyebutnya.

Rutinitas standar yg kulakukan; meng-log out Facebook, mematikan Yahoo messenger dan menutup account email -ku. Semua serba terurut, teratur dan tertib. Tak ada alasan pasti mengapa aku harus menguruti seperti itu, tapi entahlah, mungkin hanya kebiasaan saja. Namun, aku baru merasakan bahwa kebiasaan ini mendatangkan pengaruh besar bagi kehidupanku, pagi ini misalnya.

1 ungelesen email (1 email belum dibaca) tercetak tebal di halaman yahoo ku. Aahh.., palingan hanya sebuah spam atau iklan-iklan yg ngga jelas juntrunganya yg hanya menghambat kepergianku menuju tempat les pagi ini. Sempat tak kuperdulikan dan segera ku arahkan cursor laptop ku ke tulisan Abmelden (Log out) di pojok kanan atas.

Namun benar kata orang, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu penasaran. Tanpa memindahkan tangan dari Pointing Device, kugeser kursor itu ke arah Posteingang (kotak masuk) di bagian kiri tengah dan meng-klik dua kali disana.

Von Bunda Nahrasiah, Betreff ANAKKU DINAROE tercantum disana. Sempat kutertegun sejenak, sebelum sempat melihat isi email itu. Bukan sekali dua kali sih sebenarnya ibundaku mengirim email kepadaku, namun tidak pernah dengan judul yang mengandung sarat makna seperti ini.

Jalan-jalan, makan-makan, tingkah polah ayahku di rumah, tetangga, dan teman-teman kantor bundaku serta masih banyak tema-tema ringan lainnya adalah “sarapan” email yang sering kami sajikan tuk melepas rasa rindu dan kesepian yang membuncah di dada. Bukan tidak ada tema-tema serius yang kami perbincangkan, namun biasanya pasti berhubungan dengan tema-tema yg telah kusebutkan sebelumnya. Itulah bundaku, yg selalu menganggap

semua tema adalah “ringan”, bahkan untuk “beban” hidup yang ada didirinya sendiri.

Tanpa menunggu lama, tanpa memperdulikan bus yang sudah menunggu di Halte, tanpa
mengingat teman-teman lain yg mungkin sedang bercanda ria sembari bergerak menuju
Bus, kubuka email itu:

ANAKKU…………
Bila bunda boleh memilih Apakah bunda berbadan langsing atau berbadan besar karena
mengandungmu;
Maka bunda akan memilih mengandungmu. ..
Karena dalam mengandungmu bunda merasakan keajaiban dan kebesaran Allah.

Engkau hidup di perut bunda. Engkau ikut kemanapun bunda pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung bunda berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim bunda ketika engkau merasa tidak nyaman, karena kecewa dan
berurai air mata…

ANAKKU…
Bila boleh memilih apakah harus operasi caesar, atau bunda harus berjuang melahirkanmu;
Maka bunda memilih berjuang melahirkanmu.
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat bunda
rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum diantara
peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa bunda ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia .Saat itulah…
Saat paling membahagiakan. Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah, berat
badanmu 4 ½ kg, tubuhmu yg sempurna.

Mendengarkan Abahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di
telinga mungilmu

ANAKKU…
Bila bunda boleh memilih apakah bunda berdada indah, atau harus Bangun tengah malam
untuk menyusuimu;
Maka bunda memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu bunda telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan
tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada bunda dalam kantuk bunda
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa merasakan….

ANAKKU… Bila bunda boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka bunda memilih bermain puzzle denganmu…..

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan bunda, engkau merasa sepi dan merana .Maka maafkanlah nak…
Maafkan bunda…Maafkan bunda… Percayalah nak, bunda sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang

Percayalah nak… Sepi dan ranamu adalah sebagian duka bunda
Percayalah nak… Engkau akan selalu menjadi belahan nyawa BUNDA…dan PAPA

Banda Aceh, 22 September 2010
LOVE U so much

18 menit waktu telah berlalu dari pukul 7 dipagi itu; 8 menit pula waktu telah berlalu
semenjak Bus linie 2 itu merayap pergi meninggalkan halte, selama itu pula aku menitiskan
buliran kecil air mata di kedua belah pipiku. Tak ada kata yg terucap, tak ada bagian tubuh
yg bergerak, hanya pandangan kosong menghampar keluar jendela.
“Love u so much too, Bun…” lirihku lembut bersahaja dan tersenyum bahagia.

Sambil menyeka buliran air mata yang mengalir manja dipipiku, kupersiapkan kembali
peralatan belajarku. Terlihat bahwa hari ini lebih indah dan cerah dari pada biasanya. Tak
tahu mengapa, mungkin karena keyakinan bahwa bunda-ku kan selalu ada dibelakangku dan
selalu mengiringi setiap langkahku.

May Allah always bless u and get healthy soon Bun..!!

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
1 Comment

Posted by on July 13, 2011 in Pengalaman

 

Nostalgia Cinta Monyet Sang Kopral

oleh Lena

*Tidak seorangpun yang menghitung hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Namanya Maria, gadis cilik anak kumpeni Belanda yang tinggal di Jawa pada masa sebelum perang dunia dua. Gadis berambut blonde yang merasa memiliki tanah ini, ‘Indonesia’ yang dahulu bernama Hindia Belanda. Gadis cilik yang merasa tanah ini adalah tanah airnya.

Waktu itu kira-kira tahun 1930 saat Maria sudah bersekolah di gimnasium, Malang, Jawa Timur. Pada tengah malam yang mencekam di rumahnya di Onderneming gula, Sempalwadak, orang tuanya kedatangan tamu yang berbicara tentang peristiwa-peristiwa di klampok JawaTengah. Mereka berbicara dengan istilah-istilah yang disamarkan dan dengan suara lirih, sebuah tanda bagi Maria bahwa dia tidak boleh mengerti maksud dari percakapan itu.

Sebelumnya Maria sudah pernah mendengar tentang PID ‘Politieke Inlichtingen Dienst’ dalam struktur Hindia Belanda waktu itu. Pertanyaan tentang fungsi dan wewenang PID dan semua istilah yang pernah didengarnya tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas. Di umurnya saat itu Maria hanya bisa menyimpan semua pertanyaan  itu di benaknya sampai ia tertidur di sebuah ranjang besi khas Eropa berkelambu putih.

Seperti masa kecil pada umumnya,hari-hari Maria diisi dengan belajar dan bermain. Walau sering dirinya terganggu karena harus berpindah dari Onderneming gula yang satu ke Onderneming gula yang lain. Masa-masa adaptasi dengan lingkungan dan kawan lah yang dianggapnya cukup sulit.

Seperti pagi itu, hari pertamanya sejak ia naik kelas empat. Hari pertamanya belajar di Tulungagung, Jawa Timur.Bersama dengan beberapa anak kumpeni yang lain ia menaiki lori dari  Onderneming Mojopanggung menuju kesekolahnya. Tatapan-tatapan asing yang sudah biasa ia terima dari kawan-kawan barunya membuatnya agak canggung, tapi ia selalu berhasil menutupinya. Bibirnya  selalu menyunggingkan senyuman. Senyuman persahabatan.

Tak banyak yang bisa ia lakukan di dalam lori yang sempit itu. Hanya sesekali menggeser tubuh kekanan dan kekiri atau menekuk kaki barang sesaat. Sebenarnya lori ini dipergunakan untuk mengangkut timbunan batang tebu, tapi karena anak-anak kumpeni dan antek-anteknya sangat membutuhkan alat transportasi maka ada beberapa lori yang dipagari dengan kawat dan seng sebagai atapnya. Hal itulah yang membuat suasana lori saat pulang sekolah panas tak terkira. Jaman itu ternyata adakalanya menjadi anak seorang kumpeni sangatlah sengsara. Bisa dibayangkan jika kehidupan anak kumpeni dan antek-anteknya pada jaman itu lumayan sengsara. Lalu bagaimana dengan masyarakat pribumi?. Orang-orang yang tidak bisa mengelak dari takdir, orang-orang haknya dirampas, diinjak-injak dan tidak dihargai. Tapi mereka memilih untuk setia pada negeri ini atau bisa jadi karena mereka tak punya peluang, karena sebenarnya bangsa ini menyimpan bibit-bibit penjilat.

Maria sering kali berhayal bisa bermain dan bercakap-cakap dengan anak-anak pribumi, yang menurutnya tidak mempunyai beda. Tapi entah kenapa hal itu tidak pernah terjadi selama hidupnya.Bahkan pada waktu itu ia tidak berpikiran untuk menanyakan mengapa ada sekolah dasar Belanda, sekolah pribumi atau sekolah desa dan sekolah pribumi berbahasa Belanda atau sering disebut HIS.

Lori terus melaju melewati sawah,perkampungan dan kebun tebu. Maria memeluk tas rajut buatan ibunya, mematuk-matukkan sepatunya ke lantai lori dan matanya berkeliaran liar mencari sesuatuyang menarik. Di hamparan sawah yang sepi sesosok lelaki kecil yang mungkin sebaya dengannya, terlihat sedang mencari-cari sesuatu di tanah. Kulitnya agak gelap, bertelanjang dada dan memakai ikat kepala. Bunyi lori yang ditumpangi Maria dan kawan-kawannya menyita perhatiannya. Matanya tepat memandang mata biru Maria. Wajahnya lugu, takjub seperti melihat sesuatu jatuh dari langit.Entah kenapa Maria mendadak melambaikan tangan dan tersenyum pada bocah kampung itu. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bocah itu pun melambaikan tanyannya ke arah Maria, bukan hanya dengan senyum, tapi bahkan dengan tawa riang seolah ia mendapatkan sesuatu yang berharga.

Beberapa orang akan datang untuk sekedar mewarnai, mengaduk-aduk hidup kita, meninggalkan kenangan dan pergi dan bahkan banyak yang tak kembali. Itu lah hidup. Orang yang paling bertanggungjawab atas hidup kita adalah kita sendiri. Kalau dalam film merekalah figurannya dan kita adalah pemeran utamanya. Mereka tidak mungkin menyelesaikan semua skenario, karena mereka bukan pemeran utamanya, tapi kita. Karena ituadalah skenario kita. Begitu pula dengan mereka, kita lah figurannya dan merekalah pemeran utamanya, merekalah yang harus menyelesaikan semuanya sampai akhir,karena itu adalah skenario mereka. Begitulah kita, seperti cerita. Tiap-tiap kita adalah kisah.

Lalu bagaimana dengan Kopral joko?,Bocah kampung yang dahulu bertemu dengan Maria anak si kumpeni Belanda.Ternyata Maria hanya datang untuk mengaduk-aduk hidupnya dan pergi, tak pernahkembali. Maria mungkin sudah lupa dengan kejadian puluhan tahun itu. Dia tidak pernah tau lambaian tangan dan senyumnya meninggalkan kenangan mendalam bagiJoko. Bagi Joko tatapan mata birunya ‘sesaat untuk selamanya’. Maria tidakpernah tau bahwa, bocah kampung itu menjadi sulit tidur gara-gara selaludibayang-bayangi senyum manisnya, Maria tidak pernah tau bahwa bocah kampungitu sering melamun dan tersenyum sendiri jika teringat pertemuan dengannya danMaria tidak pernah tau jika sampai sekarang pun bocah kampung itu masih dapatmengingat wajahnya yang elok dengan jelas. Bocah kampung itu telah jatuh cintapada Maria…, cinta monyetnya…

“Ini Pak nasinya…”, seorangmahasiswa dengan jas almamater berwarna coklat muda yang mungkin adalah salahsatu panitia menghampirinya.

Kopral Joko terhenyak darilamunannya. Wajahnya terlihat sangat lelah sesaat setelah upacara kemerdekaan,tapi semangat darah juangnya masih tetap mengalir di balik kulitnya yang makinkusut dan keriput.

“Maturnuwun nak…”, si Kopralmenerima sebuah bungkusan nasi dan segelas air mineral yang diberikan mahasiswaitu. Wajahnya tersenyum tulus ikhlas, wajah surga…, dan seperti biasa sesaatsetelah itu dia terlupakan oleh kita, anak-anak jaman.

Kawan… mengapa kita selalumemusatkan perhatian pada mereka, orang-orang super, tokoh-tokoh politisi dansosok-sosok yang disorot ramai karena prestasi mereka?, oke saya setuju denganprestasi, tapi bagaimana dengan mereka???, mereka yang memberikan yang terbaikyang mereka punya untuk kita, tapi tidak pernah menuntut pengakuan, hadiah ataupenghargaan, apa lagi ketenaran. Kawan….,

bagaimana dengan mereka?????????????!!!!!!!!!!.

*Tidak seorangpun yang menghitunghitung, berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini jikalau aku berjuangdan berkorban untuk mempertahankannya …( Pidato Bung Karno HUT Proklamasi1956 )…DAHULU Mereka yang menumpahkan darah, meninggalkan rumah dan anakistri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu PertiwiIni. sekarang mereka DILUPAKAN DAN DIINJAK oleh KITA (orang orang yang dulu diaperjuangkan.)*

Lena Citra Manggalasari adalah mahasiswa master pada technische universitaet dresden. Jurusan vocational education and personnel capacity building. Berada di leipzig untuk mengikuti program INTERDAF Deutsch Kurs

 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2011 in Renungan

 

Kesan Idul Adha di Leipzig

oleh Dinaroe

1 malam sebelumnya…

Sesaat setelah selesai mengerjakan draft presentasi pukul 23.00 malam, segera kulakukan hal-hal yg perlu dipersiapkan menjelang tidurku. Ya benar kawan, PERSIAPAN TIDUR. Terasa aneh memang, bahkan untuk tidur saja harus ada persiapannya. Teringat dulu semasa masih di rumah mungilku nan asri di Aceh sana, hanya merebahkan badan dengan segala posisi yang ku inginkan, cukup sudah untuk memulai ritual suci itu. But, tidak disini kawan, apalagi dimusim yang katanya pepohonan kokoh perkasa saja tertunduk lemah dengan meluruhkan mahkota keindahan daunnya yang berharga, akan menjadi fatal jika aku tak mempersiapkannya dengan baik. Yup, inilah musim gugur kawan.

Segera kukenakan dalaman thermo yang sering disebut orang-orang dengan Long John, tak mengerti mengapa disebut demikian. Kurasa, karena sang pria macho berperawakan bule yang menempel indah di plastik pembungkusnya membuat orang berpikir bahwa John adalah nama yg tepat tuk disandangkan dibanding Mamat, Usop atau Encup. Tak tahulah, yang penting bagiku, aku hanya bisa bersyukur karena si John atau siapapun juga yg telah menciptakan pakaian ini, membuatku mampu untuk bertahan di benua yg menurut ku hanya mengenal 2 musim ini: Musim dingin dan musim sangat dingin.

Tak cukup sampai disitu, celana training berlapis wol dan baju sweater berlengan panjang pun kukenakan diatas dalaman tersebut, diikuti dengan kaus kaki panjang berstandar pemain sepak bola internasional menempel ketat di betisku. Tak cukup puas, kuputar pula tombol pemanas ruangan hingga melewati angka maksimal 5 serta kututup rapat semua jendela serta celah-celah yang memungkinkan udara dapat berlalu lalang dengan bebasnya laksana jalan tol di kota-kota besar sana.

Akhirnya kubentangkan sebuah kain tenunan panjang seukuran karpet kecil pemberian ibuku diatas tempat tidur mungil berukuran 120 x 200 cm tempat biasa ku beristirahat dan merebahkan diri, dengan harapan dapat menambah kehangatan serta mengurangi kerinduanku akan dirinya nun jauh disana. Selimut tipis berbahan wol pun tak lupa kupersiapkan, ditambah sebuah selimut tebal berbahan sintetis bermotif nuansa biru langit. Yeah, kurasa cukup sudah persiapan ku untuk menutup hari dimalam yang Agung ini.

Kau benar kawan, ini adalah malam yg agung, malam 10 Djulhijjah. Malam dimana pada pagi harinya umat muslim yg menunaikan ibadah hajj melakukan Wukuf di padang arafah guna mengingat kembali peristiwa pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi atas sebab mengingkari Allah dan terpedaya bujukan Syetan. Di Jabar Rahmah inilah mereka selama bertahun-tahun memohon ampun kepada Allah hingga akhirnya tobat mereka pun diterima.

Tak salah jika Padang Arafah ini menjadi salah satu rukun haji. Berada disini didalam suasana hangat dan panas terik yg membakar, memberkan sedikit peringatan dan gambaran kepada kita mengenai bagimana nantinya padang Mahsyar. Saat kita semua tanpa membeda bangsa, pangkat atau kedudukan dihimpun untuk menerima pengadilan berdasarkan amalan semasa kita di dunia. Malam ini juga, malam dimana esok harinya seluruh umat muslim dari berbagai belahan dunia akan berkumpul, bersatu dan berjamaah melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat diikuti setelahnya dengan ritual penyembelihan hewan qurban.

Tak terasa hampir 2 lebaran kulalui di perantauan. Tanpa segala tradisi meugang (membeli dan memasak daging beberapa hari sebelum Lebaran), kemeriahan malam lebaran, gema takbir membahana dan tentunya kedua orang tuaku tercinta. 2 lebaran pula kulalui di negara berpenduduk lebih dari 81 juta jiwa dengan hampir 62% nya beragama kristen diikuti oleh Islam, Atheis,Yahudi dan Budha.

Tak perlu lah kuceritakan suka dukanya, karena itu semua adalah pembelajaran dan hikmah yang akan tersimpan dalam sebuah kata yg disebut pengalaman. Tak akan ku temui lagi kesempatan seperti ini, disaat segala latar belakang mayoritas berubah menjadi minoritas baik dari sisi religi maupun asal. Satu hal yg dapat kukatan pada dirimu wahai kawan, syukurilah nikmat iman dan islam yg telah kita miliki selagi kita masih memiliki waktu dan kesempatan untuk menikmatinya. Bersyukurlah kau kawan karena kau mungkin masih bisa dengan begitu mudahnya melaksanakan segala ibadah tanpa ada tekanan atau hambatan, dan jangan sia-siakan kesempatan ini sebagaimana mungkin aku yang tidak begitu mudah melakukannya disini.

———–******—————–

Sebelum tidur ku-cross check kembali jadwal kuliah untuk esok hari. Besar harapan bahwa selama ini aku salah melihat jadwal. Jika bukan aku yang salah melihat jadwal, kuharap jadwalnya lah yang salah memberi informasi kepadaku. Tapi, kenyataan tetap tak berubah. Tetap saja nama profesor itu bertengger dengan indah nya di deretan angka 09.15 pagi.

Hampa sudah harapan untuk melaksanakan ibadah sunnat setahun sekali itu. Apakah tak cukup penderitaan berlebaran dirantau saja yang aku terima, hingga harus kau tambah lagi dengan tidak memberiku kesempatan tuk melaksanakan ibadah sunnat ini wahai kau pemimpin negeri, teriakku miris dalam hati. Tapi apalah daya, Istana negara di Berlin sana tentunya tak kan mampu mendengar lengkingan suara 180Hz ku yang kian parau karna menahan kesedihan.

Namun benarlah bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Salah seorang sahabat sekaligus teman kelasku asal Bangladesh,tak lama kemudian memberitahukan bahwa shalat ied akan dilaksanakan pukul 08.15 pagi. Dipercepat 1 jam dari jadwal sebenarnya, mengingat banyak jamaah lain yang juga harus bekerja dan melakukan aktivitas lainnya di hari tersebut. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kau memberikan kesempatan indah ini kepada hamba-Mu.

Tanpa menunggu lama, kusetel alarm di handphone ku untuk bangun lebih awal esok pagi. Ingin ku membersihkan diri dan berdandan dengan sempurna tuk menyambut hari yg agung itu. Kurencanakan juga sedikit waktu untuk memasak makanan sederhana, sebagai bentuk perayaan hari Ied mubarak ini. Tentu bukan sebuah makanan lengkap berbumbu sebagaimana yang kurasakan saat dikampung halaman dulu. Hanya roti wafel ditambah sedkit gorengan kentang dan telur mata sapi sudahlah cukup sebagai simbol. Tak lupa pula “sop” sayur dan nasi putih ku persiapkan sebagai menu pendamping guna menghadapi beban pelajaran yang harus kuterima sesaat setelah ritual ibadah ini selesai. Dan untuk melepas dahaga, cukuplah air keran sebagai simbol pengganti timun kerok + sirup Marjan. Alhamdulillah…!!

Sebelum melangkah menuju tempat tidur, kuhitung-hitung kembali rencana perjalanan yang akan kutempuh esok hari, agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Waktu adalah hal yang paling krusial di negara berbangsa Aria ini. 1 menit keterlambatan berarti mempersiapkan diri untuk merubah seluruh rencana 15 menit lebih lama. Transportasi disini sangat terpaku pada waktu. Jangan berharap bahwa Tram atau Bus disini seperti angkutan kota yang berseliweran setiap menitnya. Sebaliknya, yang kau dapati tak lebih hanya jalanan/rel kosong sembari duduk termangu di halte sambil menahan dingin yang menusuk tulang menunggu kedatangan mereka pada jadwal berikutnya. Kusarankan agar kau jangan mencobanya kawan, karena aku pernah dan penderitaan hanyalah hadiah yg kau terima.

30 menit waktu yang harus kutempuh dari kediamanku di Kiewerstrasse menuju Hauptbahnhof. Kemudian 15 menit tambahan waktu kubutuhkan untuk menuju Masjid yang terletak di kawasan Leipzig Zentrum Nord itu. Setelahnya, 20 menit adalah waktu minimal yang harus kutempuh untuk menuju gedung perkuliahanku di Bethoovenstrasse dari mesjid Ar-Rahman tersebut. Berarti setidaknya, aku harus berangkat paling telat pukul 07.23 dari wohnung ku dan segera meninggalkan mesjid paling tidak pukul 08.50 pagi. Semoga saja dalam waktu yg singkat ini dapat kulaksanakan ibadah sunnah ini dengan sempurna dan segala amal ibadah ku diterima di sisi Allah SWT.

Segalanya telah dipersiapkan. Tak ada lagi yg mampu keperbuat selain berserah diri kepada Allah. Dengan langkah mantap kututup hari sembari memenjamkan mata dan membaca doa dalam hati. Berharap esok hari akan lebih baik dari hari-hari yg telah terlampaui. Amin…!!

Leipzig, 16/11/10 22:38

Dinaroe adalah seorang manusia biasa yang berusaha untuk menjadi lain dari pada biasanya dengan usaha-usaha yang tidak biasa pula. Saat ini, masih dalam perantauan dan sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas tertua di belahan timur Jerman, yaitu universitas Leipzig, dalam bidang Entrepreneurship Development.

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2011 in Renungan

 

Sepeda

Oleh Farid

Sebelum berangkat ke Jerman saya tidak membayangkan akan bersepeda. Apalagi mengendarainya setiap hari. Saya memilih menggunakan alat transportasi kebanggan Jerman, yaitu trem yang kenyamanan dan keakuratan jadwalnya terkenal handal.

Setelah hampir 8 bulan di sini, rupanya takdir saya lain. Nyatanya 15 menit lalu, saya memasukkan sepeda ke keller (gudang bawah tanah) setelah terpakai 10 KM untuk Jumatan. Ironisnya, bukan hanya seminggu sekali saya lakukan itu, tapi hampir setiap hari. Artinya saya nyepeda terus.

Saya tinggal di Leipzig, dua jam dari Berlin. Kota komponis J.S Bach, filsof W.Leibniz, F.Nietzsche, dan penyair Goethe ini kira-kira sebesar Jogja tapi sesepi Klaten karena hanya berpenduduk 500.000 jiwa. Di kota ini berdiri universitas tertua kedua di Jerman yang Desember nanti merayakan ultah ke 600nya. Juga rumah opera Gewandhaus Orchestra yang pernah disinggahi komponis besar seperti Bethoven, Wagner, Bach dan menjadi baromater musik klasik Eropa hingga sekarang.

Memang tradisi Leipzig kental dengan seni, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ini masih bisa dinikmati lewat bangunan-bangunan kuno yang berarsitektur indah dari Abad Tengah, Renaissance dan Baroque.

Perang memisahkan Jerman menjadi dua belahan. Tapi tradisi Leipzig dan karakter masyarakatnya yang kuat tak tergerus revolusi kebudayaan komunis ala Uni Soviet. Puncaknya 9 Oktober 1989, 70 ribu warga Leipzig turun jalan meneriakkan yel-yel “We Are The People” dan mengawali revolusi damai yang kemudian menyatukan Jerman kembali, yang secara simbolis ditandai dengan robohnya tembok Berlin.

Pasca penyatuan Jerman, pemerintah menargetkan sampai 2010 eks Jerman Timur akan menyamai Jerman Barat secara fisik maupun kualitas hidup. APBN dialirkan dalam sekala besar, wajah kota dibenahi, industri baru didirikan (salah satunya pabrik BMW di sebelah rumah), hingga pertandingan Brasil vs Belanda pada Piala Dunia lalu digelar di sini. Tahun 2009 ini target telah tercapai 80 persen. Konon pemanjaan ini memicu kecemburuan sebagian warga Barat.

Di kota tua yang bangkit dari masa kelamnya ini, saya mulai mengakrabi sepeda..

Awalnya saya ditakjubkan oleh sistem transportasi di sini. Wajar kalau Jerman menjadi tujuan belajar penataan transportasi modern. Trem dan bus kotanya handal. Lalu lintas mobil –sebagian besar produk Jerman, sebagian lagi buatan Eropa dan sebagian kecil Jepang atau Korea—dan sepeda motor yang rata-rata 750cc ke atas, tertata rapi. Setiap hari, dari dalam trem saya mengamati keteraturan ini. Hingga saya dikejutkan oleh sesuatu yang selama ini terlewat: ternyata banyak orang bersepeda! Pikiran langsung melesat ke Jogja, ke Potorono, ke Mas Noor, sahabat tercinta yang menjadi sahabatnya sepeda.

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.
Hal pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti…

Sejak itu saya makin asyik mengamati sepeda, hingga nanti memutuskan beralih menaikinya.

Pertama yang segara tertangkap adalah orang sini bersepeda dengan kencang, bahkan sangat kencang. Dulu saya kira terburu karena mau hujan, telat atau sebab lain, tapi di sini jarang ada hujan lebat yang musti ngebut supaya selamat. Pun jarang orang lari dikejar atau mengejar waktu. Lalu mengapa ngebut? Alasannya saya temukan nanti.

Selain ngebut, menurut ukuran Jawa, mereka juga kurang sopan, misal belok atau nyabrang tidak tengok kanan-kiri. Anehnya belum pernah tabrakan. Saya menduga style nyepeda demikian terkait dengan serba teraturnya lalu lintas di sini, yang dihasilkan oleh sejenis ketaatan tingkat tinggi pada aturan dan tata krama.

Kedua, berbeda dengan model bersepeda orang Belanda yang pernah saya lihat di Leiden dan Amsterdam, orang Jerman tidak bersepeda dengan bergerombol, rombongan, atau berdampingan. Juga tidak berboncengan. Anak-anak memakai sepeda tanpa kayuh dekat ayah mereka, yang lebih kecil lagi masuk kereta sepeda. Sampai bagian famili bersepeda ini saya teringat kawan di masjid. Ali namanya, orang Bukittinggi yang menikahi wanita Jerman. Ali lagi gencar persiapan pulang ke Indonesia dengan istri dan 2 balitanya. Persiapan serius, karena mereka akan bersepeda! Menempuh jarak 11.000km, melewati 14 negara, dengan istri dan 2 anak. Meski tidak juga paham keganjilan jenis apa yang ada di kepalanya, saya diam-diam mengagumi. Ceritanya tentang pulang bersepeda itu selalu saja menggetarkan, mendesir-desir adrenalin dan mengalirkan kegairahan meski berpuluh kali dia ulangi.

Orang jerman bersepeda sendirian, ngebut, dan biasanya sambil memutar musik dengan MP3 player dan sejenisnya. Kalau melihat sisi positifnya mereka efektif dan efisien. Tapi untuk saya yang baru pemula terjun di jalanan Jerman, kurang nyaman dengan ini. Sering kali saya terkaget-kaget disalib, bahkan oleh ibu-ibu dengan anjing di keranjang belakangnya. Padahal perasaan sudah ngebut, presneleng mentok dan ngos-ngosan. Saya biasanya lalu menentramkan diri dengan menyalahkan sepeda bekas saya, atau ke diri saya sendiri yang tidak tahu cara merawat dan tidak biasa bersepeda. Tapi sebenarnya ini juga alasan yang dicari-cari.

Ketiga, [ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka ngebut dan tidak jejer dan jagongan] jalan untuk sepeda sudah ditentukan. Warnanya merah, kira-kira lebar 2 meter, dan haluus. Berada di bahu jalan utama, track sepeda ini terpisah dari jalan untuk kursi roda desabled person, dan pejalan kaki. Juga punya lampu bang jo sendiri, bentuknya mungil menggemaskan. Karuan saja tidak pernah tabrakan…

Selain itu mobil, bus, bahkan trem suka mendahulukan para pengonthel. Dalam rangka mengejar lampu hijau, saya pernah ngebut di belakang mobil yang akan belok. Perhitungan saya, begitu dia selesai belok, jalan di depan saya terbuka, dan saya akan lewat. Pas pokoknya. Ternyata dia malah berhenti, memberi kesempatan saya lewat dulu…

Begitu pula kalau kita hoby potong jalan, ngebut waton, atau agak ugal-ugalan, mereka akan memberikan jalannya. Nanti polisi yang akan menangani. Ditilang. Denda tergantung besar kecilnya kesalahan, berkisar 20-30euro (450ribu rupiah). Itu harga sepeda bekas saiya…

Keempat, bentuk sepeda dan pakaian pengendaranya. Mulanya saya tidak begitu ngeh. Tapi kala ke Belanda kemarin baru sadar kalau ini berbeda. Sepeda Jerman (sejauh yang saya lihat di kota ini ) modelnya relatif modern dan kental sentuhan teknologi. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Maksud saya bentuknya tidak seperti sepeda Belanda yang familiar di tanah air, yang mribawani, eksotik, dan ngangeni, yang pernah dipunyai Kakek saya, atau kawan-kawan penggiat sepeda tua.

Sepeda Jerman kesan saya canggih, simple, kuat dan sedikit congkak. Kebayakan seperti sepeda gunung atau sepeda balap. Ada juga sepeda dewasa yang tidak pakai kayuh tapi lentur, mirip mototrail yang dipakai menapaki batu-batu terjal.

Ibu-ibu dan orang tua beda lagi sepedanya. Jenisnya seperti sepeda perempuan dengan rangka utama sebesar lengan orang dewasa, bukan lengkung atau berbentuk jengki, tapi dari stang menurun landai mengikuti bentuk roda depan, lalu mendatar bertemu rangka vertikal tempat sadel, di titik tuas gerigi depan. Dengan begitu ruang antara sadel dan setang terkesan lebar.

Ada pula sepeda untuk orang cacat yang dikayuh pakai tangan. Agak aneh juga adalah sepeda roda empat yang naiknya sambil tiduran. Malah ada jenis yang dinaiki orang tua hampir renta, yang jalannya pakai baterei. Saya tidak tahu yang ini masih sepeda atau bukan.Saya sungguh awam soal sepeda sehingga tidak bisa mendeskripsikan dan mengklasifikasikan dengan baik. Sepeda saya sendiri entah jenis apa. Kalau jengki, kok sebesar sepeda laki-laki yang dhalangannyanya melintang itu. Kalau perempuan kok dhalangannya tidak lengkung. Tapi kalau menilik sistem transmisinya yang canggih dan lembut, ini jelas sepeda balap atau gunung. Tapi… kok bentuknya jengki. Kali sepeda wandu, atau entahlah.

Tentang kostum. Meski tidak semua, orang di sini bersepeda dengan pakaian ‘resmi’: helm, kacamata, sarung tangan, kaos dan celana ketat. Pemandangan yang hanya sekali saya saksikan di Amsterdam. Di Jalan Kaliurang kadang saya lihat penyepeda seperti ini. Rupanya atlit DIY lagi melatih tanjakan Kaliurang.

Model pakaian resmi begini juga berlaku untuk para pengendara sepeda motor, yang rata-rata motor besar. Jadi baik yang naik sepeda onthel maupun sepeda motor wujudnya seperti pembalap semua. Sudah begitu naiknya kencang tidak karuan. Sampai saya berpikir mereka ini pejalan jauh, pembalap sedang latihan, atau orang biasa yang keluar untuk bersepeda, keburu kondangan, atau apa… Kalau orang biasa dan mau ke kantor atau ke rumah teman, seragam begitu cukup merepotkan.Demikian kesan seadanya tentang sepeda disini. Mohon maklum pemirsa.
Selamat bersepeda.

Leipzig, 10 November 2009

Farid Mustofa adalah kandidat doktor di bidang Sosiologi Agama, Universitas Leipzig
 
1 Comment

Posted by on November 15, 2009 in Pengalaman

 

Pengalaman seorang pencari ilmu di Leipzig

Oleh Arli

Menginjakkan kaki ke Jerman, untuk studi atau riset, sudah menjadi mimpi saya sejak mahasiswa S1 tingkat satu di Indonesia. Alhasil, mimpi tersebut baru dapat terealisir, setelah DAAD memberikan surat persetujuan bagi saya untuk studi doktorat/PhD/S3 di jerman. Sewaktu saya berkirim surat dengan profesor di Pusat Bioinformatika Universitas Leipzig, belum ada bayangan akan seperti apa kota yang akan saya datangi. Begitu mengetahui bahwa Leipzig terletak di negara bagian Sachsen merupakan eks DDR (Deutsche Demokratische Republic), langsung saya terbayang beberapa film, yang menggambarkan betapa suramnya eropa timur dibawah pendudukan Uni Soviet. Sewaktu melakukan perjalanan ke Leipzig, bayang-bayang ‘pendudukan Soviet’ tersebut masih terasa di benak.
Namun, setelah menginjakkan kaki di stasiun Leipzig, ternyata semua itu hanya persepsi saya belaka. Leipzig ternyata telah menjadi kota besar, yang secara ekonomi dan politik sejajar dengan kota-kota lain di barat. Pembangunan kota Leipzig dilakukan secara ekstensif, sehingga infrastruktur transportasi tersedia dengan lengkap. Bangunan untuk apartemen mahasiswa, dimana saya tinggal, juga merupakan bangunan baru. Leipzig telah menjadi kota besar, dimana sudah semakin banyak dikunjungi orang asing.
Alhasil, dari sejak hari pertama tiba di pusat bioinformatika Uni Leipzig, saya sudah takjub dengan sistim kerja kelompok penelitian disana. Dalam institusi tersebut, sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas, dalam hal penelitian. Sudah ada kelompok penelitian Bioinformatika yang memiliki kualitas diakui di seluruh eropa. Payung penelitian yang ada, pun memberikan pilihan-pilihan menarik bagi saya. Akhirnya saya memilih topik mengenai bioinformatika protein, karena itu yang lebih menarik dan sesuai dengan latar belakang saya di ilmu kimia. Berbeda dengan persepsi banyak orang mengenai Jerman, yang menganggap bahwa mereka tidak mau berbahasa Inggris, semua mahasiswa yang bekerja di pusat bioinformatika dapat berbahasa Inggris dengan baik.  Generasi muda Jerman memang sudah mulai mempelajari bahasa Inggris, karena pengaruh media massa dan internet. Sikap ‘anglophobia’ sudah mulai perlahan-lahan ditinggalkan oleh Jerman, semenjak semakin banyak dibuka kelas internasional dalam bahasa inggris. Hal yang sama juga sudah diterapkan di Uni Leipzig.
Banyak keluhan yang disampaikan kepada penulis, bahwa orang jerman sangat sukar untuk diajak berteman. Dalam kondisi normal, memang hal itu benar. Sebagai bangsa barat, kultur individualisme mereka sangat kuat. Peran keluarga sudah tidak sedominan di asia, sehingga hubungan antara anggota keluarga bahkan cenderung renggang. Bahkan dalam berteman sekalipun, orang jerman cenderung pemilih. Bukan pada faktor karena kita orang asing, namun lebih pada ‘chemistry’ apakah orang ini pantas dijadikan teman atau tidak. Bahkan diantara orang jerman sendiri, cenderung lingkaran pergaulan mereka tidak seluas orang Indonesia atau orang asia lainnya. Namun, ada beberapa tips, yang dapat mempermudah kita untuk menemukan teman orang jerman. Paling tidak, tips ini berfungsi dengan baik di Leipzig. Akan saya jabarkan dibawah.
Universitas Leipzig memiliki Departemen Studi Timur asing (Institut für Orientwissenschaft). Kompetensi utama dari departemen tersebut adalah melakukan kajian terhadap budaya timur atau asia. Di departemen tersebut, Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah, yang juga diminati mahasiswa Jerman. Bahkan ada yang melakukan penelitian mengenai Bahasa Indonesia. Dalam konteks itu, kita bisa menemukan tandem partner dari mahasiswa jerman yang belajar bahasa Indonesia. Pusat bahasa Uni Leipzig memiliki situs internet, yang dapat mempertemukan kita dengan mahasiswa jerman yang sedang mempelajari bahasa Indonesia. Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa tersebut, kita dapat memperbaiki bahasa jerman, sambil mengajari dia bahasa Indonesia. Ini adalah interaksi yang sangat menarik, sebab kita memang bertemu orang jerman yang tertarik untuk berteman  dengan orang Indonesia.  Sampai sekarang, penulis telah mendapatkan sahabat baik orang jerman dari fasilitas tandem partner tersebut. Dia adalah mahasiswa jerman yang pernah tinggal di Indonesia selama setahun.
Kesan saya terhadap Leipzig, adalah, ini merupakan kota yang sangat bagus untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan sangat menarik untuk mempelajari kultur yang berbeda dengan kita.

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2009 in Pengalaman

 

Tags: , , ,