RSS

Tag Archives: leipzig

Monumen Kejatuhan Sang Kaisar Eropa

Oleh Dinaroe

Tak terbantahkan lagi eropa merupakan benua yang tepat untuk dijadikan destinasi pelancongan bagi para wisatawan yang menyukai latar belakang cerita sejarah dan kerajaan-kerajaan kuno. Apalagi benua yang hampir didominasi oleh ribuan kastil dan monumen ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan kisah menarik di setiap jengkal sudut kotanya. Kisah Napoleon Bonaparte sebagai contohnya. Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak anda untuk bercerita sedikit mengenai sang Kaisar Eropa yang termahsyur ini.

Siapapun pasti mengenal Napoleon, sang kaisar Perancis yang mengaklamasikan dirinya sebagai Kaisar Eropa pada abad ke XIX. Pria kelahiran Corsica ini pada awalnya hanyalah seorang perwira militer Perancis biasa yang kemudian menjelma menjadi seorang pemimpin politik yang melahirkan Revolusi Perancis, hingga akhirnya menjadi sang Kaisar Perancis ternama.

Meskipun banyak cerita sejarah yang menceritakan tentang keberhasilan Napoleon yang mampu mendominasi beberapa daerah di benua Eropa, namun mungkin belum banyak pihak yang mengetahui mengenai peristiwa kekalahan telak sang kaisar dikarenakan pembelotan pasukannya sendiri, di sebuah kota di timur Jerman pada tahun 1813 yang dikenal dengan sebutan Battle of Leipzig atau Battle of Nation.

Benar, di kota Leipzig yang terletak dalam negara federal saxony inilah sang kaisar Eropa harus meletakkan tahta kekuasaanya dan harus menyerah kalah pada pasukan koalisi yang dimotori oleh Prussia (Kerajaan Jerman masa lalu), Austria, Rusia dan Swedia. Peristiwa ini pula yang mengakibatkan Napoleon harus mengasingkan diri ke Elba, sebuah pulau di Tuscany, Italia yang berjarak 50 km di sebelah timur Corsica dan akhirnya menyebabkan negara Perancis diinvasi oleh pasukan sekutu pada tahun berikutnya.

Monument to the Battle of the Nations atau dalam bahasa Jermannya disebut Völkerschlachtdenkmal merupakan monumen peringatan untuk mengenang pertempuran antara lebih dari 500.000 prajurit yang berujung kepada gugurnya lebih dari 120.000 prajurit dari 6 bangsa yang ikut berperang. Pembangunan monumen terbesar di Jerman dan ketiga terbesar di Eropa ini mulai direncanakan semenjak tahun 1814 dan baru dapat diselesaikan pada tahun 1913 atau tepat 100 tahun setelah peperangan terjadi.

Bangunan yang hampir menyerupai bentuk candi di Indonesia ini memiliki ketinggian hampir 100 meter dengan luas dan lebar mencapai 125 meter, serta memiliki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Pembangunan monumen ini sendiri berada tepat pada posisi dimana Napoleon Bonaparte pada saat itu memberikan perintah mundur kepada pasukannya dan menyatakan diri kalah perang terhadap Rusia dan Jerman serta pasukan koalisi lainnya yang disebut The Sixth Coalition.

Secara umum, kesan yang ditampilkan oleh monumen ini sangatlah unik dan berkesan mistis. Bukanlah keindahan yang ingin ditawarkan oleh bangunan ini, namun lebih kepada suatu bentuk yang mencerminkan kebesaran dan kedigdayaan. Monumen ini terlihat layaknya sebuah batu hitam besar yang menjulang tinggi diantara bangunan-bangunan di pusat perkotaan Leipzig, yang semakin menambah kesan megah dan mengangumkan dari monumen tersebut. Semakin mendekati bangunan ini, kita akan dapat melihat dan menemukan aspek-aspek estetika dan keindahan yang tersembunyi yang coba ditawarkan oleh tempat ini. Di sekitar monumen misalnya, kita dapat menemukan taman dan danau buatan yang dibangun tepat berada didepan pintu masuk utama bangunan dan dibentuk secara simetris dan bernilai estetis sekali.

Selain itu, Ruhmeshalle atau balai kuil dewa mencoba menawarkan tampilan ukiran dinding layaknya kuil para dewa yang memberikan kesan mengagumkan. Ruangan yang hampir tidak diterangi cahaya ini dipenuhi dengan batu-batu berukiran besar yang menampilkan figur yang melambangkan keberanian, kekuatan dan kesiapan rakyat Jerman untuk berkorban dan memiliki keyakinan teguh. Ditambah dengan atmosfir ruangannya yang suram dengan sedikit cahaya matahari yg dapat menerobos masuk, memberikan kesan efek radiasi yang sangat kuat yang terpancar dari sosok figur tersebut. Di sudut lain yang tidak kalah menariknya, berada tepat di puncak monumen yang hampir mencapai 100 m ini. Disini pengunjung dapat menikmati indahnya suasana kota Leipzig dan lingkungan sub urban disekitarnya, yang menampilkan nuansa keteraturan layaknya kota-kota di eropa pada umumnya.

Bukan hanya Napoleon saja yang memiliki kaitan dengan monumen ini, Adolf Hitler pada masa kepemimpinannya (Third Reich) juga memanfaatkan kemegahan bangunan ini untuk menunjukkan kekuatannya dan juga menjadikan tempat ini sebagai salah satu markas tempat pertemuannya bersama para perwira militer tinggi SS di Leipzig, yang dulunya merupakan kota penting setelah Berlin pada masa pendudukan Nazi. Saat ini, bangunan ini lebih dikenal sebagai monumen Jerman bersatu (German Union) dan monumen persahabatan Jerman – Rusia (Russo -German Brotherhood in arms atau Deutsch-Russische Waffenbrüderschaft).

Tentu bagi seorang pecinta sejarah, ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk dikunjungi dan layak untuk dimasukkan kedalam „list to do“ selain beberapa tempat bersejarah di bekas Jerman timur lainnya. Ditambah lagi dengan murahnya biaya kunjungan ke monumen ini yang hanya sebesar 2 Euro (Rp. 25.000) saja dan lokasinya yang berada tepat di sebelah timur pusat kota Leipzig, semakin membuat perjalanan wisata sejarah ini semakin menarik dan menyenangkan.

Sumber gambar: http://leipzigst.de/post/3379850880/voelkerschlachtdenkmal-leipzig

Dinaroe adalah mahasiswa master SEPT program Universitas Leipzig

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Pengalaman

 

Tags:

Doktorat di Jerman: Menjadi Pekerja Ilmu Pengetahuan

Sebelum membaca artikel ini, ada baiknya membaca artikel saya yang sebelumnya mengenai sekolah ke Jerman. Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman saya sendiri, yang sekarang sedang doktorat di Jerman dalam bidang Bioinformatika, di Universitas Leipzig. Adapun, berhubung saya mengambil S1 dan S2 di Indonesia, saya tidak bisa sharing banyak mengenai pengalaman S1 & S2 di jerman, berhubung saya tidak pernah mengikuti sistim perkuliahan Bachelor dan Master Jerman. Saya akan membahas beberapa poin penting mengenai hal ini.

Poin pertama. Latar Belakang pendidikan (S1 & S2) harus sesuai dengan bidang yang ingin dimasuki pada studi S3. Misalnya, jika ingin mengambil doktorat dalam bidang Bioinformatika, maka wajib memiliki dasar yang sangat kuat di bidang Biologi dan IT. Kualifikasi akademis, keilmuan, dan teknis yang kita miliki, harus sesuai dengan apa yang diminta oleh sang Profesor. Lebih jelasnya, bisa langsung hubungi kelompok riset yang kita minati beserta profesornya. Kirimkan CV dan proposal penelitian kita kepada profesor. Jika diminta, berikan juga copy ijazah dan transkrip. Sudah dipastikan, proposal yang kita buat akan dirombak lagi. Namun, inti dari pengiriman proposal ini lebih ditujukan supaya profesor memiliki gambaran yang jelas mengenai latar belakang pendidikan kita.

Poin kedua. Mengenai funding harus jelas dari awal. Apakah kita akan menggunakan beasiswa, atau disponsori oleh Profesor. Mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa, dari sumber Jerman atau Indonesia, sudah dibahas di artikel sebelumnya. Jika kelompok riset tersebut memiliki funding, dan masih ada lowongan untuk funding seorang mahasiswa doktorat, maka kita bisa apply untuk itu.

Poin ketiga. Mengenai status matrikulasi. Syarat untuk lulus dari program doktorat, adalah harus terdaftar sebagai mahasiswa doktorat (Promotion Student). Secara prinsip, matrikulasi bisa dilakukan 6 bulan sebelum ujian akhir (Doktor Prufung). Namun, jika menjadi penerima beasiswa DAAD (DAAD Stipendien), wajib matrikulasi dari sejak semester pertama. Mengenai syarat lengkap matrikulasi, hubungi kantor internasional (Akademisches Auslandsamt) dari Universitas yang bersangkutan. Buka saja situs web dari kantor internasional, biasanya dicantumkan disana. Syarat utama yang dibutuhkan adalah rekomendasi dari profesor, dan beberapa dokumen lain seperti ijazah, toefl, dan lain lain.

Poin keempat. Sistim perkuliahan doktorat di Jerman. Satu hal penting yang harus dicatat, bahwa di tingkat doktorat, perkuliahan sama sekali tidak wajib untuk diikuti. Dalam ‘doktorprufung’, hanya ada satu penilaian, yaitu penilaian mengenai disertasi kita. Tidak ada nilai untuk kuliah. Jika ingin mengikuti kuliah atau praktikum level Bachelor atau Master, bisa saja, namun hubungi kordinator kuliah/praktikum tersebut. Hal itu tidak wajib, dan lebih untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan kita. Sekarang sudah mulai dikembangkan ‘taylor made system’, yaitu doktorat dengan sistim ala US, yang ada kuliahnya. Namun, walau demikian, penekanan utama tetaplah pada riset yang kita lakukan.

Poin kelima. Bekerja secara mandiri. Riset doktorat di Jerman harus dikerjakan secara mandiri, sebab tidak ada seorangpun yang mengawasi secara langsung pekerjaan kita. Memang, kita diwajibkan melaporkan pekerjaan kita secara periodik kepada asisten profesor (Biasanya scientific staff atau Pos doc). Namun, apa yang kita lakukan sehari-hari tidak akan pernah diawasi secara langsung. Setidaknya itu pengalaman saya di laboratorium Bioinformatika. Jika ada yang perlu ditanyakan sehubungan dengan riset kita, bisa langsung segera tanya kepada sesama mahasiswa doktorat, teknis, atau scientific staff secara langsung. Secara umum, kita tidak memberikan laporan atau bertanya mengenai hal-hal teknis kepada profesor. Namun, laporan tetap diberikan pada profesor setiap ada seminar kelompok riset atau departemen.

Sampai disini dulu. Akan saya lanjutkan kemudian. Ciao!.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/doktorat-di-jerman-menjadi-pekerja-ilmu-pengetahuan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags:

Sekolah ke Jerman: Bagaimana caranya dan apa yang harus dipersiapkan?

Oleh Arli

Dalam rangka menjawab pertanyaan beberapa kawan yang berminat studi ke Jerman, maka saya siapkan tulisan ini. Ada beberapa poin yang seyogyanya dipertimbangkan jika ingin studi ke Jerman.

Poin pertama. Selama ini, saya mendapatkan banyak pertanyaan mengenai bagaimana caranya sekolah ke Jerman. Sebenarnya, DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman) sudah memberikan informasi sangat lengkap di situs webnya. Buka saja situs DAAD cabang jakarta di http://jakarta.daad.de/. Situs itu akan memberikan informasi lengkap mengenai prosedur bagaimana cara sekolah ke sana, dan seperti apa sistim pendidikan di Jerman. Mereka juga menyediakan waktu untuk konsultasi pendidikan secara gratis. Jam konsultasinya ada tertera pada situs tersebut. Membuka dan membaca isi situs DAAD, dan kemudian mendatangi atau menghubungi kantor regional mereka di Jakarta adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan informasi studi di Jerman. DAAD juga memberikan beasiswa bagi Dosen, Peneliti, Bisnis/LSM. Informasi lengkap mengenai beasiswa dan cara aplikasinya ada di situs tersebut. Mereka akan dapat memberikan informasi untuk studi tingkat Bachelor (S1), Master (S2), dan PhD (S3).

Poin kedua, adalah menguasai Bahasa Jerman. Walaupun sekarang program Bachelor, Master, dan Phd sudah tersedia dalam bahasa Inggris, menguasai Bahasa jerman tidak ada salahnya. Ini akan berguna jika kita belanja, membaca koran, nonton tv, membaca pengumuman di jalan, dan berkomunikasi sehari-hari. Jika menguasai Bahasa Jerman, maka kita tidak akan merasa terlalu asing dengan suasana negeri Jerman. Hal ini juga akan berguna, untuk berteman dengan orang Jerman. Walau Bahasa Inggris generasi muda Jerman sangat bagus, namun mereka akan lebih senang kalo kita juga menguasai Bahasa Jerman. Jika Bahasa Inggris adalah bahasa resmi untuk riset, akademik, dan bisnis, maka Bahasa Jerman adalah bahasa lobi. Penguasaan Bahasa Jerman adalah salah satu syarat penting, untuk mengurangi efek ‘cultural shock’. Jika akan apply ke beasiswa DAAD, maka mengikuti kursus Jerman adalah syarat mutlak. Ini berlaku, walaupun program studinya sudah dalam bahasa Inggris. DAAD mewajibkan kursus ini, dengan dua pertimbangan. Pertama, untuk keberhasilan integrasi pemegang beasiswa dengan masyarakat Jerman. Kedua, untuk mempromosikan bahasa Jerman. Bagi yang tidak menggunakan jalur DAAD (lihat poin keempat dibawah), bisa hubungi Goethe Institut di Jakarta dan Bandung. Situsnya di  http://www.goethe.de/ins/id/jak/deindex.htm .Jika tidak ada Goethe Institut di kota masing-masing, bisa hubungi Departemen Sastra Jerman dari Universitas di kota masing-masing. Mereka bisa memberikan informasi mengenai kursus Jerman. Paling tidak, tingkat penguasaan bahasa ‘mittelstufe’ (intermediate) adalah syarat minimal untuk bisa berkomunikasi dengan orang Jerman.

Poin ketiga, hubungi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) kota setempat. Walau adalah sangat penting untuk berinteraksi dengan orang Jerman, tidak ada salahnya juga jika kita tetap bersilaturahmi dengan bangsa sendiri. Biasanya, PPI memiliki informasi lengkap mengenai akomodasi, situasi pergaulan, dan juga mengenai studi. Mereka juga dapat banyak sharing mengenai seluk-beluk pengalaman mereka berhubungan dengan orang Jerman. Bahkan, banyak aktivitas bersama yang dapat dilakukan dengan PPI, misalnya olahraga, kesenian, masak bersama, malam indonesia, dan lain-lain. Penting sekali untuk tetap berhubungan dan bersilaturahmi dengan bangsa sendiri, sebab hal itu dapat mengurangi ‘home sick’ secara drastis. Jika tidak terdapat PPI di kota tujuan, bukalah akun facebook atau social networking anda, dan cari orang Indonesia yang satu kota dengan anda. Lalu berkenalanlah secara online. Kemudian copy darat bersama.

Poin keempat. Penting untuk dipertimbangkan, bahwa yang menyediakan beasiswa ke Jerman tidak hanya DAAD ataupun sponsor lain yang berasal dari Jerman (Misal Max-Planck institute, Konrad Adenauer Stiftung, atau Alexander Humbolt Stiftung). Depdiknas (Departemen Pendidikan) RI juga menyediakan beasiswa ke Jerman. Ini berlaku untuk Dosen ataupun Non Dosen. Mereka memiliki kuota yang banyak dan dana yang cukup untuk itu. Keterangan lengkap bisa diklik padahttp://beasiswaunggulan.diknas.go.id/ dan bagi yang Dosen, bisa ditanyakan kepada direktorat kerja sama luar negeri di Universitas masing-masing. Ada perkembangan terbaru terkait beasiswa diknas. Sekarang mereka memiliki program ‘debt swap 5000 doktor’. Silahkan klik http://ds5k.kemdiknas.go.id/untuk informasi lebih lanjut.

Poin kelima. Mengenai masakan. Jika masih setia dengan masakan Indonesia, tidak usah terlalu khawatir. Di Jerman ada banyak asia shop, yang biasanya dimiliki orang Vietnam. Mereka menyediakan bumbu-bumbu dan bahan mentah lainnya, yang dapat diolah menjadi masakan Indonesia. Jika ingin membuat masakan yang halal, bisa pergi ke Toko Turki. Mereka menyediakan bumbu, dan berbagai bahan mentah yang sudah tersertifikasi halal. Restoran Vietnam dan Turki terdapat dimana-mana, sehingga tidak perlu khawatir untuk masalah kuliner.

Poin keenam. Mengenai akomodasi. Ada dua tipe, yaitu apartemen mahasiswa (studentwohnheim) dan privat. Jika berminat untuk apply ke apartemen mahasiswa, harus menghubungi international office dari universitas yang bersangkutan. Namun, jika ingin ke privat, informasinya harus dicari secara mandiri. Bisa ditanyakan ke PPI mengenai hal itu.

Poin ketujuh. Mengenai ibadah. Bagi yang muslim, dan ingin sembahyang ke mesjid, tidak usah khawatir. Sebab mesjid terdapat di seluruh Jerman. Biasanya milik orang Turki dan/atau Arab. Khotbah selain diberikan dalam Bahasa Arab/Turki, juga dalam Bahasa Jerman. Sementara, bagi yang beragama Hindu dan Buddha, juga terdapat komunitas religius dan tempat ibadah (Pura dan Vihara).

Sementara, saya akhiri tulisan ini. Akan saya lanjutkan, setelah mendapatkan feedback dari segenap pembaca. Terima kasih.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/sekolah-ke-jerman-bagaimana-caranya-dan-apa-yang-harus-dipersiapkan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags:

Pengalaman seorang pencari ilmu di Leipzig

Oleh Arli

Menginjakkan kaki ke Jerman, untuk studi atau riset, sudah menjadi mimpi saya sejak mahasiswa S1 tingkat satu di Indonesia. Alhasil, mimpi tersebut baru dapat terealisir, setelah DAAD memberikan surat persetujuan bagi saya untuk studi doktorat/PhD/S3 di jerman. Sewaktu saya berkirim surat dengan profesor di Pusat Bioinformatika Universitas Leipzig, belum ada bayangan akan seperti apa kota yang akan saya datangi. Begitu mengetahui bahwa Leipzig terletak di negara bagian Sachsen merupakan eks DDR (Deutsche Demokratische Republic), langsung saya terbayang beberapa film, yang menggambarkan betapa suramnya eropa timur dibawah pendudukan Uni Soviet. Sewaktu melakukan perjalanan ke Leipzig, bayang-bayang ‘pendudukan Soviet’ tersebut masih terasa di benak.
Namun, setelah menginjakkan kaki di stasiun Leipzig, ternyata semua itu hanya persepsi saya belaka. Leipzig ternyata telah menjadi kota besar, yang secara ekonomi dan politik sejajar dengan kota-kota lain di barat. Pembangunan kota Leipzig dilakukan secara ekstensif, sehingga infrastruktur transportasi tersedia dengan lengkap. Bangunan untuk apartemen mahasiswa, dimana saya tinggal, juga merupakan bangunan baru. Leipzig telah menjadi kota besar, dimana sudah semakin banyak dikunjungi orang asing.
Alhasil, dari sejak hari pertama tiba di pusat bioinformatika Uni Leipzig, saya sudah takjub dengan sistim kerja kelompok penelitian disana. Dalam institusi tersebut, sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas, dalam hal penelitian. Sudah ada kelompok penelitian Bioinformatika yang memiliki kualitas diakui di seluruh eropa. Payung penelitian yang ada, pun memberikan pilihan-pilihan menarik bagi saya. Akhirnya saya memilih topik mengenai bioinformatika protein, karena itu yang lebih menarik dan sesuai dengan latar belakang saya di ilmu kimia. Berbeda dengan persepsi banyak orang mengenai Jerman, yang menganggap bahwa mereka tidak mau berbahasa Inggris, semua mahasiswa yang bekerja di pusat bioinformatika dapat berbahasa Inggris dengan baik.  Generasi muda Jerman memang sudah mulai mempelajari bahasa Inggris, karena pengaruh media massa dan internet. Sikap ‘anglophobia’ sudah mulai perlahan-lahan ditinggalkan oleh Jerman, semenjak semakin banyak dibuka kelas internasional dalam bahasa inggris. Hal yang sama juga sudah diterapkan di Uni Leipzig.
Banyak keluhan yang disampaikan kepada penulis, bahwa orang jerman sangat sukar untuk diajak berteman. Dalam kondisi normal, memang hal itu benar. Sebagai bangsa barat, kultur individualisme mereka sangat kuat. Peran keluarga sudah tidak sedominan di asia, sehingga hubungan antara anggota keluarga bahkan cenderung renggang. Bahkan dalam berteman sekalipun, orang jerman cenderung pemilih. Bukan pada faktor karena kita orang asing, namun lebih pada ‘chemistry’ apakah orang ini pantas dijadikan teman atau tidak. Bahkan diantara orang jerman sendiri, cenderung lingkaran pergaulan mereka tidak seluas orang Indonesia atau orang asia lainnya. Namun, ada beberapa tips, yang dapat mempermudah kita untuk menemukan teman orang jerman. Paling tidak, tips ini berfungsi dengan baik di Leipzig. Akan saya jabarkan dibawah.
Universitas Leipzig memiliki Departemen Studi Timur asing (Institut für Orientwissenschaft). Kompetensi utama dari departemen tersebut adalah melakukan kajian terhadap budaya timur atau asia. Di departemen tersebut, Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata kuliah, yang juga diminati mahasiswa Jerman. Bahkan ada yang melakukan penelitian mengenai Bahasa Indonesia. Dalam konteks itu, kita bisa menemukan tandem partner dari mahasiswa jerman yang belajar bahasa Indonesia. Pusat bahasa Uni Leipzig memiliki situs internet, yang dapat mempertemukan kita dengan mahasiswa jerman yang sedang mempelajari bahasa Indonesia. Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa tersebut, kita dapat memperbaiki bahasa jerman, sambil mengajari dia bahasa Indonesia. Ini adalah interaksi yang sangat menarik, sebab kita memang bertemu orang jerman yang tertarik untuk berteman  dengan orang Indonesia.  Sampai sekarang, penulis telah mendapatkan sahabat baik orang jerman dari fasilitas tandem partner tersebut. Dia adalah mahasiswa jerman yang pernah tinggal di Indonesia selama setahun.
Kesan saya terhadap Leipzig, adalah, ini merupakan kota yang sangat bagus untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan sangat menarik untuk mempelajari kultur yang berbeda dengan kita.

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on May 23, 2009 in Pengalaman

 

Tags: , , ,