RSS

Berkunjung ke Pabrik BMW Jerman

Image

Salah satu produk mobil yang diproduksi di pabrik ini

oleh Dinaroe

Waktu masih menunjukkan pukul 08.00 CEST pagi, saat saya bersama 18 orang teman lainnya serta seorang profesor dan pengurus akademik telah bersiap untuk perjalanan kegiatan karyawisata tahunan kali ini. Cuaca hangat di musim panas ditambah suasana setelah berkahirnya masa ujian dan didukung oleh libur semesteran, semakin membuat kegiatan perjalan kali ini semakin menarik dan semarak untuk diikuti. Apalagi tujuan kami kali ini yang tidak hanya sekedar berjalan-jalan saja, tapi juga lebih kepada sebuah petualangan yang dapat menambah ilmu dan wawasan kami mengenai dunia otomotif Jerman. Tanpa menunggu lama kami pun bergegas menuju halte trem terdekat untuk menuju Hauptbahnhof (Stasiun Kereta Utama), dimana nantinya kami akan berganti dengan bus untuk menyambung perjalanan ke tempat tujuan.

Image

Lobi Lobi utama gedung BMW dengan latar belakang mobil yang sedang dibuat

Dalam perjalanan karyawisata kali ini, saya bersama para kolega kuliah lain berkesempatan untuk mengunjungi pabrik perakitan salah satu mobil mewah asal Jerman, BMW. Program studi kami, Small and Medium Enterprise Promotion and Training(SEPT) Fakultas Bisnis Universität Leipzig, memang setiap tahunnya selalu mengadakan karyawisata bagi para mahasiswanya untuk mengunjungi sejumlah perusahaan penting di Jerman. Kebetulan untuk kesempatan musim panas kali ini, BMW lah yang menjadi tujuan kami guna melihat langsung bagaimana proses pemroduksian mobil nasional bangsa Jerman ini.

Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 45 menit, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Lokasi gedung yang diberi nama BMW Plant Leipzig ini berada di daerah Taucha, tepatnya di sebelah utara pinggiran kota Leipzig. Gedung yang berukuran luas 23.000 m2 ini ternyata mampu menghasilkan 740 kenderaan setiap harinya atau hampir mencapai lebih dari 16.000 unit mobil setiap bulannya, yang nantinya akan didistrubiskan kepada dealer pemesan yang ada diseluruh dunia. Proses pembuatan mobil sendiri dimulai dari pembentukan bahan baku hingga menjadi bodi kenderaan, kemudian dilanjutkan dengan  pengecetan, pemasangan interior dan mesin hingga menjadi sebuah produk jadi. Gedung yang didesain oleh seorang arsitektur asal Iraq bernama Zaha Hadid ini memiliki 5.500 pekerja yang dibangun pada tahun 2003, dan siap untuk dioperasikan pada tahun 2005.

Image

conveyer belt yg membawa badan mobil setengah jadi dari satu ruang ke ruang lain

Sayangnya kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar saat proses perakitan didalam pabrik sedang berlangsung. Kami hanya diberi kesempatan untuk mengambil foto di ruang masuk utama gedung dan di halaman depan gedung saja. Namun demikian ada salah satu bagian dimana mobil sudah berbentuk setengah jadi dan sedang bergerak menuju ruang pengecetan dirancang sengaja untuk melewati lobi ruang tamu utama dan dapat dilihat langsung oleh pengunjung tanpa harus masuk kedalam pabrik. Badan-badan mobil tanpa mesin, pintu, kap dan kaca ini melintas diatas kepala pengunjung sambil terus melaju menuju ruangan berikutnya melalui conveyer belt (Ban Berjalan), yang membuat kami semua menjadi tidak sabar untuk dapat langsung masuk dan melihat keseluruhan proses secara langsung.

Image

Badan mobil yang sedang melintas lobi ruang tamu pengunjung

Saat telah berada didalam pabrk, kami melihat setidaknya hampir 700 jenis robot dan tidak lebih dari 15 pekerja manusia yang digunakan dalam proses perakitan sebuah mobil ini. Mobil yang dihasilkan pun bervariasi, mulai dari jenis mobil keluarga, mobil sport, mobil dalam kota hingga seri mobil mewah. Pabrik yang hampir fully automated ini  juga merakit pesanan kenderaan bermotor baik untuk setir di sebelah kanan maupun disebelah kiri. Khusus untuk Pabrik di Leipzig sendiri, Perakitan lebih terfokus kepada BMW seri i1, seri  X, seri Z4, dan seri M. Kedepannya direncanakan pabrik ini juga akan melayani pesanan untuk seri i3 dan i8.

BMW atau dalam bahasa Jermannya disebut Bayerische Motoren Werke merupakan sebuah perusahaan manufaktur milik Jerman yang menghasilkan produk-produk otomotif dan rekayasa mesin bermotor lainnya. Perusahaan yang berkantor pusat di sebuah kota di selatan Jerman ini, dikenal pula dengan klub sepakbola Bayern München dan stadionnya yang termahsyur Allianz Arena. Sebagai salah satu hasil karya terbaik warga Bavarian selain Mercedes Benz dan Porsche, BMW mampu meraih popularitas tidak hanya di kampung halamannya sendiri, namun berhasil pula merambah negara-negara dunia lainnya sebagai salah satu varian kenderaan mewah bersegmen kelas menengah keatas.

Selain di München, BMW mendirikan pula pabrik perakitan di beberapa kota di Jerman. Salah satu yang tercanggih, termodern dan terbesar saat ini berlokasi di kota Leipzig, tempat yang sedang kami kunjungi saat ini. Kota Leipzig adalah sebuah kota di sebelah timur Jerman yang berdekatan dengan negara berkastil terindah, Republik Ceko dan negara salah satu tuan rumah Euro 2012, Polandia. Kota yang terkenal pula sebagai markas pusat DHL (Perusahaan pengiriman logistik) dan Amazon.com (Perusahaan berbelanja online) ini berjarak hampir 470 km dari kota München atau kurang dari 5 jam perjalanan jika ditempuh dengan kereta super cepat ICE (InterCity-Express).

Kunjungan ke pabrik BMW ini dapat dilakukan kapan saja pada setiap hari kerja bahkan juga pada hari sabtu. Tur yang memakan waktu lebih kurang 2 jam ini akan didampingi pula oleh seorang tour guide yang akan menjelaskan proses produksi baik dalam bahasa Inggris maupun Jerman. Tidak hanya untuk melihat proses perakitan, pabrik ini juga menawarkan tur untuk melihat keindahan dan kemegahan arsitektur gedung yang telah memenangkan beberapa penghargaan dunia ini. Tidak tertutup kemungkinan pula bagi pengunjung untuk dapat menikmati kedua paket tur ini secara bersamaan, asal memiliki waktu luang yang cukup untuk menikmati tidak hanya keindahan karya seni yang rupawan, namun juga keagungan teknologi yang menawan.

Hanya dengan cukup mengisi formulir kunjungan secara online dan meninggalkan contact person yang dapat dihubungi, maka kesempatan untuk berkunjung ke pabrik ini akan terwujud dalam hitungan minggu. Unutk kegiatan tur sendiri, dapat dilakukan secara perorangan ataupun dapat juga dilakukan per kelompok dengan maksimum 30 orang per grup. Menariknya lagi tidak dipungut biaya sama sekali dalam kegiatan tur ini, kecuali bagi kelompok yang ingin mendapatkan fasilitas exclusive dalam kegiatan karyawisatanya.

Dinaroe adalah seorang kandidat Master pada program SEPT di Leipzig Universität Jerman dan Sekretaris koordinator bidang Seni dan Olahraga IMAN (Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman).

 
1 Comment

Posted by on March 3, 2012 in Uncategorized

 

Impian Menjadi Habibie

Oleh DInaroe

Siapa yang tak mengenal sosok mantan presiden Indonesia B.J Habibie. Seorang pria yang lahir dari keluarga sederhana dari sebuah daerah di pelosok selatan pulau Sulawesi yang akhirnya menjadi seorang tekhnokrat ulung, handal dan ternama di Negara bertekhnologi tinggi Jerman. Tak pernah terbayangkan pula olehnya bahwa ia nantinya akan menjadi salah seorang dalam deretan pemimpin di Negara tempat ia dilahirkan, Indonesia.

Habibie hanyalah seorang sosok pemuda biasa saat pertama sekali menjejakkan kaki di Jerman dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di RWTH Aachen pada tahun 1955. Namun berkat keuletan dan kegigihannya, Habibie mampu menyelesaikan tidak hanya program Diplom ingeneur-ya saja (setara Master), bahkan mampu menyabet gelar Doctor ingeneur (setara Ph.D) dengan predikat summa cum laude (Istimewa).

Tapi kali ini saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang Pak Habibie. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan di Jerman, tempat dimana Pak Habibie dan banyak orang Indonesia serta peöajar Aceh lain yang menuntut ilmu disana.

Berkuliah di negeri orang sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, bahkan banyak kemudahan yang dapat diperoleh guna memudahkan pelajar untuk hidup dan belajar di benua biru ini. Bukan hanya itu saja, bahkan setiap orang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk merasakan pengalaman menuntut ilmu di negara bermusim empat ini, selama ia memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat.

Biaya hidup

Sering banyak orang beranggapan bahwa biaya hidup diluar negeri sangatlah mahal dan tinggi. Hal ini tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah juga. Jika dibandingkan dengan biaya hidup diluar negeri lainnya, Jerman dapat dikategorikan termasuk kedalam negara yang memiliki living cost (biaya hidup) rendah. Bahkan untuk Eropa, Jerman dapat dikategorikan sebagai yang termurah.

Untuk kehidupan seorang mahasiswa rantau dengan pola hidup sederhana, 750 euro (sekitar 9 jutaan rupiah) sudah mampu untuk menghidupi seluruh biaya hidup selama 1 bulan.  Belum lagi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang didapat para pemegang kartu mahasiswa, semakin membuat kehidupan pelajar di Jerman menjadi bertambah nyaman, mudah dan murah.

Untuk permasalahan tarnsportasi, dimana umunya mahasiswa di indonesia menggunakan motor atau kenderaan roda empat yang memakan biaya besar untuk perawatannya, maka hal ini tak menjadi soal di eropa. Sistem transportasi yang terintegrasi dan fasilitas semester ticket dengan harga yang sangat murah dan terjangkau, membuat para pelajar di Jerman memiliki kemudahan unutk menuju seluruh destinasi yang ingin dicapai guna menunjang aktivitas kuliahnya. Terkadang untuk beberapa negara bagian, bahkan tiket ini berlaku hingga keluar kota sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengunjungi perpustakaan atau universitas di daerah lain. Sepeda pun dapat menjadi pilihan, selain lebih murah dan dapat pula menyehatkan badan.

Untuk urusan pangan tidaklah menjadi persoalan. Aldi, Liddle, Rewe dan beberapa supermarket berharga murah lainnya dapat menjadi pilihan surga berbelanja bagi kebutuhan dapur dan rumah tangga para mahasiswa rantau. Bagi yang ingin mencari produk halal, pertokoan turki, arab maupun toko china dapat menjadi salah satu tujuan belanja untuk membeli ayam, daging sapi, seafood maupun rempah-rempah nusantara. Bagi yang ingin menikmati menu vegetarian, sayur-sayur murah dapat dibeli di  flöhmarkt (pasar murah), yang juga menjual bahan-bahan murah lainnya.

Memasak sendiri tentu menjadi pilihan terbaik untuk menekan biaya konsumsi dibandingkan membeli makanan jadi yang umumnya dapat kita temukan di toko Döner Kebab atau Türkische Pizza. Selain itu Mensa (Kantin Mahasiswa) dapat juga menjadi tujuan untuk mendapatkan makanan murah ala mahasiswa. Namun, untuk menjaga kehalalan makanan, umumnya mahasiswa muslim lebih memilih memakan Spagethi atau menu vegetarian ataupun juga makanan laut yang tersedia. Hajatan baik dari KBRI/KJRI ataupun dari acara perkumpulan persaudaraan sebangsa maupun sesama muslim, terkadang menjadi bonus yang tak terduga dan hal yang selalu ditunggu untuk memungkinkan para makasiswa mendapatkan jamuan makan sehat dan lahap.

Berbicara mengenai kebutuhan sandang, Jerman juga merupakan destinasi yang tepat berbelanja murah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pakaian dan alas kaki. Para mahasiswa dapat membeli baju dan celana serta sepatu dengan kualitas dan merek terbaik pada beberapa toko yang menawarkan harga murah, seperti: Deichman, KIK, Kardstadt dan lainnya. Bahkan saat pergantian musim, terkadang pusat-pusat perbelanjaan memberikan diskon yang mencengangkan guna menghabiskan produk mereka. Disebuah toko pakaian C&A misalnya, mereka bahkan pernah memberikan diskon hingga 70% untuk produk-produk baju berkualitas terbaik.

Untuk kebutuhan tempat tinggal, umumnya universitas di jerman memberikan fasilitas Studentenwohnheim (Apartemen Mahasiswa) yang dapat disewa dengan harga murah namun berfasilitas lengkap. Untuk sebuah Zimmer (kamar) di Leipzig seharga 160 euro (sekitar Rp. 1,9 jutaan), penghuni kamar telah mendapatkan kamar dengan full furniture, kamar mandi, internet unlimited, dan sudah termasuk biaya listrik, air dan gas untuk Heizung (pemanas ruangan). Jikapun mahasiswa ingin menyewa apartemen pribadi bersama beberapa teman lainnya, pemerintah kota terkadang memberikan bantuan wohngeld (Uang rumah) untuk mensubsidi biaya sewa rumah dari para mahasiswa yang terkadang mencapai 40% nya.

Ibarat gayung bersambut, mengerti akan kebutuhan seorang mahasiwa yang selalu mencari celah dalam meminimalisir pengeluaran, otoritas pemerintah Jerman pun berusaha untuk memberikan pusat-pusat penyediaan kebutuhan murah bagi para mahasiswa yang membutuhkan.

Sistem pendidikan

Secara umum pendidikan di Jerman terbagi atas tiga tingkatan, yaitu: Pendidikan pra Perguruan Tinggi (Pendidikan umum), Pendidikan Kejuruan (berufschule) dan Pendidikan Perguruan Tinggi. Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membahas lebih jauh pada tingkatan pendidikan perguruan tinggi, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berkuliah di Jerman yang mayoritasnya berada di level ini.

Untuk pendidikan perguruan tinggi, sistem pendidikan di Jerman membagi level ini kedalam tiga jenis, yaitu: (1).Universität (universitas), (2).Fachhochschule (Politekhnik plus), dan (3).Berufsakademie (Akademi Tenaga Kerja). Adapun perbedaan ketiganya terletak pada materi perkuliahan dan tujuan pendidikannya. Universität atau yg sering disebut UNI, lebih berfokus kepada teori dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Para Mahasiswa di sini lebih terkonsentrasi untuk mengembangkan teori keilmuan dan sedikit sekali berorientasi pada praktek. Hasil akhir yang ingin dicapai dari lulusan UNI ini adalah para pemikir yang mampu untuk menghasilkan teori dan pengembangan ilmu baru yang dapat mendukung keilmuan yang telah ada.

Sebalikya Fachhochschule atau disingkat FH, lebih berorientasi pada ilmu terapan untuk  pengembangan ilmu agar dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang aplikatif dan dapat digunakan oleh pengguna. Pendiidkan praktikal lebih mendominasi para mahasiwa di sini dengan rasio perbandingan 70:30 untuk ilmu terapan dan teori. Lulusan FH ini diharapkan mampu untuk mengembangkan produk-produk terapan dari ilmu dasar yang telah ada.

Untuk Berufsakademie sendiri lebih berfokus kepada para mahasiwa yang telah memiliki status bekerja atau telah mempunyai kontrak kerja pada suatu perusahaan atau instansi. Mahasiswa disini akan dididik untuk mempelajari ilmu spesifik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya. Hasil akhir dari lulusan ini adalah sebagai tenaga ahli yang handal di bidangnya dan dapat langsung digunakan dalam dunia kerja.

Di jerman saat ini memiliki 2 bentuk program perguruan tinggi, yaitu program klasik yang hanya memiliki dua jenjang, yaitu Diplom (Dipl.) dan Doktor (Dr). dan program baru yang mengakui tiga jenjang, yaitu Bachelor, Magister dan Doktor. Beberapa universitas dan negara bagian masih menggunakan sistem klasik, meskipun semenjak kesepakatan Bologna tahun 1999, sudah semakin banyak yang menggunakan program baru.

Unutk aktivitas perkuliahan di Jerman dan Eropa sendiri pada umunya dimulai pada awal musim dingin atau sekitar bulan oktober setiap tahunnya. Khusus untuk program doktoral, penerimaan mahasiswa baru terkadang dibuka dua kali dalam setahun, yaitu saat musim dingin dan musim panas (sekitar bulan april). Proses perkuliahan untuk program master (atau diplom) dapat menggunakan tiga pilihan, yaitu: Master dengan penelitian, Master dengan kelas atau Master campuran. Sedangkan untuk Program doktoral seluruhnya dilakukan dengan penelitian selama 6 Semester atau 3 tahun.

Untuk penerimaan mahasiswa sendiri, tidak diberlakukannya sistem ujian tertulis (seperti UMPTN) sebagaimana di Indonesia. Mahasiswa hanya perlu mengirimkan berkas lamarannya dan tim penilai universitas akan memutuskan apakah calon mahasiswa ini dapat diterima atau tidak berdasarkan transkrip nilai (abitur) dan pertimbangan akademis lainnya. Khusus bagi mahasiswa asing yang tidak menelesaikan gymnasium (setingkat SLTA) di Jerman dan ingin melanjutkan ke jenjang Diplom atau Magister, maka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan Studkol (sekola pra universitas) terlebih dahulu selama 2 semester. Setelah tamat dari sekolah ini, maka para calon mahasiswa dapat melamar di Universitas ataupun Fachhochschule (politekhnik plus) yang mereka inginkan.

Berbicara mengenai biaya pendidikan, hampir sebagian besar Negara bagian di Jerman membebaskan kewajiban membayar uang pendidikan bagi setiap penuntut ilmu, baik bagi warga Negara Jerman maupun warga Negara asing. Jikapun ada yang menetapkan biaya SPP, maksimum yang boleh dibebankan kepada mahasiswa adalah 500 Euro (sekitar 6 juta rupiah). Bahkan di beberapa daerah juga, pemerintah daerahnya memberikan uang selamat datang bagi para mahasiswa baru dengan kisaran bervariatif. Mengambil contoh di Leipzig, setiap tahunnya para mahasiswa dapat mengajukan permohonan Zuzugbonus senilai 150 Euro (sekitar 1,6 juta rupiah).

Kesempatan Beasiswa

Salah satu penyedia beasiswa studi di Jerman yang patut dicoba adalah DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst) yang setiap tahunnya menawarkan sekitar 20 beasiswa untuk program pasca sarjana. Erasmus mundus scholarship dapat juga menjadi pilihan lainnya, yang memungkinkan penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan setidaknya di dua negara berbeda di Eropa. Beasiswa-beasiwa dari universitas tujuan di Jerman pun dapat menjadi alternatif yang layak dicoba, selain yayasan-yayasan pendidikan baik di Indonesia maupun di Jerman yang berorientasi untuk memajukan sumber daya manusia di suatu daerah, seperti yayasan Habibie maupun yayasan Djarum.

Untuk provinsi Aceh sendiri, komisi beasiswa Aceh telah mengirimkan hampir 90 putra-putri Aceh ke Jerman dalam 3 angkatan selama 3 tahun terakhir ini. Saat ini, angkatan ke empat sedang dipersiapkan untuk pelatihan bahasa Jerman di goethe institut jakarta untuk siap diberangkatkan pada agustus 2012 ini. Kebetulan saya sendiri adalah salah satu penerima beasiswa angkatan sebelumnya yang berkesempatan untuk merasakan pendidikan di Jerman dengan bantuan beasiswa Pemerintah Aceh yang bekerja sama dengan DAAD.

Dengan kesempatan beasiswa yang terbuka lebar dan kemudahan yang diberikan untuk berkuliah di Jerman serta ditambah dengan begitu banyaknya ilmu yang dapat digali di Jerman, maka impian menjadi seperti Pak Habibie pun bukan menjadi mimpi belaka lagi.

Dinaroe adalah Mahasiswa Aceh di Jerman dan Sekretaris Bidang Seni dan Olahraga Ikatan Mahasiswa Aceh Jerman (IMAN)

 
1 Comment

Posted by on February 29, 2012 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Monumen Kejatuhan Sang Kaisar Eropa

Oleh Dinaroe

Tak terbantahkan lagi eropa merupakan benua yang tepat untuk dijadikan destinasi pelancongan bagi para wisatawan yang menyukai latar belakang cerita sejarah dan kerajaan-kerajaan kuno. Apalagi benua yang hampir didominasi oleh ribuan kastil dan monumen ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi dan kisah menarik di setiap jengkal sudut kotanya. Kisah Napoleon Bonaparte sebagai contohnya. Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak anda untuk bercerita sedikit mengenai sang Kaisar Eropa yang termahsyur ini.

Siapapun pasti mengenal Napoleon, sang kaisar Perancis yang mengaklamasikan dirinya sebagai Kaisar Eropa pada abad ke XIX. Pria kelahiran Corsica ini pada awalnya hanyalah seorang perwira militer Perancis biasa yang kemudian menjelma menjadi seorang pemimpin politik yang melahirkan Revolusi Perancis, hingga akhirnya menjadi sang Kaisar Perancis ternama.

Meskipun banyak cerita sejarah yang menceritakan tentang keberhasilan Napoleon yang mampu mendominasi beberapa daerah di benua Eropa, namun mungkin belum banyak pihak yang mengetahui mengenai peristiwa kekalahan telak sang kaisar dikarenakan pembelotan pasukannya sendiri, di sebuah kota di timur Jerman pada tahun 1813 yang dikenal dengan sebutan Battle of Leipzig atau Battle of Nation.

Benar, di kota Leipzig yang terletak dalam negara federal saxony inilah sang kaisar Eropa harus meletakkan tahta kekuasaanya dan harus menyerah kalah pada pasukan koalisi yang dimotori oleh Prussia (Kerajaan Jerman masa lalu), Austria, Rusia dan Swedia. Peristiwa ini pula yang mengakibatkan Napoleon harus mengasingkan diri ke Elba, sebuah pulau di Tuscany, Italia yang berjarak 50 km di sebelah timur Corsica dan akhirnya menyebabkan negara Perancis diinvasi oleh pasukan sekutu pada tahun berikutnya.

Monument to the Battle of the Nations atau dalam bahasa Jermannya disebut Völkerschlachtdenkmal merupakan monumen peringatan untuk mengenang pertempuran antara lebih dari 500.000 prajurit yang berujung kepada gugurnya lebih dari 120.000 prajurit dari 6 bangsa yang ikut berperang. Pembangunan monumen terbesar di Jerman dan ketiga terbesar di Eropa ini mulai direncanakan semenjak tahun 1814 dan baru dapat diselesaikan pada tahun 1913 atau tepat 100 tahun setelah peperangan terjadi.

Bangunan yang hampir menyerupai bentuk candi di Indonesia ini memiliki ketinggian hampir 100 meter dengan luas dan lebar mencapai 125 meter, serta memiliki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Pembangunan monumen ini sendiri berada tepat pada posisi dimana Napoleon Bonaparte pada saat itu memberikan perintah mundur kepada pasukannya dan menyatakan diri kalah perang terhadap Rusia dan Jerman serta pasukan koalisi lainnya yang disebut The Sixth Coalition.

Secara umum, kesan yang ditampilkan oleh monumen ini sangatlah unik dan berkesan mistis. Bukanlah keindahan yang ingin ditawarkan oleh bangunan ini, namun lebih kepada suatu bentuk yang mencerminkan kebesaran dan kedigdayaan. Monumen ini terlihat layaknya sebuah batu hitam besar yang menjulang tinggi diantara bangunan-bangunan di pusat perkotaan Leipzig, yang semakin menambah kesan megah dan mengangumkan dari monumen tersebut. Semakin mendekati bangunan ini, kita akan dapat melihat dan menemukan aspek-aspek estetika dan keindahan yang tersembunyi yang coba ditawarkan oleh tempat ini. Di sekitar monumen misalnya, kita dapat menemukan taman dan danau buatan yang dibangun tepat berada didepan pintu masuk utama bangunan dan dibentuk secara simetris dan bernilai estetis sekali.

Selain itu, Ruhmeshalle atau balai kuil dewa mencoba menawarkan tampilan ukiran dinding layaknya kuil para dewa yang memberikan kesan mengagumkan. Ruangan yang hampir tidak diterangi cahaya ini dipenuhi dengan batu-batu berukiran besar yang menampilkan figur yang melambangkan keberanian, kekuatan dan kesiapan rakyat Jerman untuk berkorban dan memiliki keyakinan teguh. Ditambah dengan atmosfir ruangannya yang suram dengan sedikit cahaya matahari yg dapat menerobos masuk, memberikan kesan efek radiasi yang sangat kuat yang terpancar dari sosok figur tersebut. Di sudut lain yang tidak kalah menariknya, berada tepat di puncak monumen yang hampir mencapai 100 m ini. Disini pengunjung dapat menikmati indahnya suasana kota Leipzig dan lingkungan sub urban disekitarnya, yang menampilkan nuansa keteraturan layaknya kota-kota di eropa pada umumnya.

Bukan hanya Napoleon saja yang memiliki kaitan dengan monumen ini, Adolf Hitler pada masa kepemimpinannya (Third Reich) juga memanfaatkan kemegahan bangunan ini untuk menunjukkan kekuatannya dan juga menjadikan tempat ini sebagai salah satu markas tempat pertemuannya bersama para perwira militer tinggi SS di Leipzig, yang dulunya merupakan kota penting setelah Berlin pada masa pendudukan Nazi. Saat ini, bangunan ini lebih dikenal sebagai monumen Jerman bersatu (German Union) dan monumen persahabatan Jerman – Rusia (Russo -German Brotherhood in arms atau Deutsch-Russische Waffenbrüderschaft).

Tentu bagi seorang pecinta sejarah, ini merupakan salah satu tempat terbaik untuk dikunjungi dan layak untuk dimasukkan kedalam „list to do“ selain beberapa tempat bersejarah di bekas Jerman timur lainnya. Ditambah lagi dengan murahnya biaya kunjungan ke monumen ini yang hanya sebesar 2 Euro (Rp. 25.000) saja dan lokasinya yang berada tepat di sebelah timur pusat kota Leipzig, semakin membuat perjalanan wisata sejarah ini semakin menarik dan menyenangkan.

Sumber gambar: http://leipzigst.de/post/3379850880/voelkerschlachtdenkmal-leipzig

Dinaroe adalah mahasiswa master SEPT program Universitas Leipzig

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2012 in Pengalaman

 

Tags:

Doktorat di Jerman: Menjadi Pekerja Ilmu Pengetahuan

Sebelum membaca artikel ini, ada baiknya membaca artikel saya yang sebelumnya mengenai sekolah ke Jerman. Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman saya sendiri, yang sekarang sedang doktorat di Jerman dalam bidang Bioinformatika, di Universitas Leipzig. Adapun, berhubung saya mengambil S1 dan S2 di Indonesia, saya tidak bisa sharing banyak mengenai pengalaman S1 & S2 di jerman, berhubung saya tidak pernah mengikuti sistim perkuliahan Bachelor dan Master Jerman. Saya akan membahas beberapa poin penting mengenai hal ini.

Poin pertama. Latar Belakang pendidikan (S1 & S2) harus sesuai dengan bidang yang ingin dimasuki pada studi S3. Misalnya, jika ingin mengambil doktorat dalam bidang Bioinformatika, maka wajib memiliki dasar yang sangat kuat di bidang Biologi dan IT. Kualifikasi akademis, keilmuan, dan teknis yang kita miliki, harus sesuai dengan apa yang diminta oleh sang Profesor. Lebih jelasnya, bisa langsung hubungi kelompok riset yang kita minati beserta profesornya. Kirimkan CV dan proposal penelitian kita kepada profesor. Jika diminta, berikan juga copy ijazah dan transkrip. Sudah dipastikan, proposal yang kita buat akan dirombak lagi. Namun, inti dari pengiriman proposal ini lebih ditujukan supaya profesor memiliki gambaran yang jelas mengenai latar belakang pendidikan kita.

Poin kedua. Mengenai funding harus jelas dari awal. Apakah kita akan menggunakan beasiswa, atau disponsori oleh Profesor. Mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa, dari sumber Jerman atau Indonesia, sudah dibahas di artikel sebelumnya. Jika kelompok riset tersebut memiliki funding, dan masih ada lowongan untuk funding seorang mahasiswa doktorat, maka kita bisa apply untuk itu.

Poin ketiga. Mengenai status matrikulasi. Syarat untuk lulus dari program doktorat, adalah harus terdaftar sebagai mahasiswa doktorat (Promotion Student). Secara prinsip, matrikulasi bisa dilakukan 6 bulan sebelum ujian akhir (Doktor Prufung). Namun, jika menjadi penerima beasiswa DAAD (DAAD Stipendien), wajib matrikulasi dari sejak semester pertama. Mengenai syarat lengkap matrikulasi, hubungi kantor internasional (Akademisches Auslandsamt) dari Universitas yang bersangkutan. Buka saja situs web dari kantor internasional, biasanya dicantumkan disana. Syarat utama yang dibutuhkan adalah rekomendasi dari profesor, dan beberapa dokumen lain seperti ijazah, toefl, dan lain lain.

Poin keempat. Sistim perkuliahan doktorat di Jerman. Satu hal penting yang harus dicatat, bahwa di tingkat doktorat, perkuliahan sama sekali tidak wajib untuk diikuti. Dalam ‘doktorprufung’, hanya ada satu penilaian, yaitu penilaian mengenai disertasi kita. Tidak ada nilai untuk kuliah. Jika ingin mengikuti kuliah atau praktikum level Bachelor atau Master, bisa saja, namun hubungi kordinator kuliah/praktikum tersebut. Hal itu tidak wajib, dan lebih untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan kita. Sekarang sudah mulai dikembangkan ‘taylor made system’, yaitu doktorat dengan sistim ala US, yang ada kuliahnya. Namun, walau demikian, penekanan utama tetaplah pada riset yang kita lakukan.

Poin kelima. Bekerja secara mandiri. Riset doktorat di Jerman harus dikerjakan secara mandiri, sebab tidak ada seorangpun yang mengawasi secara langsung pekerjaan kita. Memang, kita diwajibkan melaporkan pekerjaan kita secara periodik kepada asisten profesor (Biasanya scientific staff atau Pos doc). Namun, apa yang kita lakukan sehari-hari tidak akan pernah diawasi secara langsung. Setidaknya itu pengalaman saya di laboratorium Bioinformatika. Jika ada yang perlu ditanyakan sehubungan dengan riset kita, bisa langsung segera tanya kepada sesama mahasiswa doktorat, teknis, atau scientific staff secara langsung. Secara umum, kita tidak memberikan laporan atau bertanya mengenai hal-hal teknis kepada profesor. Namun, laporan tetap diberikan pada profesor setiap ada seminar kelompok riset atau departemen.

Sampai disini dulu. Akan saya lanjutkan kemudian. Ciao!.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/doktorat-di-jerman-menjadi-pekerja-ilmu-pengetahuan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags:

Sekolah ke Jerman: Bagaimana caranya dan apa yang harus dipersiapkan?

Oleh Arli

Dalam rangka menjawab pertanyaan beberapa kawan yang berminat studi ke Jerman, maka saya siapkan tulisan ini. Ada beberapa poin yang seyogyanya dipertimbangkan jika ingin studi ke Jerman.

Poin pertama. Selama ini, saya mendapatkan banyak pertanyaan mengenai bagaimana caranya sekolah ke Jerman. Sebenarnya, DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman) sudah memberikan informasi sangat lengkap di situs webnya. Buka saja situs DAAD cabang jakarta di http://jakarta.daad.de/. Situs itu akan memberikan informasi lengkap mengenai prosedur bagaimana cara sekolah ke sana, dan seperti apa sistim pendidikan di Jerman. Mereka juga menyediakan waktu untuk konsultasi pendidikan secara gratis. Jam konsultasinya ada tertera pada situs tersebut. Membuka dan membaca isi situs DAAD, dan kemudian mendatangi atau menghubungi kantor regional mereka di Jakarta adalah langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan informasi studi di Jerman. DAAD juga memberikan beasiswa bagi Dosen, Peneliti, Bisnis/LSM. Informasi lengkap mengenai beasiswa dan cara aplikasinya ada di situs tersebut. Mereka akan dapat memberikan informasi untuk studi tingkat Bachelor (S1), Master (S2), dan PhD (S3).

Poin kedua, adalah menguasai Bahasa Jerman. Walaupun sekarang program Bachelor, Master, dan Phd sudah tersedia dalam bahasa Inggris, menguasai Bahasa jerman tidak ada salahnya. Ini akan berguna jika kita belanja, membaca koran, nonton tv, membaca pengumuman di jalan, dan berkomunikasi sehari-hari. Jika menguasai Bahasa Jerman, maka kita tidak akan merasa terlalu asing dengan suasana negeri Jerman. Hal ini juga akan berguna, untuk berteman dengan orang Jerman. Walau Bahasa Inggris generasi muda Jerman sangat bagus, namun mereka akan lebih senang kalo kita juga menguasai Bahasa Jerman. Jika Bahasa Inggris adalah bahasa resmi untuk riset, akademik, dan bisnis, maka Bahasa Jerman adalah bahasa lobi. Penguasaan Bahasa Jerman adalah salah satu syarat penting, untuk mengurangi efek ‘cultural shock’. Jika akan apply ke beasiswa DAAD, maka mengikuti kursus Jerman adalah syarat mutlak. Ini berlaku, walaupun program studinya sudah dalam bahasa Inggris. DAAD mewajibkan kursus ini, dengan dua pertimbangan. Pertama, untuk keberhasilan integrasi pemegang beasiswa dengan masyarakat Jerman. Kedua, untuk mempromosikan bahasa Jerman. Bagi yang tidak menggunakan jalur DAAD (lihat poin keempat dibawah), bisa hubungi Goethe Institut di Jakarta dan Bandung. Situsnya di  http://www.goethe.de/ins/id/jak/deindex.htm .Jika tidak ada Goethe Institut di kota masing-masing, bisa hubungi Departemen Sastra Jerman dari Universitas di kota masing-masing. Mereka bisa memberikan informasi mengenai kursus Jerman. Paling tidak, tingkat penguasaan bahasa ‘mittelstufe’ (intermediate) adalah syarat minimal untuk bisa berkomunikasi dengan orang Jerman.

Poin ketiga, hubungi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) kota setempat. Walau adalah sangat penting untuk berinteraksi dengan orang Jerman, tidak ada salahnya juga jika kita tetap bersilaturahmi dengan bangsa sendiri. Biasanya, PPI memiliki informasi lengkap mengenai akomodasi, situasi pergaulan, dan juga mengenai studi. Mereka juga dapat banyak sharing mengenai seluk-beluk pengalaman mereka berhubungan dengan orang Jerman. Bahkan, banyak aktivitas bersama yang dapat dilakukan dengan PPI, misalnya olahraga, kesenian, masak bersama, malam indonesia, dan lain-lain. Penting sekali untuk tetap berhubungan dan bersilaturahmi dengan bangsa sendiri, sebab hal itu dapat mengurangi ‘home sick’ secara drastis. Jika tidak terdapat PPI di kota tujuan, bukalah akun facebook atau social networking anda, dan cari orang Indonesia yang satu kota dengan anda. Lalu berkenalanlah secara online. Kemudian copy darat bersama.

Poin keempat. Penting untuk dipertimbangkan, bahwa yang menyediakan beasiswa ke Jerman tidak hanya DAAD ataupun sponsor lain yang berasal dari Jerman (Misal Max-Planck institute, Konrad Adenauer Stiftung, atau Alexander Humbolt Stiftung). Depdiknas (Departemen Pendidikan) RI juga menyediakan beasiswa ke Jerman. Ini berlaku untuk Dosen ataupun Non Dosen. Mereka memiliki kuota yang banyak dan dana yang cukup untuk itu. Keterangan lengkap bisa diklik padahttp://beasiswaunggulan.diknas.go.id/ dan bagi yang Dosen, bisa ditanyakan kepada direktorat kerja sama luar negeri di Universitas masing-masing. Ada perkembangan terbaru terkait beasiswa diknas. Sekarang mereka memiliki program ‘debt swap 5000 doktor’. Silahkan klik http://ds5k.kemdiknas.go.id/untuk informasi lebih lanjut.

Poin kelima. Mengenai masakan. Jika masih setia dengan masakan Indonesia, tidak usah terlalu khawatir. Di Jerman ada banyak asia shop, yang biasanya dimiliki orang Vietnam. Mereka menyediakan bumbu-bumbu dan bahan mentah lainnya, yang dapat diolah menjadi masakan Indonesia. Jika ingin membuat masakan yang halal, bisa pergi ke Toko Turki. Mereka menyediakan bumbu, dan berbagai bahan mentah yang sudah tersertifikasi halal. Restoran Vietnam dan Turki terdapat dimana-mana, sehingga tidak perlu khawatir untuk masalah kuliner.

Poin keenam. Mengenai akomodasi. Ada dua tipe, yaitu apartemen mahasiswa (studentwohnheim) dan privat. Jika berminat untuk apply ke apartemen mahasiswa, harus menghubungi international office dari universitas yang bersangkutan. Namun, jika ingin ke privat, informasinya harus dicari secara mandiri. Bisa ditanyakan ke PPI mengenai hal itu.

Poin ketujuh. Mengenai ibadah. Bagi yang muslim, dan ingin sembahyang ke mesjid, tidak usah khawatir. Sebab mesjid terdapat di seluruh Jerman. Biasanya milik orang Turki dan/atau Arab. Khotbah selain diberikan dalam Bahasa Arab/Turki, juga dalam Bahasa Jerman. Sementara, bagi yang beragama Hindu dan Buddha, juga terdapat komunitas religius dan tempat ibadah (Pura dan Vihara).

Sementara, saya akhiri tulisan ini. Akan saya lanjutkan, setelah mendapatkan feedback dari segenap pembaca. Terima kasih.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/17/sekolah-ke-jerman-bagaimana-caranya-dan-apa-yang-harus-dipersiapkan/

Penulis adalah kandidat doktor di bidang Bioinformatika pada Departemen ilmu komputer, Universitas Leipzig dan kolumnis pada netsains.com, dan chem-is-try.org.

 
Leave a comment

Posted by on September 5, 2011 in Persiapan Studi ke Jerman

 

Tags:

Lebaran Warga PPI Leipzig 2011

Hari ini, 30 Agustus 2011, Masjid Ar-Rahman Leipzig merayakan Idul Fitri/Id-mubarak. Warga PPI Leipzig, yang biasa bersembahyang disana, tentu ikut merayakan kegembiraan idul Fitri. Bersamaan dengan itu, maka kami atas nama pengurus PPI leipzig dan warga Indonesia di Leipzig mengucapkan kepada segenap pembaca: ‘Minal Adzin walfaizin. Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.’ Semoga silaturahmi diantara kita bisa selalu terjaga.

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2011 in Pengalaman

 

Jerman Barat vs Jerman Timur

Oleh Anang

 

Tahun 1990 adalah tahun dimana rasa haru dan nafas lega para penduduk jerman timur pecah diseluruh penjuru daerahDeutsche Demokratische Republik (DDR) atau yang lebih dikenal dengan istilah Jerman Timur ini. Rasa sedih karena harus berpisah dengan sanak saudara yang berada di belahan bumi Jerman barat sana, terobati sudah. Kekhawatiran akan keselamatan mereka yang selama ini terbelenggu oleh kokohnya tembok pemisah sepanjang 1378 kilometer-pun lunas seketika.

Ya, tembok yang dibangun oleh pemerintah DDR pada tahun 1961 ini seolah-olah merenggut paksa semua hak asazi manusia yang berada di wilayah Jerman Timur itu. Dilengkapi dengan puluhan senjata otomatis mematikan, kamera dan alat deteksi disepanjang perbatasan yang sewaktu-waktu siap “menyalak” ganas sepersekian detik bersama puluhan butir peluru mematikan setelah menangkap sinyal bagi para penduduk jerman timur yang mencoba melarikan diri ke wilayah barat. Lebih dari 2700 penduduk Jerman Timur, 28 polisi perbatasan dan tentara Jerman Barat serta penduduk jerman barat-pun menjadi korban keganasannya.

Itulah gambaran menyedihkan dimana sebuah negara harus terbagi oleh simbol egoisme seorang

“Der Führer”. Terbagi tidak hanya akan kebebasannya, tetapi juga semua hak-hak dasar kehidupan mereka. Sungguh ironis sekali, tatkala melihat sebuah negara yang hanya tergarisi oleh sebuah tembok kemudian ditakdirkan harus memiliki taraf kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Di wilayah barat orang dengan leluasa berkendara dengan mobil, bisa memakai pakaian yang serba indah dan menyantap makanan dan minuman buatan “Paman SAM”. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik agar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Sedangkan melalui lubang kecil dari tembok durjanaitu mereka bisa melihat saudara mereka yang tidak memiliki pilihan lain untuk bisa bertahan hidup selain harus menuruti aturan DDR.

Mereka makan seadanya, tinggal dengan tempat seadanya dan terbelanggu oleh aturan hidup mati yang diterapkan bagi para pembangkang perintah DDR. Disisi lain, sebagian dari mereka merasa nyaman dan senang karena semuanya sudah diatur oleh kota.

Mereka tidak perlu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaan begitu juga dengan masa depan sekolah anak-anak mereka sudah diatur oleh pihak kota. Dengan kata lain, semua mendapatkan dengan nilai yang sama. Tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin. Punya uang banyak-pun tetap tidak bisa dipergunakan karena toko-toko didaerah timur hanya memperjual belikan barang-barang itu-itu saja.

Tatkala penduduk jerman barat bisa dengan mudah membeli cat tembok untuk mewarnai rumahnya, saudaranya di jerman timur harus mau bertahan dan hidup dengan rumah yang ala kadarnya. Bukan karena tidak punya uang, tetapi mereka harus mau menunggu puluhan tahun untuk bisa mendapatkan cat tembok pesenan mereka. Mungkin toko-toko saat itu mempunyai Motto yang tidak kalah heboh dengan makanan siap saji sekarang ini. “Pesan sekarang, biarpan anak cucu anda yang menikmatinya”.

Dimulai dengan pergerakan dari warga didaerah Bundesland Sachen dan Sachen-Anhalt. Jumlah penduduk Jerman Timur yang hampir mendekati ratusan ribu itu mulai membuat titk-titik konstentrasi pertemuan. Mereka mulai melangkahkan kaki pertamanya untuk melakukan demonstrasi di kota Leipzig. Dengan semangat seperti nama supermarket terkenal di seluruh jerman, “REWE-REWE RANTAS, MALANG-MALANG PUTUNG”, mereka memberanikan diri melakukan penentangan besar-besaran melawan “Pak Kumis”.

Dengan nada tegas dan amarah yang meluap-luap, saya yakin Hitler akan berusaha keras melawan para demonstran itu persis seperti ekspresi dia saat marah besar tatkala mendengar bahwa Nurdin Halid tidak mau turun dari PSSI.  

http://www.youtube.com/watch?v=FKVCguPwOis

______________________________ ***   _______________________________

Selain tembok pemisah yang terkenal ke penjuru dunia itu, ada beberapa tempat sejarah yang menjadi saksi bisu akan peristiwa itu. Terletak didaerah Eisenachkota kecil didekat Erfurt, Sachen-Anhalt, adalah salah satu tempat perbatasan wilayah barat dan timur saat itu. Tempat ini merupakan lokasi pemeriksaan oleh petugas perbatasan bagi mereka yang menggunakan transportasi darat untuk masuk dan keluar wilayah perbatasan.

Bekas-bekas menara pengawas tinggi menjulang, dan beberapa bangunan tua nan kokoh disertai dengan beton-beton besar semakin menceritakan betapa ketat dan angkernya tempat ini.  Kota ini akan sering dilewati bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Leipzig menuju Frankfurt atau dari Utara ke Selatan. Karena selama ini saya selalu memilih menggunakan transportasi kereta api ICE,maka nama kota Eisenach hanya sepintas mengingatkan saya sebagai stasiun pemberhentian ketiga kereta api tercepat di Jerman tersebut, sebelum masuk ke Stasiun Frankfurt.   

Bermula dari sudah penuhnya tempat duduk kereta api ICE dari Frankfurt menuju Leipzig, maka saya putuskan untuk mencari alternatif transportasi lainnya yang tak kalah cepat, nyaman dengan harga yang ralatif murah melalui fasilitasmitfahrgelegenheit. Sebuah situs online dimana kita bisa menawarkan sekaligus mencari alternatif transportasi dari dan menuju kota diseluruh jerman baik yang menggunakan mobil pribadi ataupun kereta api.

Kita hanya tinggal menghubungi pihak yang menawarkan tempat duduk kosong untuk perjalanan kota tertentu, maka kita bisa ikut dengan menggunakan tiket kereta ataupun mobil pribadi mereka seperti layaknya tuan rumah yang diantar oleh sopirnya.  

Sore itu saya beruntung mendapatkan seseorang yang akan melakukan perjalan dari Frankfurt menuju Berlin. Segera saya hubungi dan melakukan tawar menawar sekaligus penentuan lokasi pertemuan. Kami akhrinya bertemu agak keluar dari stasiun kota, tepat dibawah pohon yang rindang dengan bunga yang masih bermekaran disaksikan oleh kicauan burung-burung yang saling bersautan. Meskipun sopirnya sudah tua, saya putuskan untuk tetap berangkat dari Frankfurt menuju Leipzig dengan menggunakan mobil mercedes benz-nya yang juga sudah relatif tua.

Dengan interior mobil yang masih original buatan tahun 1987 itu, Kamipun mulai berjalan perlahan meninggalkan kota padat penuh dengan bangunan Bank dan industri yang merupakan simbol keuangan dan perekonomian bekas negara “Barbar” itu. Agar perjalanan serasa indah dan tidak membosankan saya mulai membayangkan istri dan anak-anak saya ikut duduk disamping saya. Lamunan saya buyar seketika, tatkala sang driver mulai bertanya sesuatu kepada saya.

Apakah anda tau kearah jalan mana agar bisa masuk ke *Autobahn ?

Autobahn adalah Jalan Tol berisi penuh dengan kendaraan-kendaraan berkecepatan tinggi yang menghubungkan semua kota-kota di negara Uni Eropa.

Nah loe,…

Pertanyaannya sederhana, tetapi menimbulkan sejuta keraguan “akankah perjalanan ini berakhir dengan indah?”. Keringat dinginpun mulai menetes membuat suasana semakin tak menentu tatkala saya tidak menemukan Alat GPS penunjuk arah perjalanan/Tomtom didalam mobilnya. Seketika itu saya langsung memanjatkan doa mudah2an lagunya rif “salah jurusan” tidak menyambangi saya.

Hanya ditemani oleh sang sopir dan beberapa lalat yang beterbangan di dalam mobil, kamipun berusaha mencari jalan untuk bisa masuk ke Autobahn. Tak lama kemudian, Lalat-lalat itu seketika hilang terbawa oleh angin berkecepatan tinggi yang berhembus melalui jendela kaca sang sopir yang sengaja ia buka saat kami sudah berhasil bergabung dengan kendaraan cepat lainnya di Autobahn menuju Leipzig.

Hal-hal aneh mulai saya rasakan dengan laju kendaraan itu. Tak seperti layaknya kendaraan yang berumur 24 tahun lainnya, mobil itu terlihat melaju sangat kencang bahkan nyaris bersaing dengan kendaraan muda lainnya. Saya pun terperanjat tatkala melihat jarum speedometer yang stabil berada dikisaran angka 140-160 Km/jam. Jok mobil yang masih original terbuat dari bahan tekstilBludru itu membuat posisi duduk saya mulai tidak nyaman.

Meskipun demikian, karena kelelahan yang sangadd ditambah dengan alunan musik khas jerman yang kadang diselingi dengan informasi tentang kemacetan lalu lintas-pun berhasil membuat saya sulit mempertahankan kesadaran. Seketika juga, sayapun terbawa masuk ke dalam dunia mimpi dengan posisi duduk menyandar di kursi belakang yang juga memiliki tingkat suspensi kepegasan diatas rata-rata Jok mobil lainnya.

Dengan keadaan tertidur lelap bersama seorang pengemudi yang umurnya sudah mendekati kisaran 70an, saya dibawa melaju kencang dengan mobil tuanya tanpa menggunakan alat penunjuk arah perjalanan. Arah perjalanan yang tidak jelas, jarak pandang yang sudah mulai menurun dan tingkat konsentrasi yang mungkin sudah tidak prima lagi adalah hal yang seyogyanya dihindari oleh setiap pengemudi yang akan bepergian jauh dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba saya terbangun oleh suara yang cukup keras mengganggu tidur saya. Dengan pandangan mata yang masih kabur, saya mendapati keempat kaca jendela di seluruh penjuru pintu mobil terbuka. Angin super kencang-pun masuk dari segala penjuru arah memporak-porandakan kami yang berada didalam. Keadaan kami didalam mobil seketika itu juga berubah menjadi hiruk pikuk…. 

bersambung….

Moh. Nanang HK adalah master student pada fakultas sportmedizin Universitas leipzig, dan atlet nasional cabor atletik 

 

 
1 Comment

Posted by on July 26, 2011 in Pengalaman

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.